Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 43. Makhluk Astral


__ADS_3

Trimester pertama, hari-hari Dera dipenuhi dengan ngidam-ngidam yang super duper bikin Daren pusing tujuh keliling. Namun, dia tidak pernah mengeluh meskipun hatinya sering menggerutu.


Usia kandungan Dera sudah memasuki satu bulan, badannya sudah kelihatan berisi yang semakin membuat wanita itu seksi. Kerap kali Daren menggoda dengan berkata ‘kamu cantik, seksi lagi’ yang seketika membuat si empu mengamuk.


“Mas.” Dera bergelayut manja di lengan Daren yang sedang duduk dengan tubuh menyandar pada kepala ranjang.


Hari ini pria itu memang tidak bekerja karena weekend, jadi bisa menghabiskan waktu seharian dengan Dera di rumah. Apalagi semenjak hamil istrinya begitu manja dan tidak mau ditinggal.


“Iya, Sayang?”


“Befan, kok, lama banget beli rambutannya, sih?” tanya Dera dengan bibir yang sudah maju lima senti.


“Sabar, ya. Siapa tahu macet,” jawab Daren. Mengusap lembut kedua pipi Dera.


“Ish, tapi udah setengah jam, loh. Atau jangan-jangan dia kabur lagi!” omel Dera.


“Hush, nggak boleh suuzon!”


“Iya, iya.”


Dera kembali membaringkan tubuhnya di sebelah Daren, dengan sigap dia memeluk erat pinggang itu. Sesekali tangannya mengusap perut Daren, membuat si pemilik menggerutu kesal.


“Jangan, Yang! Kalau kamu elus yang itu, ntar yang lain bangun,” cegah Daren.


“Aneh, Mas.”


“Lah, kamu yang aneh. Kalau udah on aja, nggak mau tanggung jawab,” gerutu Daren.


“Apa, sih? Kok, bahas tanggung jawab? Makin aneh, deh.”


Daren hanya bisa menghembuskan napas kasar mendengar omelan istrinya. Dia pun membiarkan saja jari-jari nakal itu di perutnya.


“Dera. Ada Nak Befan, nih,” teriak ibu dari luar. Dengan secepat kilat Dera sudah turun dan melesat keluar.

__ADS_1


“Sayang jangan lari-lari!” peringat Daren. Dia sungguh cemas dengan kandungan Dera.


**


“Enak banget rambutannya, aku suka,” kata Dera dengan wajah ceria. Dia terus memakan buah rambutan yang tadi Befan beli.


Sedangkan Befan hanya bisa melongo melihat istri sang bos yang begitu rakus. Dia sempat bertanya-tanya, apakah dulu ibunya juga begitu ketika hamil dia?


Alasan mengapa Befan bisa ada di rumah orang tua Dera, karena wanita itu yang meminta. Katanya dia mengidam ingin melihat wajah tampan Befan, mau tidak mau Daren pun menelepon dan meminta sang sekretaris untuk datang. Meski sebenarnya Daren sangat dongkol dengan ngidam yang satu ini.


“Itu limited edition, Nyonya,” celetuk Befan.


“Wah, pantes manis, kaya’, kamu.” Dera mengedipkan sebelah matanya membuat Daren frustrasi.


“Hehehe.”


Sungguh ini adalah pemandangan paling menyebalkan bagi Daren. Dirinya seperti tak dianggap, Dera selalu saja melirik Befan sambil sesekali melempar godaan pada pria itu. Sedangkan dia? Jangankan diajak bicara, dilirik saja tidak.


“Hay semua!” sapa Vera dengan senyum mengembang.


“Ngapain kamu pulang? Harusnya tidur aja di kampus,” cibir Dera sambil masih mengunyah rambutan.


“Buset, tega bener kamu. Entar kalau aku hilang gimana?” Vera pura-pura memasang wajah sedih.


“Bagus, dong. Biar nggak ada beban lagi.”


Untung saja ada Daren di sana, kalau tidak, sudah dipastikan Vera akan melayangkan jitakan maut pada Dera. Selain manja, Dera memang sangat menyebalkan. Semua yang wanita itu minta, harus dituruti jika tidak ingin dia mengamuk.


“Befan, kamu jangan mau, ya, kalau di godain dia. Soalnya dia itu buaya betina,” ucap Dera sambil melirik pada Vera.


“Fitnah! Ya, Tuhan.”


Hahaha. Dan Dera malah tertawa bahagia. Sangat bahagia sampai membuat jengkel Vera dan Daren.

__ADS_1


**


Mendapat undangan makan malam dari orang tua Pandu, mau tak mau Dera dan Daren harus datang. Sudah lama juga mereka tak berkunjung.


Keduanya mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Dera berdandan sangat cantik agar penampilannya memukau. Justru, itu membuat Daren khawatir istrinya akan dilirik tetangga.


“Udah, belum, Sayang?” Daren yang tadinya sudah keluar kamar, kembali masuk karena lelah menunggu sang istri.


“Sebentar lagi, Mas. Kamu nggak sabaran banget, sih.”


“Ya, bukan gitu, Sayang. Hanya saja ....”


“Apa? Kamu nggak suka nungguin aku? Kalau gitu pergi aja sana sendiri!”


Dera berbalik badan, melipat kedua tangannya di dada dengan wajah cemberut, dia merajuk. Melihat itu, cepat-cepat Daren memeluknya dari belakang sambil menciumi pipi Dera.


“Siapa bilang? Mas suka, kok, nungguin kamu. Ya, sudah, lanjutin lagi dandannya,” kata Daren sambil melepaskan pelukan.


“Udah siap. Ayo langsung pergi, nanti aku ngantuk.”


Lalu keduanya sama-sama berjalan keluar rumah, memasuki mobil lalu pergi meninggalkan rumah untuk segera sampai ke tempat orang tua Pandu. Dari awal berangkat sampai mereka tiba di kediaman keluarga Pandu, Dera tidak berhenti mengoceh. Bukannya berisik, Daren malah suka mendengar suara imut istrinya itu.


“Ayo turun, Sayang. Kakak pasti udah nungguin di dalam,” ajak Daren ketika sudah membukakan pintu untuk Dera. Dia meraih tangan wanita itu, dan digenggamnya dengan erat.


Baru saja menapakkan kaki di tanah, Dera sudah malas ketika melihat sesuatu yang tak asing lagi bagi dia. Mobil Pajero berwarna putih, yang sangat dia kenali siapa pemiliknya.


“Dunia tak seluas orang bilang. Buktinya harus bertemu kembali dengan makhluk astral,” gumam Dera yang langsung membuat Daren terkekeh.


“Jangan lupa nanti bilang ‘amit-amit’, ya, Sayang. Biar anak kita nggak nurun sifatnya,” ingati Daren.


“Hahaha. Bener kamu, Mas.”


 

__ADS_1


**


Hadiahnya jangan lupa 😂


__ADS_2