Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
Syarat Yang Di Berikan Nadya Dan Jio


__ADS_3

"Menarik juga." Senyum tipis terukir di bibir Jio. Dengan kata lain, dia sudah tau semua yang di alami Aqila selama ini.


Tanpa berbicara apapun, Jio pergi begitu saja dari tempat itu.


"Apa sebenarnya yang dia rencanakan?" gumam Adit yang masih mengamati gerak-gerik Jio.


"Aku mau bicara sama kamu, penting. Kamu tunggu di kantin oke, aku segera ke sana sekarang,


jelas Adit kepada seseorang di balik telepon.


____________________


"Hai, La." Adit langsung duduk di samping Aqila ketika melihatnya duduk sendirian di kantin.


"Lo ngapain di sini?" tanya Aqila ketus.


"Ini kan tempat umum. Jadi, boleh dong siapa aja di sini," balas Adit sambil terus menatap Aqila.


Aqila melangkah begitu saja, tanpa pamit ataupun bicara.


"Lo pindah ke sini, karena lo di keluarin dari sekolah itu, kan?" Setelah mendengar perkataan Jio, Aqila menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam.


"Lo tau dari mana gue di keluarin dari sekolah gue dulu?" tanya Aqila sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Gak penting gue tau dari mana. Tapi, kalau semua orang tau kalau lo di keluarin di sekolah karena kasus yang lo hadapin, lo pasti di keluarin dari sekolah ini," kata Jio, dari nadanya seperti dia sedang mengancam Aqila.


"Lo jangan coba-coba!" ucap Aqila kesal, salah satu jarinya menunjuk tepat di depan wajah Jio.


"Oke, gue gak akan bilang ke siapapun." Aqila lega mendengar itu. "Tapi ada syaratnya," sambungnya. senyum licik terukir di bibirnya.


"Oke, gue akan lakuin apa yang lo minta, asalkan jangan kasih tau siapapun soal ini," ucap Aqila memohon.


🍁🍁🍁


"Males banget ketemu dia. Tapi, kali aja penting," ucap Nadya, orang yang di telepon Adit tadi sekaligus pacarnya.


Tak perlu menunggu waktu lama, Adit sudah sampai di sekolahnya dan langsung menuju ke kantin.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Nadya kepo, niatnya hanya ingin mendengarkan saja. Tapi, di lihat dari wajah Adit yang tidak bisa di tebak, Nadya mulai penasaran.


"Tadi ...." Dengan panjang lebar, Adit menceritakan semua yang dia alami selama di cafe dekat sekolah Aqila yang baru. "Untuk saat ini, gue hanya tau dia sekolah di sana." Kata-kata terakhir Adit membuat Nadya semakin penasaran dan dengan kabar ini, dia mempunyai rencana baru supaya Adhim jadi miliknya.


"Ini berita yang sangat besar. Kalau gitu, aku pergi dulu, soalnya mau kasih tau temen aku soal ini," ucap Nadya, senyum puas terukur di bibirnya, sepertinya dia tau apa yang harus dia rencanakan.

__ADS_1


"Baiklah," sahut Adit sambil tersenyum semanis mungkin.


"Dengan adanya Adit, gue bisa dapetin Adhim secepatnya dan singkirin dia. Siska! Gue yakin, lo gak bakal lolos dari ancaman gue, liat aja nanti," gumam Nadya, dia sudah tidak sabar menceritakan semua ini kepada teman-temannya.


"Guys, gue punya berita penting," ucap Nadya yang langsung duduk di depan Sarah dan Nency.


"Berita apa, Nad?" tanya keduanya serempak.


"Gue udah tau Aqila sekolah di mana. Dan ini bisa jadi rencana gue selanjutnya," jelas Nadya to the point dan langsung melangkah keluar untuk mencari seseorang.


🍁🍁🍁


Tok tok tok


Suara ketokan pintu terdengar sangat jelas di telinga Saddam.


"Masuk," suruhnya dan masuklah seorang wanita kira-kira umurnya lebih muda dari Saddam dengan berpakaian kantoran sambil membawa berkas di tangannya, dengan kata lain adalah sekretarisnya yang bernama Yura.


"Ada apa, Yur?" tanya Saddam yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Begini, Pak. Perusahaan kita sedang dalam keadaan kritis, saya juga tidak tau akan hal ini sebelumnya, tapi perusahaan kita mengalami kerugian yang besar, Pak," jelas sekretarisnya itu sambil memberikan berkas yang ia bawa tadi.


"Kenapa bisa begini?! Perusahaan kita baik-baik saja," ucap Saddam, nadanya naik beberapa oktaf. "Panggil menejemen keuangan sekarang juga!" kata Saddam dengan nada tunggi, sontak membuat Yura ketakutan dan tidak berani melihat wajah bosnya itu.


Seketika semua tubuh Saddam lemas, dia tidak bisa berdiri dengan tegak seperti biasanya.


"Kalau gitu, saya permisi, Pak." Yura melangkahkan kakinya keluar ruangan itu.


"Apa kamu sudah telpon polisi tentang ini?" tanya Saddam saat Yura berada di ambang pintu.


"Sudah, Pak. Tim kapolsek sedang mencari keberadaannya," jelas Yura dan menutup pintu.


Saddam sedikit lega karena polisi sedang mencari keberadaan si pelaku. Tapi, dia masih khawatir dengan keluarganya, dia tidak harus berbicara apa kalau keluarganya tau semua ini.


____________________


"Adhim ...." Nadya dengan tiba-tiba memeluk tangan Adhim. Adhim langsung berhenti dan menatapnya tajam.


"Apa yang lo mau sekarang?" tanya Adhim dengan muka datar dan melihat ke sembarang arah.


"Aku udah tau keberadaan Aqila di mana," ucap Nadya yang masih menempel seperti benalu yang menempel pada pohon (Simbiosis Parasitisme). Pasti kalian tau apa maksud dari Simbiosis Parasitisme. Ya ... Adhim berpikiran seperti itu kalau Nadya terus menempel padanya.


"Di mana?" tanya Adhim dengan antusiasme tinggi.

__ADS_1


"Aku akan kasih tau kamu. Tapi dengan satu syarat," ucap Nadya sambil tersenyum manis di depan Adhim.


"Apa syaratnya?" tanya Adhim penasaran Tapi, sebenarnya Adhim tidak mau menuruti Nadya dengan syarat itu. Tapi, karna dia ingin tau keberadaan Aqila di mana, Adhim terpaksa mengikuti kehendaknya.


🍁🍁🍁


"Lo yakin? Oke, gue mau, lo jadi pacar gue," ucap Jio tersenyum puas.


"Apa?! Pacar lo?! Gak ada yang lain apa, selain jadi pacar?" tanya Aqila, matanya membulat setelah mendengar syarat yang diajukan Jio kepadanya.


"Gak ada, gue cuma mau lo jadi pacar gue, udah itu aja. Lo jangan lupa dengan kata-kata lo tadi, kalau lo mah nurutin perkataan gue. Lo gak lupa, kan?" jelas Jio mengingatkan.


"Nyesel gue udah ngomong kaya gitu," batin Aqila. Aqila mendengus perlahan.


"Jadi gimana?" tanya Jio yang tidak sabar dengan jawaban Aqila.


"Dia manfaatin kesempatan ini supaya bisa jadi pacarnya, gue harus hati-hati sama ni orang," gerutu Aqila menatap Jio menyelidik.


"Hey! Malah bengong, jadi gimana, mau gak?" tanya Jio kembali, perkataannya membuyarkan lamunan Aqila.


"Gue belum bisa jawab sekarang," ujar Aqila dan langsung meninggalkan Jio sendirian.


"Oke, gue tunggu jawaban lo sampai besok," teriak Jio kepada Aqila yang sudah berada jauh. Aqila hanya mengacungkan jempolnya tanpa melihat ke belakang.


🍁🍁🍁


"Papah tumben pulang lebih awal, ada apa?" tanya Asti yang sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya.


Saddam tidak mendengar pertanyaan istrinya itu, dia terus berjalan menuju rumah yang cukup besar itu.


"Papah? Ada apa sih? Apa ada masalah, sampai gak denger mamah bicara," ucap Asti sambil menyusulnya memasuki rumah itu.


"Perusahaan papah bangkrut, Mah," ucap Saddam lemas, dia tidak tau harus berbicara apa lagi selain memberi tau istrinya tentang itu.


"Kenapa bisa begitu, Pah?!" Asti tidak menyangka kalau perusahaan yang di dirikan hasil kerja keras suaminya itu seketika bangkrut.


"Menejemen keuangan di perusahaan membawa semua uang perusahaan, jadi sekarang perusahaan Papah rugi besar," jelas Saddam yang masih tidak bisa berbuat apa-apa.


____________________


"Kamu harus jadi pacar aku," ucap Nadya dengan bersemangat.


"Lo bercanda?! Gue jadi pacar lo?! Itu gak mungkin," ucap Adhim, nadanya naik dari sebelumnya.

__ADS_1


"Gue serius," ucap Nadya dari raut wajahnya Nadya tampak tidak main-main.


__ADS_2