
Delapan bulan kemudian.
“Mana, sih, tamunya, Tante? Kok, lama banget?” keluh Vera merasa bosan menunggu tamu yang tantenya bilang.
“Sabar, Sayang. Mungkin sebentar lagi datang. Kaya’nya kamu udah nggak sabar banget,” goda Hamidah. Vera mencebik kesal.
Tante Hamidah bilang, ada seorang pria yang datang padanya untuk meminta Vera menjadi bagian dalam hidupnya. Tante Hamidah tidak bisa menerima begitu saja, makanya meminta pria itu datang lagi dan bicara langsung pada Vera.
Sudah hampir lima belas menit mereka menunggu, tetapi pria itu juga tak kunjung datang. Vera tampak frustrasi tetapi Tante Hamidah menggenggam tangannya demi menenangkan hatinya.
Mendengar deru mobil berhenti tepat di depan rumah, membuat jantung Vera mendadak berdebar cepat. Gadis itu menghembuskan napas berulang kali, demi menghalau rasa gugup yang mulai melanda.
“Permisi.” Suara perempuan, membuyarkan lamunan keduanya.
Vera terkejut, menatap Hamidah meminta penjelasan.
“Calon ibu mertua,” ucap Tante Hamidah.
Vera melotot. “Maksudnya, Mas Pandu ....”
“Iya, Pandu yang memintamu pada Tante.”
Seketika napasnya tercekat, apalagi ketika mendengar deheman dari seseorang yang baru masuk. Pandu tersenyum manis, berjalan menghampiri Vera.
“Di depan wanita yang sangat berharga untuk kita, dan di depan ayah hebat yang selalu menuntunku. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.
Jujur, aku merasa kerdil sekarang. Pria brengsek yang berani menyatakan cintanya pada wanita sempurna, aku malu. Namun, segala rasa yang terpendam, ada baiknya disampaikan agar hati tak lagi gelisah.”
Vera, perempuan mandiri yang sudah membuatku terpesona. Malam ini, disaksikan oleh orang-orang teristimewa. Aku ingin melamarmu, menjadikan dirimu pendamping hidupku, ibu dari anak-anakku kelak. Dan dengan disaksikan oleh Tuhan, aku meminta jawabanmu. Ambil bunga ini, jika kamu menerimanya.” Pandu menyodorkan sebuket bunga mawar ke hadapan Vera.
Gadis itu bungkam, tetapi matanya berkaca-kaca. Jujur saja bibirnya terasa keluh, hatinya berdebar-debar dengan hebatnya. Vera mendadak menjadi seperti orang linglung.
“Pikirkan baik-baik, Nak. Jangan menerimanya karena terpaksa,” ujar bunda Pandu.
__ADS_1
Vera menghembuskan napas pelan, lalu tangannya bergerak menyentuh buket itu. Jemari lentiknya, menarik pelan dari tangan Pandu.
“Tidak ada alasan untuk aku menolak, jika Tuhan datangkan laki-laki sempurna seperti Mas Pandu. Aku menerima lamaran ini.”
Pandu langsung berdiri, berhambur memeluk Vera dengan erat.
**
Keluarga Daren sedang berlibur ke Bali, menikmati keindahan pantai di sana. Dua baby Z sangat gembira, bermain pasir bersama Dera dan Daren.
“Pintarnya anak Bunda,” puji Dera saat Zakira memberinya pasir yang sudah dimasukkan ke dalam wadah.
“Iya, pintar-pintar banget anak Ayah dan Bunda, nih.”
Dengan gemas Daren mencubit pipi kedua putrinya, membuat Dera cemberut dan langsung menepis tangan besar itu.
“Nanti sakit. Nggak boleh cubit lagi,” larang Dera. Daren terkikik.
“Iya, Bunda pocecip,” cibir Daren disertai tawa. Dera semakin geram dibuatnya.
Setelah sekian lama, akhirnya Daren bersyukur bisa pergi berlibur dengan keluarga kecilnya. Dulu dirinya dan Dera belum sempat, mengingat hubungan keduanya tidak terlalu dekat selepas menikah terpaksa itu. Namun, sekarang dia sangat-sangat bersyukur, Tuhan memberinya istri sempurna seperti Dera.
“Hayo... Ayah melamun apa, nih? Jangan-jangan perempuan yang pakai bikini itu,” kata Dera disertai cebikan bibir.
“Nggak, Sayang. Kamu lebih menggoda, kenapa harus mereka.” Daren memeluk Dera dan mengecup kening istrinya.
“Gombal.”
“Lah, Mas serius. Tidak ada yang bisa mengalihkan dunia Mas dari kamu. Karena kamu, titik henti bagi Mas.”
Dera menunduk malu-malu, membuat Daren semakin gemas. Pria itu langsung mencubit kecil pipi Dera, lalu melayangkan kecupan manis di sana. Duo baby Z yang melihatnya, langsung tertawa mengejek kemesraan kedua orang tuanya itu.
“Anak Ayah cemburu. Sini, sini, Ayah cium juga,” ucap Daren.
__ADS_1
Setelah puas bermain di pantai, mereka kembali ke hotel. Dua baby Z juga sudah menguap. Benar, saat diASIhi mereka langsung tertidur.
Kini tinggal Daren dan Dera. Mamah muda itu menghampiri suaminya, memeluk dari belakang dan meletakkan kepalanya di punggung sang suami.
“I love you, Mas,” bisik Dera.
“I love you too, Sayang.”
Daren membalikkan badan, memeluk Dera dengan erat. Berulang kali pria itu mengecupi kening istrinya.
“Terima kasih sudah hadir di dalam hidup, Mas. Kamu dan baby-baby Z, adalah segalanya buat Mas. Jangan berniat untuk pergi Sayang, sampai Tuhan sendiri yang meminta kita untuk pergi.”
“Aku bahagia, Mas. Kamu pria baik, kamu segalanya, aku bersyukur pada Tuhan. Karena Dia telah baik memberikan pria yang mencintaiku dan menyayangiku dengan setulus hati.
Apa pun masalah rumah tangga kita nanti, aku berharap kamu tidak akan pernah berubah. Tetap menjadi Mas Daren yang sangat perhatian, dan penuh kasih sayang.”
“Mas tidak akan pernah berubah, Sayang. Tidak akan. Karena Mas sangat mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu, suamiku. Terima kasih untuk setiap detik, menit, dan jam bersama denganku dan anak-anak.”
Tamat
Terima kasih buat teman-teman yang sudah dengan kerendahan hati membaca karya ini. Saya sangat berterima kasih pada kalian semua.
Cerita ini sudah tamat dengan happy ending, seperti apa yang sudah othor tentukan sejak awal.
Saya ingin meminta maaf bila ada kata-kata atau kesamaan nama, tempat, dll. Sungguh, itu diluar perkiraan saya.
Bila berkenan, mari mampir di karya baru othor. Menuju Jannah Bersamamu karya Bae Lla.
__ADS_1
Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh pembaca setia Daren dan Dera. Selamat beristirahat, dan sampai jumpa di novel baru saya.