
" Ehh, kok enggak sihh. " ujar Anjel dengan menyenggol lengan sahabatnya itu.
" Jangan ngajak orang lain berbohong. " ujar Derel dengan berjalan mendekati sang istri.
" Hehehehe ... iyaa dehh maaf, kakak kok pada disini ? emangnya gak ke kantor ? " ujar Anjel dengan melirik kedua kakaknya.
" Ke kantor, cuma gak ada urusan yang penting jadi kesini aja dehh, dahh kangen sama my sweety. " ujar Rafi dengan mencium pipi sang istri sedangkan Stella yang di perlakukan seperti itu hanya bisa menahan malu dengan pipi merah merona.
" Bucin dasar. " ujar Anjel dengan meledek.
" Biarin. " ujar singkat Rafi dengan santai yang kini sedang memainkan rambut istrinya.
" Ini juga ngapain kesini ? " ujar Anjel dengan melirik kakaknya yang masih terdiam di samping sahabatnya sekaligus kakak iparnya.
" Ohh, jangan bilang kakak juga kangen sama kakak ipar juga lagi. " ujar Anjel dengan menatap sinis kakaknya.
" Kalau iya kenapa ? " ujar Derel mencoba menakuti adiknya dengan tatapan tajamnya.
" Yang, aku takut. " ujar Anjel yang berlari kebelakang sang suami.
__ADS_1
" Jangan gitu kakak ipar, kasihan my baby takut begitu dan sini baby peyuk kakak. " ujar Kevin dengan merentangkan tangannya tak lupa dengan nada alaynya.
" Ututututututu ... soswetnya ayang ku ini. " ujar Anjel dengan memeluk Kevin tak lupa dengan nada alaynya yang membuat semua orang ingin muntah melihat kedua pasangan suami istri itu.
" Alay kalian. " ujar Derel dengan menatap sinis adiknya yang juga kelihatan dahh bucin tapi malah mengatai orang.
" Sirikkk bilangg bosss. " Ujar Kevin dengan terkekeh.
" Dasar adi ipar sialan. " gerutu Derel dengan menatap tajam adik iparnya.
" Kalau kalian ingin berdebat sampai malam lanjutkanlah, kita pergi dulu dan capcus girls. " ujar Anjel dengan menarik Mutiara di ikuti yang lainnya.
" Ini semunya gara - gara kau. " ujar Kevin dengan melirik tajam kakak iparnya dan menyusul istrinya.
***
Kini mereka telah memasuki mall terbesar di kota yang ternyata merupakan mall milik keluarga Abraham yang akan di wariskan kepada Kevin Alexander Abraham sebagai putra sulungnya.
" Girls, bagus gak ? " Anita mengambil satu buah Dress berwarna hijau tosca dan menunjukkannya kepada sahabatnya.
__ADS_1
" Bagus dan pas di tubuh lo. " ujar Anjel di angguki yang lainnya sedangkan para pria menunggu sambil duduk di salah satu sofa yang sudah tersedia di butik tersebut.
" Ahhh ... Ini bagus banget ! " Agustin berteriak histeris melihat salah satu Dress selutut berwarna violet.
" Gua yang ini. " ujar Citra dengan mengambil Dress yang sedikit tertutup berwarna biru laut.
" Ehh ini terbuka banget gak sihh ? " ujar Mutiara dengan menunjuk Dress selutut berwarna Jingga.
" Gak ahh, cocok buat lo. " ujar Vero dan yang lainnya mengangguk setuju.
" Gimana udah pada dapat belum ? " Anjel yang berjalan mendekati sahabat - sahabatnya dengan Dress berwarna pink warna kesukaannya.
" Gua mahh udah dapat, gak tau yang lain. " ujar Vero dengan menunjuk Dress berwarna hitamnya.
" Ehh buset, lo mau make Dress itu ? lo mau ke pesta kelulusan atau mau ngelayat. " ujar Agustin dengan menatap aneh sahabatnya yang malah memilih Dress berwarna hitam.
" Sembrangan lo kalau ngomong, ini tuhh Dressnya bagus, walaupun warnanya hitam sihh. " ujar Vero dengan menunjukkan Dressnya.
" Gak papa itu bagus dan ayo ke kasir, udah pada dapat kan ? " Anjel melirik ke arah sahabatnya dan di angguki yang lainnya.
__ADS_1
Mereka pun menuju kasir dengan di bayarkan suami dan kekasih masing-masing, walaupun mereka bisa membayarnya sendiri tapi suami dan kekasih merekalah yang memaksanya.
Setelah puas belanja, makan mereka memutuskan untuk pulang dan mempersiapkan diri mereka masing-masing untuk nanti malam.