
“Buk Bos, ada tamu.”
“Siapa, Zen?” tanya Zakira bingung. Dia segera menghentikan aktivitasnya, seraya berjalan menghampiri pegawai.
“Itu, Buk, Pak Arfan,” ucap pegawai itu lagi.
Zakira mendesah lelah, lalu mengangguk. Dia mempersilahkan pegawai perempuan tadi, untuk kembali bekerja. Sebelum keluar menemui Arfan, Zakira lebih dulu meneguk kopi terakhir.
“Tenang, Kir, tenang. Kamu akan baik-baik saja. Iya.” Zakira terus menyemangati dirinya sendiri.
Saat dia berjalan ke arah pintu keluar, sudah terlihat sosok Arfan lewat pintu yang terbuat dari kaca. Zakira menghentikan langkahnya, memejamkan mata dan kembali menghirup udara dengan rakus.
Ketika pintu terbuka, Arfan menoleh. Pria itu tersenyum, manis sekali. Zakira menggeleng pelan, menepis perasaan yang kembali hadir.
“Kamu sibuk?” tanya Arfan.
Zakira diam. Tidak lama karena setelahnya dia langsung menjawab, “Sudah jelas karena ini jam kerja.”
“Ah, iya. Aku lupa.”
“Ada perlu apa? Langsung saja,” tanya Zakira.
“Apa tidak sebaiknya kita mencari tempat yang nyaman? Agar ngobrolnya juga tenang,” ujar Arfan.
Sontak Zakira menggeleng berulang kali. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran Arfan. Apakah pria itu tidak sadar, dia sudah mempunyai istri, adik kandung Zakira malah.
Huff....
“Kamu sudah tidak waras? Jangan membuat masalah. Kalau mau bicara, ya, sudah bicara saja.” Zakira menatap malas sekitar.
“Tentang perasaanmu. Kenapa tidak bilang sejak awal?”
__ADS_1
“Perasaanku? Itu urusanku, tolong jangan ikut campur.”
“Bukan begitu, Kira. Hanya saja, aku menyesal.”
“Kamu menyesal menikahi adikku? Jawab Arfan!” sentak Zakira. Sudah cukup dia diam saja selama ini.
“Aku cintanya sama kamu, Kir. Bukan Zanira atau wanita lain. Aku maunya cuma sama kamu, tapi semua orang tidak mengerti!” bentak Arfan.
Suasana mendadak mencekam, angin yang sempat berembus kenyang, seolah lenyap begitu saja. Zakira masih diposisinya, bungkam tanpa tahu harus menjawab apa. Mulutnya terasa keluh, hatinya berdenyut sakit mendengar pernyataan ini.
“Selama ini, aku cuma cinta sama kamu. Hanya kamu,” lirih Arfan sambil menundukkan kepala.
“Tapi kenapa, kenapa kamu mau menikah dengan Zanira?” Akhirnya Zakira buka suara.
“Aku nggak bisa berbuat apa-apa. Mamah terus ngancam aku, dengan tidak memberikan sepeserpun warisan,” ungkap Arfan.
Zakira tertawa kecil. Sungguh malang nasib adiknya, dinikahi karena terpaksa demi warisan. Mungkin bagi sebagian orang, warisan sangat penting. Tapi bagi Zakira, kebahagiaan dirinya lebih penting.
“Kamu tau aku nggak cinta Zanira.”
“Cinta datang karena terpaksa. Mungkin belum hari ini, tapi tidak tahu esok atau seterusnya.”
Arfan tidak mampu berkata-kata, bahkan dia merelakan Zakira pergi begitu saja tanpa mau mencegah. Bahu Arfan melemah, menyesal dengan segala tindakan yang dia ambil.
“Jangan menyia-nyiakan orang yang setia padamu. Belum tentu, orang baru bisa seperti dia.”
Arfan ingat, sangat ingat kata-kata itu. Kata-kata yang keluar dari mulut seorang gadis cantik. Zakira namanya.
🌾🌾
“Aku tadi ke kantor kamu, tapi kamu nggak ada. Kamu ke mana, Fan?” tanya Zakira setelah Arfan memasuki kamar.
__ADS_1
“Ada urusan,” jawab Arfan singkat.
“Urusan apa? Kantor? Kok, nggak bilang sama aku?” Zanira kembali mencerca Arfan.
“Kamu bisa diam? Aku lelah. Tolong jangan banyak bicara.”
Arfan langsung pergi meninggalkan Zanira. Pria itu butuh air untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya. Bayang-bayang wajah Zakira, masih terus berputar di kepalanya. Arfan frustrasi.
“Bisakah Kau putar waktu, Tuhan? Aku ingin kembali ke masa dulu.”
**
Maaf. saya tidak bisa update setiap hari, apalagi banyak kata.
__ADS_1