Ketua Osis Kejam

Ketua Osis Kejam
Extra part 35


__ADS_3

Happy Reading Guys :)


^^^


Two days later ...


Sejak 2 hari masa berkabung. Keluarga besar Wilsington sudah mulai melakukan aktivitas masing-masing dan sudah 2 hari Kevin tersadar dari komanya.


Semua keluarga besar saat itu di liputi perasaan senang dan sedih karna kehilangan sosok wanita yang tangguh, Hana Aurora Lucifer. Putri kedua dari Tari Wilsington yang di nyatakan meninggalkan dunia dalam kecelakaan mobil.


" Daddy mau makan buah ? " Elsa bertanya ke daddynya yang masih terdiam sejak tersadar dari komanya.


" Apa Kristal sudah sadar ? " Bukannya menjawab, Kevin malah memberikan pertanyaan.


" Belum, Dad. Kata Dokter, Kondisi Kristal malah menurun. " ujar Elsa dengan sendu melihat kondisi adiknya yang makin menurun.


" Biarkan anak itu mati. " suara seseorang di belakang mereka, membuat keduanya menengok kebelakang dan terlihatlah sosok Erlan yang mendekati mereka.


" Kak Lan ngomong apa ?! " Elsa tak terima dengan perkataan kakaknya.


" Biarkan gadis pembawa sial itu mati !! " Erlan menekan setiap perkataannya yang membuat keduanya kesal.


Plakk ...


Erlan terkejut mendapatkan tamparan dari saudari kembarnya sendiri dan Elsa yang melakukannya hanya biasa saja dengan tatapan tajamnya.


" CUKUPP !! ELSAAA BENCII SAMAA KAKAKK !!! " Elsa berteriak dengan menitikkan air matanya.

__ADS_1


" Hikss ... kakak gak seharusnya bilang seperti itu. Bagaimapun Kristal adik kita dan ini semua bukan salahnya. " Elsa mengusap air matanya yang jatuh di kedua pipinya.


" Hahaha ... KAUU BILANGG APAA ?!! BUKANN SALAHHNYA ?!! " Erlan tertawa mendengar perkataan adiknya yang terasa lucu.


" Kau bilang bukan salahnya ?! KAUUU LUPAA !! DIAA YANGG MENYEBABKANN MOMMYY TIADAAA !! GARAA-GARAA ANAKK SIALAAN ITUU KITAA KEHILANGANN MOMMYYY !!! " Kevin yang melihat keributan kedua anaknya hanya bisa terdiam.


" Honey, kembali lahh. " Batin Kevin dengan sesak mengingat perkataan mertuanya saat dia tersadar, bahwa sang istri telah meninggal dunia.


Dia saat itu syok, sedih dan begitu benci seperti putranya yang begitu membenci Kristal, putri angkatnya. Tapi dia sudah berjanji kepada mendiang istrinya, bahwa apapun yang terjadi. Dirinya tak boleh membenci putrinya.


" ITUU TAKDIRR KAKK !! " ujar Elsa dengan keras.


" Hahh ... Takdir ?! " Erlan terkekeh mendengar kata-kata takdir.


" Takdir macamm apa ini ? Takdir yang memisahkan kita dengan orang-orang yang kita sayang ?! Katakan !!! " Erlan menarik rambutnya frustasi.


" CUKUPP !!! " Kevin berteriak menghentikan pertengkaran kedua anaknya.


" Erlann ! Daddy tau kau begitu terpukul kehilangan mommy mu, tapi disini kita juga terpukul. Tapi kita mencoba mengikhlaskan, gak ada gunanya kau membenci adik mu dan ingat janji yang pernah kau ucapkan dengan mommy. " Kevin mengingat janji yang pernah di lontarkan putranya dengan mendiang istrinya.


" Elsa juga sedih kehilangan mommy, Kak. " Elsa mencoba menarik kakaknya kedalam pelukannya dan langsung membuat kakaknya menangis dalam dekapannya.


Tanpa mereka sadari ada, Kristal telah sadar dari komanya saat pertengkaran kedua kakaknya terjadi. Dia sedih mendengar kakaknya membenci dirinya.


" Mom, Maafkan Kristal. " Batin Kristal dengan menangis dalam diam.


Sedangkan di kediaman Dirgantara. Tepatnya di sebuah kamar bernuansa ungu putih, seorang gadis kecil tengah menangis terisak memandangi bingkai foto bundanya.

__ADS_1


" Bund, kenapa bunda tega meninggalkan Rora ? " Gadis itu mengusap bingkai foto bundanya, yang tak lain Aurora Dirgantara. Putri sulung dari pasangan Vino Dirgantara dan Hana Aurora Lucifer.


" Rora sayang bunda, Hikss. " Rora mencium bingkai foto bundanya itu dengan air mata yang mengalir deras.


Tokk ...


Tokk ...


Tokk ...


" Princess, boleh kahh Ayah masuk ? " Terdengar suara seseorang dari balik pintu kamar gadis itu yang langsung membuat gadis itu mengusap air matanya.


" Masuk aja, Ayah. " Rora langsung meletakkan bingkai foto bundanya di atas nakas.


Ceklekk ...


Masuklah seorang pria paruh baya yang masih terlihat muda dan tampan, yang tak lain Vino Dirgantara. Yang merupakan sekretaris Rafi Aidyn Wiajaya dan Vino pun langsung duduk di samping tempat tidur putrinya


" Princess ayah kok belum tidur sihh. " Vino mengusap pucuk kepala putrinya dengan tersenyum.


" Rora gak bisa tidur, kalau belum di bacain dongeng sama bunda. " Perkataan putrinya membuat hati Vino tersayat.


" Sekarang biar ayah gantikan ya. " Vino mengambil salah satu buku dongeng yang tersusun rapi di rak buku dan Aurora hanya mengangguk.


" Setelah itu Rora tidur, ya ? " Aurora lagi-lagi mengangguk dan Vino pun langsung membacakan dongeng untuk putrinya.


Setelah setengah jam membacakan dongeng, Vino memberhentikannya di saat melihat putrinya sudah terlelap. Vino pun langsung menaruh bukunya kembali dan merapikan selimut putrinya.

__ADS_1


" Sweet dream, baby. " Vino mengecup kening putrinya sebelum keluar dari kamarnya.


__ADS_2