
Seperti ucapan Dera pagi tadi, siang ini dia pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ayah Pandu. Setelah mendapat alamat dari Daren, Dera langsung meminta sopir untuk mengantarnya.
Karena mungkin saat ini adalah jam istirahat, jalanan tidak terlalu padat. Memudahkan mobilnya bergerak untuk segera sampai ke tempat tujuan.
Saat akan keluar dari mobil, Dera menghela napas lebih dulu. Gugup rasanya, karena akan bertemu kembali dengan mantan calon mertua yang sekarang jadi kakak ipar. Dera mengeratkan genggaman pada pastel buah, sembari melangkah meninggalkan halaman rumah sakit.
Setelah mengucap ‘terima kasih’ pada resepsionis, Dera beranjak untuk mencari ruangan pasien. Tidak sampai lima menit, dia akhirnya menemukan ruangan tempat ayah Pandu berada. Dan lebih kesalnya, ternyata di sana ada Jilia yang juga tengah berkunjung.
“Permisi,” ucap Dera dengan sopan.
“Eh, ada Dera. Ayo masuk, Sayang,” pinta Fina. Dera mengangguk dan segera masuk.
Tatapan sinis dari Jilia tergambar sempurna. Dera diam saja, dia memang enggan membalas wanita itu. Dari pada lelah untuk hal tidak penting, lebih baik Dera membantu Fina mengupas buah.
“Bagaimana keadaan ayah Pandu, Bun?” tanya Dera. Jujur dia gugup berada di posisi seperti ini.
“Sudah lebih baik, Sayang. Besok ayah Pandu sudah boleh pulang,” kata Fina.
“Oh, ya? Baguslah.”
“Kamu jangan sungkan buat panggil Bunda dengan sebutan ‘kakak’. Dan juga, panggil ayah Pandu dengan sebutan ‘abang’ seperti yang Daren lakukan,” ujar Fina.
Dera mengangguk kecil. “Baik, Kak.”
Lalu obrolan keduanya berlanjut ke hal-hal ringan, sampai Dera pamit untuk pulang karena sudah hampir tiga jam berada di sana. Ketika Dera beranjak, Jilia pun sama. Keduanya sama-sama pamit untuk pulang.
“Gimana keadaan rumah tangga kamu?” Basa-basi Jilia bertanya. Dera mengerutkan dahi, bingung.
“Maaf. Kenapa bertanya soal privasi?” tanya Dera balik.
“Ck. Benar kataku, kan? Kamu dan Daren pasti tidak saling mencintai, makanya kamu nggak mau jujur soal rumah tangga kalian.”
__ADS_1
“Sekalipun kami tidak saling mencintai, itu bukan urusan kamu! Jadi, sebaiknya kamu urus saja urusanmu,” geram Dera. Dia berlalu dari hadapan Jilia.
Sudah mantan, tetapi Jilia sok ingin mengurusi hidup mantan suaminya. Dera heran melihat wanita itu, sepertinya urat malu Jilia memang sudah putus. Dia yang selingkuh, dia pula yang mendekati Daren lagi. Memang seperti tidak ada hal menyakitkan yang dia lakukan.
Mood Dera berubah karena pertemuannya dan terlibat bicara dengan Jilia, gadis itu berniat untuk mampir sebentar di supermarket. Dia butuh banyak jajanan untuk mengembalikan moodnya.
“Berhenti di supermarket, ya, Pak,” pinta Dera yang langsung mendapat anggukan dari sopir pribadi Daren.
Gegas Dera masuk ke dalam supermarket itu, dia langsung menuju tempat jajan. Mengambil apa yang dia mau, Dera memborong banyak makanan. Kebiasaannya ketika sedang datang bulan atau mood hancur karena sesuatu.
**
Pukul 00.00 malam Daren baru sampai di rumah, dia langsung menuju kamar untuk membersihkan diri. Saat membuka pintu, betapa terkejutnya Daren ketika melihat bungkus jajan berserak di lantai. Bahkan, dia mendapati Dera tertidur pulas di karpet.
Pria itu hanya menggelengkan kepala, lalu menaruh tas kerja di kasur. Daren menggulung lengan baju sebatas siku, mengambil semua bungkus jajan dan membuangnya ke tong sampah. Dia juga menyapu lantai yang terdapat banyak remahan makanan Dera.
Kini Daren beralih ke istrinya, dia bopong tubuh ideal itu untuk dipindahkan ke kasur. Namun, belum sempat diturunkan, Dera malah terbangun.
“Kamu ketiduran di karpet, aku berniat memindahkanmu,” potong Daren.
“Emm, makasih. Turunin aku.”
Daren menurunkan Dera. Gadis itu tampak mengucek matanya perlahan, lalu menatap lantai kamar yang sudah bersih.
“Maaf sudah ngerepotin Om. Lain kali Dera akan membersihkannya sebelum tidur,” ucap Dera. Dia merasa tidak enak dengan Daren.
“Enggak masalah.”
Keadaan kembali hening. Daren dan Dera masih berada di posisi mereka, keduanya saling pandang lalu membuang wajah ke arah berlawanan. Daren berdehem, lalu pamit untuk membersihkan diri.
“Astaga, bisa-bisanya aku lupa beresin bekas jajan,” gerutu Dera sambil memukul kepalanya sendiri.
__ADS_1
**
“Kalau Om ngantuk, tidur aja. Aku berani, kok, nonton TV sendirian,” ucap Dera.
“Nggak. Aku belum mengantuk,” jawab Daren.
Mereka kini berada di sofa kamar, menonton acara di TV bersama-sama. Awalnya berita, tetapi Dera langsung menukar dengan sinetron romantis.
Kecanggungan yang terjadi di antara mereka, membuat Dera terusan menghela napas. Dia yang hobi berbicara, sekarang bungkam karena dihadapkan dengan sosok Daren.
“Kamu sudah makan?” tanya Daren.
“Sudah Om.”
“Oh.”
“Iya.”
Kembali hening. Dera terus mengubah posisi duduknya karena merasa tak nyaman. Detik berikutnya, dia terkejut ketika Daren menjatuhkan kepalanya di pangkuan gadis itu.
“Bolehkan, aku tidur di pangkuanmu?”
“Hmm, iya, boleh.”
Mata Daren mulai terpejam, dia merasa nyaman berada di dekat Dera. Apalagi, ketika jemari lentik istrinya menyusup masuk ke dalam rambut dan memberikan usapan kembut di sana.
Bisakah waktu berhenti?
**
Apa, sih, yang nggak buat Om? Hahaha😅
__ADS_1