
"Apakah Aqila bisa menerima perjodohan ini?" gumam Saddam mengingat-ingat putri semata wayangnya itu.
"Aku harus memberi tahukannya secepatnya." Saddam dengan cepat berjalan menuju mobilnya.
Sesampainya di rumah sederhana miliknya, ia langsung mencari keberadaan istrinya.
"Assalamu'alaikum, Ma!" salam Saddam dengan lantangnya, sampai terdengar ke ruang belakang.
"Ada apa, Pa? Kenapa teriak-teriak?" tanya Asti bingung, dia menghampiri Saddam yang sedang duduk di kursi dengan wajah cemas.
"Apa Aqila sudah pulang?" tanya Saddam memastikan, dari tadi ia tidak melihat di rumah itu.
"Belum, memangnya kenapa?" tanya Asti yang semakin penasaran.
"Pak Kolin menawarkan jika, Aqila di jodohkan dengan anaknya, perusahaan kita akan berjalan dengan baik. Kalau tidak menerima penawaran itu, kita akan hidup seperti ini dan bagaimana dengan pendidikan Aqila nanti?" jelas Saddam yang masih dengan wajah khawatir.
"Aku pikir, kalau kita bisa menjodohkannya pendidikan Aqila akan baik. Apa kita terima saja?" usul Saddam, ia semakin pusing memikirkan masalah ini.
"Tidak! Aku tidak mau kalau Aqila di jodohkan tanpa dasar cinta, bagaimana kalau nanti dia sengsara?" Asti tidak menyetujui apa yang di pikirkan suaminya itu.
"Dengar, dulu saat kita menikah kita tidak di dasari cinta. Tapi, kita bisa hidup rukun seperti ini," ujar Saddam meyakini Asti.
"Tapi ... apakah Aqila akan menerima semua ini?" tanya Asti lirih.
"Kita akan meyakinkan Aqila agar menerima perjodohan ini, kamu tenang saja, oke," jawab Saddam sambil memegang tangan istri tercintanya itu.
🍁🍁🍁
"Aqila bangun, Aqila ...." ucap seseorang sambil memukul pelan pipi Aqila. Tak lama, mata Aqila mulai terbuka perlahan.
"Akhirnya lo bangun juga," ucap Rendi lega.
"Rendi? Ngapain lo di sini?" tanya Aqila bingung sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit.
"Gue mau bawa lo pulang. Tapi, pas gue masuk UKS lo langsung pingsan, ya udah gue nungguin lo di sini," jelas Rendi sambil tersenyum manis.
Flashback
"Hallo, Tuan?
ucap seseorang di balik telpon yang berbadan kekar dengan memakai pakaian rapih.
"Apa lo dapet informasi?
__ADS_1
tanya Rendi santai.
"Saya dapat informasi kalau non Aqila dan Jio resmi pacaran, Tuan. Dan ... hal yang tak terduga telah terjadi pada non Aqila,
jelas orang itu, yaitu salah satu bodyguard Rendi.
"Apa yang terjadi sama Aqila?!
tanya Rendi yang mulai khawatir.
"Tiba-tiba saja, bola basket yang di mainkan Jio mengenai kepala non Aqila, dan sekarang dia sedang di bawa ke UKS, Tuan,
jawab bodyguard itu singkat.
"Oke, lo balik ke rumah, gue akan ke sana sekarang!
"Baik, Tuan.
Rendi langsung pergi ke sekolah Aqila.
"Lo!? Ngapain lo di sini?" tanya Jio yang baru keluar dari UKS.
"Lo ikut gue!" Rendi langsung menarik baju seragam Jio menuju belakang perpustakaan.
"Santai, bro. Gue cuman ngancem dia," ucap Jio santai sambil melepas kasar tangan Rendi darinya.
"Lo ngancem apa!" tanya Rendi yang kembali menarik kerah baju Jio.
"Mau jadi pahlawan lo, hah?! Udah lah, Lo cuman sahabat Aqila dan gue pacarnya, lo tau itu," jelas Jio yang masih tetap santai.
"Oke, kalau sampai Aqila kenapa-napa gue gak akan maafin lo! Ngerti!" ancam Rendi dan mendorong tubuh Jio sampai menghantam tembok di belakangnya.
Salah satu sudut bibinya naik, ketika Rendi meninggalkannya sendiri di sana.
"Liat aja, gue pasti bisa buat Aqila jatuh cinta sama gue," gimana Jio sambil menatap tajam ke arah Rendi.
Flashback end
"Jio ngancem apa sama lo, La? Sampai-sampai lo mau jadi pacar dia?" batin Rendi menatap Aqila sendu.
"Lo kenapa? Malah bengong. Gue mau pulang, kita pulang sekarang ya?" ajak Aqila sambil cemberut.
"Oke, gue anter lo pulang sekarang." tanpa basa-basi, Rendi memapah Aqila menuju parkiran.
__ADS_1
"Tu cowok siapa? Dari seragamnya, dia kayaknya bukan siswa sini deh," gumam Lidya, orang yang mengobati Aqila tadi.
"Jangan-jangan ... dia pacar Aqila? Cewe itu, udah deketin Jio tapi punya pacar. Kenapa juga Jio mau sama tu cewe ya? Mending gue udah cantik, setia gak kaya tu cewe," gumam Lidya kesal melihat Aqila.
"Udahlah, ngapain juga gue mikirin tu cewe." Lidya langsung berjalan menuju kelasnya, niatnya untuk mengecek Aqila tidak jadi ia laksanakan.
🍁🍁🍁
"Kalian semua tau? Yang buat Aqila keluar dari sekolah ini, gara-gara cewe ini. Siska sama gue sebenarnya udah tau, tapi karena dia ngancem Siska. Akhirnya kita berdua tutup mulut," jelas Fatih dengan lantangnya.
"Kalau kalian semua gak percaya gue gak peduli, tapi ini adalah fakta, gue sama Siska denger sendiri kalau Nadya juga yang dulu nabrak Aqila!" sambung Fatih sambil melihat semuanya dengan tatapan sinis.
Flashback
"Itu Nadya bukan sih?" tanya Siska ragu, sambil menunjuk ke arah Nadya dan kedua temannya yang ingin masuk ke sebuah salon.
"Iya itu Nadya, kita ikutin mereka, yu." Fatih langsung menarik tangan Siska dan mengikuti Nadya dari belakang.
"Pokonya, gue seneng banget hari ini. Aqila di keluarin dari sekolah, itu rencana kita. Dan ... kalian tau. Aqila waktu itu ke tabrak mobil dan itu juga gue pelakunya," ucap Nadya yang sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya.
"Itu semua ulah lo, Nad? Gue gan percaya lo bakal ngelakuin itu semua sama Aqila," ujar Nency kaget, kedua temannya tidak tau kalau watu itu Aqila tertabrak karena ulah Nadya.
"Gue akan ngelakuin apapun demi mendapatkan hati Adhim," sahut Nadya menatap Nency mantap.
"Nanda bener-bener jahat, dia ngelakuin ini sama Aqila? Gue gak bisa tinggal diam!" gumam Siska kesal, hampir saja Siska menghampiri Nadya, Fatih menahan tangan Siska dan mengingatkannya supaya tidak bertindak gegabah.
Akhirnya keduanya memilih pergi dari salon itu.
Flashback end
"Gue benci banget sama lo, Nad!" ucap Adhim sambil menatap Nadya penuh dendam.
"Gue gak nyangka, lo bakal ngelakuin hai serendah itu," sindir Adit yang menatap Nadya sama seperti Adhim menatapnya.
"Ini semua gak bener, kalian denger penjelasan gue, gue mohon," ucap Nadya yang merasa dirinya terpojokkan.
"Ini semua gara-gara Nency dan Sarah, mereka berdua yang ngerencanain semua ini. Gue hanya nurutin apa yang mereka minta," jelas Nadya menyalahkan orang lain.
"Kok jadi kita? Lo sendiri yang ngerencanain semua ini!" teriak Sarah yang tiba-tiba datang dan tidak terima dengan perkataan Nadya.
"Lo emang licik banget, Nad. Gue gak nyangka, lo anggep kita itu apa, hah!?" teriak Nency menatap Nadya kecewa.
"Nggak, gue bener-bener minta maaf. Dhim, gue bener-bener nyesel ngelakuin ini. Dit, maafin gue, gue gak bermaksud manfaatin lo. Gue mohon maafin gue semuanya." Nadya bertekuk lutut di hadapan Adhim, Adhim dan semuanya.
__ADS_1
"Kita pergi aja dari sini, tinggalin dia sendirian," teriak Sarah dan semua yang berada di sana pergi meninggalkan Nadya sendirian.