
“Aku harus berpikir jernih, mungkin takdir sedang tidak berpihak padaku.”
~Zakira Elfia Algra~
🍁🍁
Pertemuan antara dua keluarga sudah terjadi, tanggal pertunangan pun sudah ditetapkan. Zanira tampak begitu bahagia, senyum manis mengembang sempurna. Seperti pagi ini, gadis itu bangun lebih awal. Mencari bahan-bahan di kulkas, dia akan memasak untuk sarapan.
Zakira yang baru saja turun, terkejut melihat adiknya sudah berada di dapur. Padahal ini baru jam setengah enam.
“Mau masak apa, Dek?” tanya Zakira sambil memperhatikan adiknya.
“Yang sehat pokoknya, deh,” jawab gadis itu.
“Oh, oke.” Zakira memilih menghampiri kulkas, mengambil minum di sana.
“Kakak bantu apa, nih?”
“Mending Kakak mandi, setelah itu baru turun untuk sarapan. Pagi ini, biar aku yang menguasai dapur,” ujar Zanira.
“Ya, sudah, tapi nggak apa, kan?”
“Nggak.”
Zakira menurut saja, pergi ke kamar untuk membersihkan diri. Saat dirinya sudah berada di depan cermin dengan pakaian rapi, Zakira memandang pantulan dirinya sendiri. Lalu dia berputar, seketika helaan napas Zakira terdengar.
“Yuk, semangat, yuk.” Zakira menyemangati dirinya sendiri sambil terus mengulas senyum.
Liptin sudah menempel tipis pada bibir mungil Zakira, setelahnya gadis itu memilih turun. Menemui keluarganya dan sarapan bersama.
“Nira berangkatnya agak siangan nggak apa, kan, Kak?”
“Nggak papa, Dek. Kok, pake izin segala.” Zakira tertawa kecil.
“Kalau begitu Kak Kira pergi sama Aaron aja,” tawar Aaron.
“Nggak mau. Kamu bawa motornya kenceng-kenceng,” celetuk Zakira.
Seketika ayah dan bunda melotot, sedangkan Aaron hanya bisa cengengesan sambil mengangkat dua jari tangan kanannya.
Zakira pamit lebih dulu setelah sarapannya habis, gadis itu meminta sopir untuk mengantar ke butik.
**
__ADS_1
Di kediaman keluarga Pandu, sepasang suami istri dan satu anak sedang menikmati sarapan bersama. Kali ini Mina tidak buru-buru pergi karena masakan mamahnya sangat enak, dia saja sampai menambah-nambah.
“Mamah dengar, katanya Zanira mau tunangan. Emang benar?” tanya mamah Vera ketika Mina mengelap bibirnya menggunakan tisu.
Mina mengedikkan bahu. “Katanya. Mamah tau dari mana?” tanya balik gadis itu.
“Kemarin Nenek telepon, terus kasih tahu Mamah.”
“Oh.”
“Cuma begitu tanggapan kamu?”
“Terus harus gimana Mamahku Sayang?”
Mamah Vera mencebikkan bibirnya kesal, sedangkan papah Pandu hanya mampu mengusap lengan mamah. Melihat itu, Mina ingin tertawa saja, mamahnya seperti bocah.
“Karamina Alesya!” pekik mamah merasa kesal karena putrinya malah meledek.
“Ya, Mah? Kenapa? Kenapa?”
Huff. Sepertinya mamah Vera harus menambah stok kesabarannya untuk menghadapi seorang Karamina Alesya—gadis keras kepala plus bar-bar seperti dirinya dulu.
“Mamah juga pengen punya calon menantu. Kapan dikenalin.”
“Hah! Gimana, Mah? Calon menantu?”
Mina semakin tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
“Aku? Menikah? Dih, ogah. Ribet!” seru gadis itu masih terus tertawa.
Seketika papah Pandu dan mamah Vera sama-sama menepuk jidat. “Mina!!”
“Ampun, suhu! Dadah Mamah, Papah. Sampai jumpa sore nanti!”
Mina berlari meninggalkan ruang makan.
“Anak kamu, tuh, Pah,” cetus mamah.
“Anak Mamah juga,” sahut papah Pandu.
🌸🌸
Jam makan siang tiba, Zakira baru kembali dari restoran. Gadis itu membawa dua kresek besar makanan untuk dibagi ke karyawan lainnya. Setelah itu dia membawa tiga kotak lainnya ke ruangannya.
__ADS_1
“Dek, Mina, makan dulu.” Zakira memberikan kotak makanan pada keduanya.
“Makasih Kakakku yang baik hati,” ucap Zanira.
Saat ketiganya masih menikmati makan siang, pintu ruangan terbuka. Arfan berdiri di ambang pintu, menatap satu persatu temannya itu. Namun, lama dia menatap Zakira, membuat sang empu langsung membuang wajah ke samping.
“Masuk, Fan. Ngapain di pintu, kaya’, gitu,” suruh Mina.
“Nggak usah. Aku cuma mau izin bawa Zanira pergi,” ujar Arfan.
Mina mengernyitkan dahinya sedangkan Zanira tersenyum malu-malu. Zakira sendiri menganggukkan kepala kecil saat Arfan menatapnya kembali dan tidak sengaja mata mereka bertemu.
“Mau bawa ke mana? Awas aja kalo lo macam-macam.” Mina menunjukkan kepalan tangannya.
“Mamah suruh bawa Zanira ke rumah, katanya mau ketemu.”
Gadis yang terkenal bar-bar itu hanya ber’oh’ ria saja, sedangkan Zanira mengambil tas di meja. Dia menghampiri Zakira, menyalami tangan kakaknya.
“Hati-hati di jalan, ya, Dek. Nanti langsung pulang ke rumah aja,” pesan Zakira. Zanira mengangguk patuh.
Selepas kepergian Arfan dan Zanira, Mina menggeser duduknya jadi mendekat pada Zakira. Jarinya menoel-noel lengan Zakira, membuat sang empu bingung.
“Kenapa?” tanya Zakira.
“Mereka benaran mau tunangan?”
“Iya.”
“Jadi, Bunda dan Mamah Arfan benaran jodohin mereka?” tanya Mina lagi karena tidak percaya.
“Iya, Karamina Alesya,” jawab Zakira kesal.
“Gila! Memangnya zaman sekarang masih ada perjodohan macam itu? Itu zaman Siti Nurbaya banget, loh.”
“Ya, kalau anaknya nggak punya calon, pasti orang tuanya yang turun tangan. Nanti kamu juga pasti gitu,” ujar Zakira. Bersikap setenang mungkin padahal hatinya sedang tidak baik-baik saja.
“Gue? Ah, ogah!”
“Mana bisa gitu. Apalagi kamu anak satu-satunya, harapan Mamahmu buat punya cucu.”
“Nggak! Gue ogah nikah!” teriak Mina, sok frustrasi.
Zakira terkekeh kecil, setelahnya dia kembali menunduk. Mencoba menekuni pola-pola baju yang akan dia gambar.
__ADS_1