
"Adhim mau bawa Aqila ke mana?" tanya Aqila terheran-heran. Adhim tidak menghiraukan pertanyaan Aqila.
Adhim membawa Aqila ke halaman belakang sekolah untuk membicarakan sesuatu. Karena suasana di sana sedang sepi, Adhim menarik Aqila dengan kasar, sampai Aqila terjatuh di sebuah kursi panjang yang ada di sana.
"Kenapa Adhim kasar sama Aqila?" tanyanya dan langsung berdiri di hadapannya dengan wajah bingung.
"Gue udah ngomong dari pagi, jangan coba deket-deket sama Adit lagi!" suara Adhim menggelegar di telinga Aqila.
"Tapi kenapa?" tanya Aqila kembali sambil menatap Adhim lekat-lekat.
"Karena dia bukan cowo baik, La," sahut Adhim, suaranya lebih rendah dari sebelumnya.
"Tapi Qila liat Adit cowo baik-baik kok. Kalau dia gak baik, pasti tadi Aqila di bawa ke suatu tempat. Ya mungkin tempat yang jauh dan sepi, tapi ini tidak," jelas Aqila, mencoba meyakini Adhim.
"Iya, karena dia sekolah di sini. Kalau dia gak sekolah di sini gimana?" Adhim kembali kesal dengan jawaban yang Aqila berikan.
"Tapi kenapa?" Aqila kembali menanyakan hal yang sama.
"Karena gue gak suka lo deket-deket sama Adit!" karena amarahnya sudah menyelimuti Adhim, Aqila kemudian tertunduk, tidak sanggup melihat apa reaksi Adhim selanjutnya.
Aqila terkekeh mendengar perkataan Adhim tadi.
"Aqila akan berusaha untuk nggak deket sama Adit lagi," balas Aqila tersenyum.
"Janji?" Adhim menaikan jari kelingkingnya di hadapan Aqila. "Janji." Aqila membalasnya.
"Maaf soal perkataan aku tadi ya," kata Adhim sambil memegang kedua pundak Aqila.
"Kamu itu lucu ya," ucap Aqila tertawa kecil.
"Lucu apanya?" tanya Adhim melihat Aqila bingung. Aqila tidak langsung menjawabnya, ia berjalan menjauh darinya. Adhim pun berlari kecil berusaha sejajar dengan langkah Aqila.
"Nggak jadi," jawab Aqila dan langsung berlari ke arah kantin sekolah.
"Aqila, tunggu!" Saat Adhim sempat mengejar Aqila, Nadya memegang tangan kanan Adhim.
"Kamu mau nemenin aku gak?" tanya Nadya penuh harapan.
"Gak!" tukas Adhim ketus sambil melepas kasar tangan Nadya darinya.
"Kamu kok jadi gini sama aku. Aku mohon sama kamu, temenin aku ya," ucap Nadya sedikit kecewa. Seketika air matanya menetes.
__ADS_1
"Udah jangan nangis. Ya udah gue akan temenin lo, oke." Adhim menghapus air mata yang membasahi pipi Nadya.
"Makasih." Nadya dengan refleksnya memeluk Adhim erat.
"Udah ya, gue ada urusan." Kemudian Adhim berjalan meninggalkan Nadya sendirian di sana.
"Liat aja lo Aqila, permainan baru aja di mulai," gumam Nadya tersenyum licik sambil melihat Adhim yang sudah hilang dari pandangannya.
πππ
Karena Aqila tidak melihat teman-temannya di kantin, akhirnya terpaksa Aqila harus duduk sendiri di sana. Saat memesan, tak sengaja Aqila melihat Hendrik dan langsung menghampirinya.
"Hai, Hendrik," sapa Aqila sambil memberikan senyum manisnya.
"Hai. Eh Aqila, yang lainnya kemana? Kok gak keliatan dari tadi?" tanya Hendrik bingung.
"Qila juga gak tau, mungkin lagi di perpustakaan," jawab Aqila sambil menyantap makanan yang ada di depannya.
"Oh iya. Qila baru inget kalau tadi mau ke perpustakaan." Aqila langsung berdiri, tetapi di cegah oleh Hendrik. "Udah habisin dulu makanannya, nanti baru ke perpustakaan. Gue juga mau ke sana kok," jelas Hendrik, Aqila kembali duduk dan melanjutkan makannya.
"Aqila." Siska tiba-tiba menepuk Aqila dari belakang, sontak membuat Aqila terkejut dan tersedak.
Ohok ... ohok ...
"Sisβ ka buat Aqila kaget aja," katanya sambil menyeruput minuman yang tadi ia pesan.
"Oh iya, Siska udah ke perpustakaan?" tanya Aqila memastikan.
"Udah kok tadi, yang lo juga udah gue bawa tadi," jelas Siska singkat.
"Makasih ya ...." Aqila memeluk Siska dengan erat, sampai Siska tidak bisa bernapas.
"Gue gak bisa napas nih," ucap Siska suaranya hampir tidak terdengar.
"Heehee .... Iya maaf, maaf." Aqila melepaskan pelukannya dan melanjutkan makannya.
πππ
Suasana parkiran sekolah cukup ramai dipenuhi oleh para siswa yang ingin pulang ke rumahnya masing-masing.
"Dua hari lagi," ucap Siska, dari wajahnya ia tampak cemas sekaligus sedih.
__ADS_1
"Ada apa dua hari lagi?" tanya Aqila bingung. Aqila tidak ingat kalau waktunya tinggal dua hari lagi di sekolah ini, jikalau dia tidak menemukan bukti kalau dia benar tidak bersalah.
"Kalau kita gagal, lo akan keluar dari sekolah ini," sahut Siska, air matanya seketika menetes.
"Siska tenang aja, Qila yakin kalau Aqila gak bakal di keluarin dari sekolah ini," kata Aqila sambil menghapus air mata Siska.
Saat Adhim hendak menghampiri Aqila dan Siska, Tiba-tiba Nadya datang dan langsung memegang tangan Adhim sambil berkata, "Kamu jadi nemenin aku, kan?" Aqila dan Siska menoleh ke arah keduanya.
"Iβ iya, tapi ...." Belum sempat Adhim menyelesaikan perkataannya, Nadya sudah menarik tangan Adhim menuju motor besar miliknya.
"Beraninya dia pegang tangan Adhim di depan lo, La," ucap Siska kesal.
"Udah biarin aja, lagi pula Aqila bukan siapa-siapanya Adhim, kan?" sahut Aqila sambil melihat keduanya berjalan menjauhinya.
"Terserah lo aja." Tanpa pamit, Siska meninggalkan Aqila sendirian di sana.
"Itu mukannya kenapa di tekuk gitu?" tanya Fatih, rasanya dia ingin tertawa melihat pacarnya itu ketika sedang kesal.
"Gak kenapa-napa kok," jawab Siska yang masih merasa kesal.
"Ya udah. Kita ke rumah aku, katanya mamah mau ketemu kamu," jelas Fatih singkat padat dan jelas.
"Mamah kamu mau ketemu aku? Apa mamah kamu udah setuju kalau kita pacaran?" tanya Siska sempat ragu.
"Udah. Buktinya dia mau ketemu kamu," ucap Fatih sambil tersenyum.
Fatih melajukan motornya menuju rumahnya.
'Gue gak bisa liat Aqila sedih, karena liat gue sama Nadya. Tapi di sisi lain, gue udah janji sama Nadya. Tuhan, bantulah hambamu ini.' Di pikiran Adhim hanya penuh dengan rasa bersalahnya terhadap Aqila.
Adhim merasa tidak nyaman dengan apa yang di lakukan Nadya kepadanya. Dia juga merasa bersalah, karena orang yang di sukainya terus menatap ke arahnya.
'Adhim kayaknya seneng banget kalau dekat sama kak Nadya. Apa Aqila mundur aja ya? Cinta tidak harus memiliki, bukan? Cinta juga harus berkorban demi orang yang kita suka, bahagia dengan orang lain,' batin Aqila. Sampai sekarang Aqila tidak mengetahui kalau Adhim menyukainya.
"Aqila!" Tiba-tiba dari arah belakang, Adit menepuk bahu Aqila. Sontak membuat Aqila kaget.
"Kenapa lo bengong?" tanya Adit terheran-heran.
"Nggak kenapa-napa kok," jawab Aqila yang tidak melirik Adit sedikit pun.
"Pulang bareng yu," ajak Adit, belum sempat Aqila jawab, Adit sudah menarik tangan Aqila. Adhim yang masih di parkiran, menatap mereka tajam.
__ADS_1
"Tapi." Aqila mencoba melepaskan genggaman tangan Adit, tapi sia-sia saja, genggamannya lebih kuat dari sebelumnya.
"Udah ayo," ucap Adit dan membukakan pintu mobil miliknya untuk Aqila masuk.