Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 62. Selalu Rindu


__ADS_3

Suasana cukup riuh di dalam supermarket. Meski siang, tetapi banyak sekali orang yang belanja di sana. Troli berisi belanjaan terus melaju di lorong bagian bahan dapur. Gadis yang mendorongnya berhenti ketika menemukan apa yang akan dia beli.


“Akhirnya!”


“Dapat!”


Dua tangan saling menggenggam. Tatapan keduanya langsung menyatu, melotot tak percaya. Vera langsung melepaskan tangannya lebih dulu, disusul Pandu yang juga melepaskan dari barang di rak.


Dua manusia berbeda genre itu, saling berdehem demi menghilangkan kikuk yang merajai. Vera pura-pura merapikan rambutnya yang sudah rapi.


“Hemm. Kamu mau beli itu?” tanya Pandu sambil melirik keju di rak.


“Iy-iya, Mas,” cicit Vera.


Pandu segera mengambil dua kotak keju, satu dia berikan pada Vera dan satu lagi dia taruh di trolinya.


“Satu aja, kan? Tuh, udah aku kasih,” kata Pandu.


“Iya. Makasih, ya, Mas.”


“Sama-sama.”


Gadis yang biasanya langsung nyerocos, kini diam dengan pandangan mengarah ke lantai. Degup jantung Vera masih terasa cepat, rasa gugup pun masih merajai dirinya.


“Kamu sendirian aja? Ibu Hamidah mana?” Pandu akhirnya inisiatif buat ngajak ngobrol duluan. Meski dia pun juga sama gugupnya dengan Vera.


“Tante di rumah. Aku sengaja tidak mengajak karena kasihan,” jawab Vera. Barulah dia bisa santai.


Lalu mereka sama-sama berjalan sambil mendorong troli. Pandu mengikuti kemana pun Vera pergi, sambil sesekali melempar tanya.


“Mas sendirian juga?” tanya Vera ketika mereka berhenti di rak Snack.


“Nggak. Aku sama Bunda.”


“Oh.” Vera ber’oh’ ria saja. “Terus sekarang Bunda di mana?”


“Cari sayur tadi.”


“Oh, gitu.”


“Iya. Kamu ‘oh’ terus dari tadi,” kesal Pandu.

__ADS_1


Dera terkekeh. Hari ini dia memang jarang berbicara, menjawab pun seperlunya saja.


“Aku sakit gigi, Mas. Males mau ngomong,” lirih Vera.


“Udah diperiksa?”


“Udah. Udah minum obat juga. Tapi entah sakit lagi.”


“Mungkin kamu makan larangannya. Lain kali, makan juga harus dijaga. Apalagi kamu suka cokelat, iya, kan? Jangan dikonsumsi lagi. Kurangi,” cerocos Pandu panjang lebar, membuat Vera melongo.


Dia menatap bingung pada Pandu, merasa heran karena pria itu tahu makanan kesukaannya. Pandu yang dipandang begitu, mengalihkan pandangannya cepat dengan wajah kikuk.


“Itu ... dulu Dera pernah bilang. Kalau kamu suka cokelat,” ujar Pandu cepat.


“Oh, gitu. Oke-oke,” balas Vera.


“Aku juga tahu kalau kamu suk—“


“Pandu, sudah? Ayo ke kasir.” Fina memotong ucapan Pandu sambil membawa keranjang sayur dan buah.


“Eh, ada Vera. Apa kabar, Nak?”


“Baik, Tante.” Vera langsung menyalami Fina. Dia tersenyum manis membalas senyuman Fina.


“Tante kangen banget sama kamu loh. Sudah lama kita nggak jumpa,” papar Fina.


“Iya, Tante. Vera juga kangen,” balas gadis itu menampilkan senyum manis.


“Gimana kuliah kamu? Sudah mau lulus, kan, ya?”


“Empat bulan lagi, Tan. Doain aku lulus dengan IPK tinggi, ya.” Vera tertawa kecil.


“Pasti, dong. Tante bakalan selalu doain kamu.” Fina mencubit gemas pipi Vera.


Lalu keduanya sama-sama tertawa seraya berjalan menghampiri kasir. Sedangkan di belakang mereka, ada seseorang yang terus mendumal kesal karena tidak dipedulikan.


“Harus ikhlas, Sayang. Jangan ngoceh terus,” tegur Fina yang langsung mendapat tawa dari Vera.


Pandu semakin mendengkus sebal, bibirnya sudah maju lima senti.


**

__ADS_1


Pukul 15.30 Daren sudah berada di rumah. Dia memang sengaja pulang cepat karena ingin mengajak Dera ke suatu tempat. Ketika masuk ke dalam kamar, dia melihat istrinya itu tengah menonton video di ponsel. Sampai tidak menyadari keberadaannya.


“Rindu, Sayang.” Daren mendekap erat tubuh Dera dari belakang. Yang langsung dibalas dorongan oleh wanita itu.


“Mandi dulu sana! Bau, tauk!” protes Dera.


“Hahaha. Baiklah, Sayang. Mas mandi dulu, ya.” Daren beranjak masuk ke dalam kamar mandi.


Selesai mandi dan berganti pakaian. Daren kembali menghampiri istrinya. Dia peluk erat-erat tubuh berisi itu, menciumi gemas pipi tembam istrinya.


“Mas geli, ih.”


“Rindu banget, tauk.” Daren terus mengecup pipi Dera, lalu beralih ke lehernya.


“Berhenti, Mas.”


“Nggak mau.”


“Mas!”


“Iya, Sayang?”


“Geser sana, jauhan.”


“Nanti rindu.”


“Sebentar aja. Sana!”


“Gak mau.”


“Mas, ih. Buruan!”


“Udah lengket, nggak bisa pindah tempat.”


Dera mencebik kesal. Dia langsung bangkit dan pergi begitu saja.


“Sayang, ih. Tanggung, nih!” teriak Pandu frustrasi.


“Bodo! Pokoknya malam ini Mas jangan tidur sama aku! Ngerih. Tukang gigit!”


 **

__ADS_1


Jangan lupa kayak biasa ya, guys. like, komen, vote dan hadiah. Hehe.


__ADS_2