
"Jangan pernah tanyakan apakah cintaku itu tulus kepadamu, sebab aku bisa merasakannya sendiri dari apa yang telah aku lakukan untuk selalu mendekatimu."
____________________
Hari ini adalah hari di mana sekolah SMA Nusantara pergi ke puncak. Sebagian siswa/i kelas X sudah berkumpul di halaman parkiran. Terdapat 2 bis yang parkir di sana.
Setelah beberapa menit kemudian. Semua siswa/i kelas X sudah berkumpul di parkiran.
"Apakah semua sudah hadir di sini?" tanya Pak Heri salah satu guru olah raga di SMA Nusantara.
"Sudah, Pak," jawab semua siswa kompak.
"Kalau begitu bapak akan absen kalian, dimulai dari kelas IPA 1. Andri? Anjas? Annisa? Anton? Bima? Cika? Dini?" panggil pak Heri dan mereka mengucapkan, "Hadir Pak," sambil mengacungkan tangannya.
Setelah semua sudah di absen, mereka di intruksikan oleh Bu Indi.
"Perhatian semuanya ... Ibu akan membagi siapa yang di bis 1 dan di bis 2"l," kata Bu Indi sambil menggunakan pengeras suara.
"Siswa Laki laki kelas X 1 dan 2 di bis 1, siswa laki laki kelas X 3 dan 4 di bis 2," sambung Bu Indi.
"Dan untuk siswiperempuan kelas X 1 dan 2 di bis 2, untuk siswi perempuan kelas X 3 dan 4 di bis 1. Dan ibu akan berada di bis 1 bersama Pak Alim dan Ibu Kinar, ada di bis 2 bersama Pak Heri," jelas ibu Indi kembali.
Setelah di intruksikan, mereka masuk ke bis yang sudah di sediakan sebelumnya.
Aqila dan Siska duduk di bangku ke 5 dari depan.
"Siska tau gak Adhim duduk di sebelah mana?" tanya Aqila yang melihat ke depan dan belakang.
"Gak tau," nawab Siska mengangkat kedua bahunya.
Aqila yang dari tadi mencari keberadaan Adhim akhirnya menemukannya. Adhim sedang duduk di bangku paling belakang bersama Hans dan Fatih.
"Apakah semua sudah masuk?" tanya Pak Alim yang baru masuk ke bis 1.
"Sudah, Pak," jawabnya semua serempak.
"Baiklah .. sebelum pergi marilah kita baca doa sesuai kepercayaannya masing masing, berdo'a di mulai," ucap pak Alim dan seketika hening ....
"Berdo'a selesai," semua mengangkat kepalanya.
Di perjalanan banyak kegiatan yang dilakukan siswa/i seperti memainkan game online, mendengarkan lagu, ngemil, tidur bahkan ada yang gosip juga.
"Gue bosen nih," keluh Hans.
__ADS_1
"Ngapain kek, asalkan gak bosen," kata Fatih yang sedang memainkan handphone nya.
Hans terus memikirkan kegiatan apa yang harus ia lakukan, dan akhirnya dia menemukan ide untuk masalah ini. Hans berjalan ke tengah dengan membawa gitar.
"Mendingan kita nyanyi mau gak?" teriak Hans sentak semua menoleh kepadanya.
"Boleh juga tuh," jawab Fatih teriak.
Lalu Hans memainkan gitar yang di pegang nya itu.
Ketika Aqila mendengar nada suara gitar yang di mainkan oleh Hans, dia terasa pamiliar dengan nadanya. "Lagu Fiersa Basari~Celengan rindu~?" tanya Aqila kepada Siska.
"Iya, mungkin.
"Ingin ku berdiri di sebelah mu menggenggam erat jari jarimu," Hans mulai menyanyi. Yang sedang tidur langsung bangun hehehehe....
"Suara Hans bagus juga"ucap Siska.
"Hmm .... Siska suka ya sama Hans?" tanya Aqila.
"Ih ... siapa juga yang suka sama Hans," jawabnya sambil menggidik.
Lalu semuanya ikut bernyanyi sambil tepuk tepuk tangan.
"Mandengarkan lagu Sheila on seven seperti waktu itu...saat kau di sisiku...dan tunggulah aku di sana memecahkan celengan rinduku berboncengan dengan mu mengelilingi kota menikmati Surya perlahan menghilang." semua yang ada di bis menyanyi.
"Hingga kejamnya waktu menarik paksa kau dari pelukku,lalu kita kembali menabung rasa rindu saling mengirim doa sampai nanti sayangku ...."
Semuanya bertepuk tangan dan bersorak.
"Lagi— lagi— lagi— lagi—" kata semuanya.
"Oke, sabar sabar ... sekarang yang nyanyi disini bukan gue ... tapi tenang ada gantinya kok, bentar ya," Hans langsung berjalan menuju tempat duduknya, di situ ada Fatih dan Adhim. Hans menarik tangan Adhim sontak membuat Adhim kaget.
"Dhim .... lo yang nyanyi sekarang sambil main gitar ya, lo kan juga bisa main gitar dan suara lo lumayan juga," bisik Hans ke telinga Adhim.
"Kok gue sih? Fatih aja tuh," kata Adhim menolak.
"Kalau Fatih suaranya kaku, kalau lo kan nggak. Ayo cepetan, buktiin di depan Aqila kalau lo bisa, Dhim," katanya berbisik kembali.
"Gue gibeng juga, Lo," ancam nya kesal.
"Kalian kenapa sih bisik bisik? Katanya mau nyanyi, ayo dong," kata Ira teman sekelas Aqila.
Adhim langsung memainkan gitarnya, dari nadanya seperti lagu ~Menepi~.
__ADS_1
"Mencintai dalam sepi dan rasa sabar mana lagi yang harus ku pendam dalam mengagumi dirimu ...."
'Adhim....' ucap Aqila dalam hati.
"Terus bang," teriak Hans dari belakang.
"Melihatmu genggam tangannya nyaman di dalam pelukannya yang mampu membuatku tersadar dan sedikit menepi ...." Semua orang tampak menikmati Adhim menyanyi.
"Semuanya nyanyi," teriak Hans kembali.
"Mencintai dalam sepi dan rasa sabar mana lagi yang harus ku pendam dalam mengagumi dirimu...melihatmu genggan tangannya nyaman di dalam pelukannya yang mampu membuatku tersadar dan sedikit menepi ...." Semuanya menyanyi sedangkan Adhim memainkan gitarnya.
Aqila terus menatap ke arah Adhim, bakatnya bermain gitar dan suaranya yang enak di dengar, membuat Aqila semakin yakin ingin mendapatkan hatinya.
"Melihatmu genggam tangannya nyaman di dalam pelukannya yang mampu membuatku tersadar dan sedikit menepi ... tersadar dan sedikit menepi ...."
Aqila bertepuk tangan dan di susul semuanya. Adhim pun berjalan ke belakang tetapi tangan Adhim di pegang oleh Aqila.
"Suara Adhim bagus banget sama tadi main gitarnya ...." puji Aqila tetapi jari Adhim langsung menempel di bibir Aqila.
"Diam, berisik!" ucapnya dingin dan melepaskan genggaman tangan Aqila.
"Tu orang ya gak tau terima kasih apa? Udah di puji, bilang terima kasih kek, apa kek. Ini malah dibilang berisik!" gerutu Siska.
"Udah lah Siska jangan gitu sama Adhim ... mungkin Adhim lagi gak mau ngomong sama Aqila," katanya lugu.
"Lo temen gue yang paling lugu, lo di sakitin sama Adhim, tapi lo tetap mau deketin dia," kata Siska kagum.
"Siska tau kan, Adhim orang pertama yang Qila suka dan Qila harus perjuangin Adhim," jelasnya menyemangati dirinya.
"Udah gue bilang suara lo bangus, Dhim," puji Hans menepuk bahunya.
"Thanks Hans."
"Gue gak salah denger? Baru kali ini gue denger lo bilang thanks sama gue," sindir Hans sambil tertawa.
"Awas aja, Lo," ancam Adhim.
"Santai aja kali. Emang bener, kan?" Hans membela diri.
Adhim terdiam dan mengambil handset nya sambil mendengarkan musik.
"Nanti beberapa menit lagi kita akan istirahat dulu, jadi jangan ketiduran ya," kata Bu Indi kepada anak-anak.
"Iya Bu ...," jawab siswa/i semuanya.
__ADS_1
Aqila tidak bisa berhenti memikirkan Adhim, wajah Adhim selalu ada di otak Aqila dan suaranya tadi selalu mengiang-ngiang di telinganya.