Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Season 2: 22


__ADS_3

Happy reading, guys ☺️


Setelah memastikan Zakira tidur pulas, barulah Alden beranjak. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Zakira, setelah itu barulah keluar dari kamar.


Baru berbalik setelah menutup pintu, Alden sudah dikagetkan dengan kedatangan ibunya. Wanita paruh baya itu menatap cemas sang putra, membuat Alden bingung.


“Kenapa, Mah?” tanya Alden sembari mengusap lengan ibunya.


“Zakira tidur?” Sang ibu bertanya balik. Alden mengangguk sebagai jawaban.


“Kalau begitu ayo ikut Mamah ke kamar Mamah,” sambung ibu.


“Ya sudah, ayo.”


Ibu dan anak berjalan beriringan menuruni anak tangga. Alden terus memegang lengan ibunya, karena merasa situasi belum stabil. Wajah sang ibu semakin terlihat sangat cemas. Sampai di kamar, ibu langsung meminta Alden buat duduk di kasur, pria itu menurut saja.


“Tadi Papah kamu datang.” Ibu buka suara.


“Iya, Mah. Alden tau,” jawab Alden.


“Kamu ...?”


“Sempat mendengar perdebatan Mamah dan laki-laki itu juga. Tapi, aku langsung pergi lagi karena ada Zakira. Aku nggak mau dia merasa terbebani dengan masalah kita,” ujar Alden. Kepalanya tertunduk dengan kaki saling bergoyang di bawah.


Menghembuskan napas kasar, ibu memeluk Alden dari samping. Wanita yang sudah melahirkan serta mengasihinya itu, meneteskan air mata. Ibu terlalu lelah berada di samping Alden, tetapi tidak bisa melindungi putranya dengan baik.


“Maafkan Mamah, Sayang ...,” lirih ibu.

__ADS_1


“Mamah nggak perlu minta maaf, ini bukan kesalahan Mamah. Alden tidak akan pernah menuruti keinginan laki-laki itu,” ucap Alden.


“Jangan pernah, Sayang. Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab dengan satu wanita.”


Alden mengangguk, lalu mengusap pipi ibu dengan ibu jarinya. “Mamah jangan khawatir. Alden bukan seperti laki-laki itu, yang hanya ingin memanfaatkan Mamah,” ujar Alden.


Setelah meyakinkan ibu, Alden pamit untuk kembali ke kamar. Pria itu duduk di tepi kasur, menatap wajah damai Zakira yang sedang tertidur. Ada kelegaan yang Alden rasakan, meski hanya menatap Zakira saja.


Drtt


Ponselnya bergetar, Alden langsung beranjak mencari benda pipih itu. Saat melihat siapa yang menelepon, ternyata laki-laki yang beberapa tahun lalu menjadi ayahnya. Dia biarkan saja sampai mati, tetapi setelah itu pesan masuk dari nomor yang sama.


[Datang ke rumah papah. Ada yang ingin papah bicarakan.]


Alden membanting ponselnya di kasur, meraup wajah dengan kedua tangan demi menghalau rasa kesal. Dia lelah.


Dia mendekati wanita itu, mengusap pelan rambut sang istri, lalu mengecup singkat tepat di kening.


“Aku pergi sebentar, ya,” bisik Alden tepat di telinga Zakira.


Lalu pria itu pergi ke ruang ganti, mengambil jaket dan kunci motor. Sebelum benar-benar meninggalkan kamar, Alden kembali mengecup kening Zakira, kali ini cukup lama. Tidak tega meninggalkan, tetapi Alden harus tetap pergi.


🌺🌺


Saat nyawa sudah terkumpul sempurna, Zakira langsung melihat sekitar. Seketika dia ingat sedang berada di mana, langsung bangun dan berlari ke kamar mandi.


“Astaga, bisa-bisanya aku tidur terlalu lama,” ujar Zakira sembari mengusap wajahnya menggunakan handuk.

__ADS_1


Dia memang tipe gadis yang selalu panikan, takut akan hal yang dia lakukan membuat orang lain tidak nyaman. Zakira merasa malu dengan ibu Alden, karena tidak membantu wanita itu di dapur.


“Maaf, Mah. Zakira ketiduran,” cicit Zakira.


“Ya ampun, Sayang. Tidak apa, Mamah memang sengaja tidak bangunin kamu, karena tahu kamu pasti lelah,” ucap ibu sambil mengusap punggung tangan Zakira.


Akhirnya Zakira bisa bernapas lega. Meski begitu, dia tetap membantu apa yang belum diselesaikan. Saat semua sudah selesai, Zakira baru sadar, ternyata Alden tidak terlihat sama sekali.


“Alden mana, Mah?” tanya Zakira sambil celingukan.


“Oh, itu tadi dia katanya pergi buat ketemu temennya,” jawab ibu.


“Oh, gitu, ya. Oke, deh.”


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2