
Setelah satu Minggu berlalu, Adhim masih belum pulang dari rumah sakit. Begitupun dengan Aqila, ia masih belum di perbolehkan oleh Tiara untuk menjenguk Adhim.
Entah kenapa menurut Aqila, satu Minggu seperti berbulan-bulan lamanya. Mungkin karena ia terus memikirkan Adhim yang belum sempat ia temui waktu itu. Tapi entahlah ....
Pagi ini Aqila seperti biasanya belajar tanpa ada semangat sedikitpun, dengan rasa tak karuan memikirkan keadaan Adhim saat ini. Membuatnya tidak fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung.
"Aqila!" seru guru yang sedang menerangkan pelajaran.
"Coba kamu jawab pertanyaan saya."
Karena Aqila tidak menjawabnya sama sekali, Siska kemudian menyenggolnya.
"Aqila! Lo di panggil tuh sama Bu Astrid!" ucap Siska membuyarkan lamunan Aqila.
"Hah?! I– iya, Bu!" sahut Aqila dan segera berdiri sambil membawa buku di tangannya.
Aqila lalau membacakan hasil tulisannya, tapi Bu Astrid malah dibuatnya geleng-geleng kepala.
"Maksud saya buat itu, Aqila ..." ucap Bu Astrid yang mulai emosi.
"Ma– maaf, Bu." Aqila duduk kembali dengan rasa malu. Seketika satu kelas menertawakan Aqila.
"Sudah-sudah! Aqila, coba jawab pertanyaan dari Ibu, kalian juga bisa mencobanya. Ya," tutur Bu Astrid yang berjalan ke salah satu bangku paling depan.
"Massa inti atom 20 CA 40 adalah 40,078 sma. Jika massa proton adalah 1,0087 sma, tentukan defek massa pembentukkan 20 CA 40?" tanya Bu Astrid, seketika semua mengerjakan soal yang tadi dengan teliti.
Setelah semua selesai, Bu Astrid kembali memanggil Aqila dan memintanya untuk menjawab.
"Berapa jawabannya, Aqila?"
"Mana belum selesai lagi! Gimana ini?" gumam Aqila yang terus menatap pada lembaran buku miliknya.
"Nggak tau, Bu," jawab Aqila sambil menggaruk keningnya.
"Yang lain? Ada yang bisa?" tanya Bu Astrid memastikan.
"Saya, Bu!" Salah satu murid mengacungkan tangannya dan menjawab hasil pekerjaannya itu.
__ADS_1
"Hasilnya adalah, 0,252 sma, Bu."
"Jawaban kamu benar sekali! Kalau begitu, sudah hampir saatnya jam istirahat. Kalian boleh bereskan barang-barang kalian dan setelah itu boleh istirahat," jelas Bu Astrid yang sedang menatap jam tangannya dan duduk di kursi khusus guru.
Semua tampak bersemangat mengemaskan barang-barang masing-masing kedalam tasnya. Tak sampai berapa lama, bel istirahat berbunyi dengan nyaringnya ke seluruh penjuru sekolah.
"Aqila. Ibu mau bicara sebentar sama kamu, ikut Ibu," kata Bu Astrid yang berjalan menuju ruang guru dan diikuti Aqila di belakangnya.
"Ada apa ya, Bu?" tanya Aqila dengan perasaan tidak karuan.
"Akhir-akhir ini, Ibu liat kamu tidak fokus dalam pelajaran. Bahkan guru mata pelajaran lain mengatakan seperti itu pada Ibu. Apa ada masalah?" tanya Bu Astrid yang khawatir dengan Aqila, karena ia tidak biasanya seperti ini.
"Maafkan saya, Bu. Saya akhir-akhir ini sedang ada masalah, jadi saya tidak fokus pada pelajaran," jelas Aqila yang merasa bersalah.
"Ibu ngerti, tapi jangan bawa masalah pribadi kamu ini ke sekolah. Kalau kamu terus begini, kedepannya akan tidak baik. Apalagi satu bulan lagi akan di adakan ujian akhir semester, jadi kamu harus persiapkan itu dari sekarang."
"Ibu tidak mau ada siswa yang diajar oleh Ibu ada yang tidak lulus nantinya."
"Sekali lagi saya minta maaf, Bu. Saya akan berusaha untuk secepatnya menyelesaikan masalah ini," ucap Aqila yang menunduk dan memainkan jari-jarinya.
"Baik Bu, terima kasih. Kalau gitu saya pamit dulu." Aqila pergi dari ruang guru dan berjalan menuju kantin untuk mengisi perutnya yang kosong.
Aqila duduk sendirian di meja yang kosong.
"Lo udah tau belum?" tanya Siska yang bersemangat dan duduk di samping Aqila.
"Tau apa?" tanya Aqila ketus dan tidak bersemangat.
"Pokonya lo harus ikut gue! Nanti lo akan tau apa yang sebenarnya!" Siska langsung menarik tangan Aqila menuju suatu tempat yang Aqila tau betul tempat itu.
Sementara itu di salah satu kelas, banyak orang mendatangi kelas tersebut karena kembalinya seseorang.
"Nah ini kelas kamu," ucap Tiara dan masuk ke kelas Adhim.
"Jadi gue masih sekolah? Dan ini kelas gue?" batin Adhim yang memutar bola matanya menatap sekeliling ruangan kelas tersebut.
"Dhim! Akhirnya lo sekolah juga, gue khawatir banget sama lo, Bro!" ucap Hans antusias sambil memeluk Adhim. Begitupun dengan Fatih.
__ADS_1
"Lo siapa?" tanya Adhim menatap keduanya bingung.
"Wah! Lo suka bercanda ya ternyata," sahut Fatih tersebut paksa.
"Gue gak bercanda. Kalian semua siapa?" tanya Adhim dengan muka datar. Hans dan Fatih semakin menatap Adhim heran.
"Tante, Adhim kenapa?" tanya Hans bingung sekaligus penasaran.
"Sebenarnya Adhim mengalami amnesia," jelas Tiara singkat padat dan jelas.
"Ng– nggak! Ini semua gak mungkin kan, Tante?" tanya Hans menatap Tiara tidak percaya.
"Atau jangan-jangan lo ngeprank kita lagi? Pura-pura gak kenal sama kita. Udahlah Dhim, kita gak akan mempan sama prank lo!"
"Ini bukan prank! Adhim beneran mengalami amnesia ringan," ucap Tiara sekali lagi meyakinkan keduanya.
"Kenapa Siska bawa Aqila ke sini?" tanya Aqila yang masih tidak peduli dengan ruangan itu.
"Lo liat ke sana!" Siska menunjuk ke satu arah yang langsung membuat Aqila tertegun sambil meneteskan air matanya.
"Adhim!" Aqila langsung berlari memeluk Adhim.
Semua di buat terkejut dengan tindakan Aqila yang tiba-tiba. Begitupun dengan Adhim, ia tidak berkutik sedikitpun dengan pelukan Aqila.
"Kamu baik-baik aja, kan? Aku khawatir banget sama kamu!" tanya Aqila yang kembali memeluk Adhim.
"Kamu siapa?" tanya Adhim datar, sikap dinginnya mulai muncul kembali.
Aqila langsung melepaskan pelukannya setelah mendengar kata itu keluar dari mulut Adhim.
"Maksudnya?" tanya Aqila sambil menghapus sisa air matanya yang membekas di kedua pipinya.
Mohon dukungannya dari kalian semua 😊.
Jangan lupa klik dulu fav yang ada di bawah ini, tinggalkan like, rate 5, dan juga vote dari kalian semua. Karena itu membuat author tambah bersemangat dalam membuat ceritanya.
Terima kasih, sampai jumpa di episode selanjutnya 🤗.
__ADS_1