
"Aqila ada apa?" tanya Hendrik sekali lagi, pertanyaannya membuyarkan lamunan Aqila.
"Qila gak kenapa-kenapa kok, jadi kalian tenang aja," ucap Aqila, dia berusaha menahan air matanya yang dari tadi sudah membendung di kedua pelupuk matanya.
Tak lama setelahnya, Pak Fahri keluar dari ruangannya saat mendengar suara berisik dari arah luar.
"Ada apa ini? Kenapa kalian semua ada di sini?" tanya Pak Fahri kepada semua murid, terlihat dari tatapannya yang tajam membuat semua murid yang berada di sana terdiam dan menunduk.
"Apa Aqila di keluarkan dari sekolah ini, Pak?" tanya Nadya memberanikan diri.
Pak Fahri tidak langsung menjawab dan menatap Aqila dengan tatapan kecewa sekaligus kasihan.
"Udah Pak, keluarin dia aja dari sini. Baru juga beberapa bulan pindah, udah buat masalah aja," teriak salah satu siswa dari belakang.
"Iya tuh pak bener. Keluarin aja dia," ucap semuanya serempak kecuali Hendrik, Siska dan Rendy.
"Udah! Jangan ribut di sini, ini sekolahan. Kalian bubar dari sini, bubar!" kata Pak Fahri dengan lantang dan tegas.
"Huuhhhuuu ...." Semuanya membubarkan diri dan melanjutkan kegiatannya masing-masing.
"Kamu Aqila, selesai istirahat kamu boleh pergi dari sini," ucap Pak Fahri dan kemudian pergi meninggalkan mereka berempat.
"Aqila, gue gak siap lo ninggalin gue. Nanti siapa yang nemenin gue ke kantin lagi? Siapa yang duduk sebangku sama gue lagi?" kata Siska sambil memegang kedua tangan Aqila, air matanya sudah membasahi pipi putihnya itu.
"Lo orang yang paling baik, polos dan lugu yang pernah gue kenal selama hidup gue. Lo jangan lupain gue yang ganteng sedunia ini ya, La," jelas Rendi nyengir.
"Yeh ... lo, situasi gini juga masih aja bercanda," gerutu Siska sambil menepuk punggung Rendi pelan.
"Emang gue cowo paling ganteng di dunia ini, kan? Iya gak, La?" sahut Rendi dan langsung menatap ke arah Aqila, dari tatapannya menunjukkan kalau Aqila harus menjawab iya.
Aqila tersenyum dan menghapus air matanya sambil berkata, "Iya deh, iya."
"Aqila aja setuju, massa lo nggak," sindir Rendi tidak mau kalah dengan Siska. Siska langsung menatap Rendi tajam.
"Meskipun lo gak ada di sekolah ini, tapi gue akan selalu jagain lo terus. Gue janji sama lo," kata Hendrik, senyum mengembang di bibirnya.
"Iya makasih."
🍁🍁🍁
__ADS_1
"Adhim ...." Nadya langsung berlari dan memeluk Adhim dari arah belakang.
"Jangan pegang-pegang gue, bisa gak!" kata Adhim penuh penekanan.
"Kok kamu gitu sih? Kita ke kelas kamu aja yu, aku pengen bicara sama kamu." Dengan cepat, Nadya menarik tangan Adhim menuju kelas X IPA 2.
"Ets, kamu mau kemana? Mending sama aku aja," ucap Sarah sambil memegang tangan Hans dari samping.
"Apaan sih!" Hans melepas kasar tangan Sarah darinya.
"Udah jangan ganggu mereka, mending sama kita aja," sahut Nency dan membawa keduanya ke arah kantin.
Belum sempat Nency menarik tangan Hans, Hans dengan cepat pergi dari tempat itu.
"Eh, lo mau kemana? Jangan tinggalin gue di sini. Hans!" teriak Fatih. Dia mencoba membebaskan diri dari kedua cewe itu, tapi hasilnya sia-sia saja.
"Hai, Cika. Kok sendirian aja? Abang temenin, mau gak?" goda Hans kepada Cika.
"Apaan si lo! Gue gak suka ya sama lo," sahut Cika ketus. Dia tidak menghiraukan Hans lagi.
"Tenang Hans, ini bukan yang pertama lo suka sama cewe. Liat aja, akhirnya nanti lo suka sama gue," gumam Hans sambil melihat Cika yang berjalan menjauh darinya.
____________________
Tanpa ada jawaban, semua siswa keluar dari kelasnya dan mencari tempat yang nyaman.
"Lo mau ngapain?" tanya Adhim, suaranya terdengar jelas di ruangan itu.
Nadya menutup pintu kelas Adhim dan kemudian berjalan mendekatinya. Aksinya di mulai sekarang.
Nadya merapihkan seragam Adhim yang berantakan, dia melanjutkan aksinya dengan melingkarkan kedua lengannya di leher Adhim.
"Lo apa-apa sih!" bentak Adhim, dia melepaskan tangan Nadya darinya.
"Ini gak akan lama kok, dan gak akan terjadi apa-apa. Jadi, tenang aja." Seakan Nadya sudah merencanakan semua ini dengan sempurna.
____________________
"Maaf, tapi gue gak bisa lama-lama di sini. Gue harus ke RO ada yang harus gue kerjain," jelas Hendrik.
__ADS_1
"Kalian jaga diri baik-baik ya, Qila pergi dulu. Tapi sebelum itu, Qila mau temuin Adhim untuk terakhir kalinya," ucap Aqila dan berjalan meninggalkan teman-temannya.
"Gue ikut sama lo," sahut Siska, belum sempat dia berlari menyusul Aqila, Adit tiba-tiba mencegahnya dan berkata, "Lo di sini ajaAAa, gue yang akan nemenin dia. Sekalian, gue juga mau minta maaf sama dia soal semalam."
Siska hanya diam menatap Adit ragu. "Gue mohon," sambung Adit meyakini Siska. Siska pun mengangguk dan memilih untuk memberi kesempatan Adit bicara.
"Aqila gue ikut," teriak Adit dan berlari agar berjalan sejajar dengan Aqila.
"Inget, Qila masih marah sama Adit loh." Aqila menatap Adit tajam sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Aqila tidak mau bertemu Adit, karena saat dia menatapnya dia terus mengingat kejadian semalam.
____________________
Nadya mendekatkan wajahnya dengan wajah Adhim, lebih dekat ... lebih dekat lagi. Adhim yang tidak bisa berbuat apa-apa, tiba-tiba pintu terbuka lebar. Sehingga ruangan itu di penuhi cahaya dari arah luar.
Nadya yang masih terdiam di tempat, kemudian menoleh ke arah depan pintu kelas untuk memastikan siapa yang mengganggu rencananya itu.
Senyum puas mengembang di bibirnya, setelah melihat siapa yang berada di depan pintu. Seakan rencana yang dia lakukan berhasil dan akan terjadi perang besar.
"Aqila ...." gumam Adhim kaget, terlihat jelas Aqila berdiri tepat di depan pintu yang terbuka lebar.
Aqila menggeleng pelan sambil menutup mulutnya dengan satu tangan, tanpa aba-aba air matanya satu per satu berjatuhan membasahi pipinya. Dia tidak menduga kalau Adhim akan melakukan hal ini kepadanya.
"Aqila ada apa?" tanya Adit heran, melihat Aqila berdiri di depan pintu kelas Adhim.
Adit menoleh ke arah Nadya dan Adhim dan berkata, "Lo, bener-bener ngelakuin ini? Lo gak kasian sama Aqila apa?"
Adhim melepas tangan Nadya darinya dan berjalan perlahan ke arah Aqila sambil berkata, "Ini bukan apa yang lo pikirin, La. Gue bisa jelasin semua ini."
Aqila berlari dengan sekuat tenaga. Dia tidak sadar kalau ada yang memata-matai dia dari tadi.
"Gue gak akan tinggal diam kalau lo sakitin Aqila lagi," ucap Rendi yang sedari tadi mengamati kejadian itu.
Tanpa berpikir panjang, Adhim mengejar Aqila. Tiba-tiba dari arah samping, Rendi mendorong Adhim dengan keras, sehingga punggungnya menghantam tembok kelasnya.
"Camkan ini baik-baik! Jangan harap lo bisa deket lagi sama Aqila. Ngerti!" kata Rendi penuh penekanan, Adhim hanya diam menyesali perbuatannya itu. Rendi melepaskan tangannya dari kerah seragam Adhim dan berlari menyusul Aqila.
____________________
"Kita berhasil," Senyum puas mengembang di bibir Nadya. "Kamu inget, kan? Jangan sampai kamu suka beneran sama dia," sambung Nadya.
__ADS_1
"Aku gak bakal suka sama dia. Drama ini kita buat hanya sekedar untuk balas dendam. Jadi, kamu jangan khawatir, oke." Adit memeluk Nadya dan melepasnya kembali, agar tidak ada yang mencurigai mereka berdua.