
Sesampainya di sekolah,semuanya pulang ke rumah ada yang di jemput ada juga yang membawa kendaraan sendiri.
Aqila kali ini tidak di jemput oleh orang tuanya karena mobil di pakai ayah ke kantor,ibunya sedang menjaga nenek di rumah,jadi terpaksa Aqila pulang sendiri.
Aqila menunggu angkot di depan gerbang sekolah,Adhim sempat melihat Aqila sedang berdiri sendiri an di depan gerbang,dia mau menghampirinya tapi...tiba tiba ada yang memanggilnya
"Aqila"teriak Hendrik sambil melambaikan tangannya,Aqila pun menoleh ke arah datangnya suara itu
Niat Adhim menghampiri Aqila tidak jadi ia lakukan sebab yang memanggil Aqila adalah Hendrik.
Hendrik pun menghampiri Aqila dan bertanya "Lo pulang sendiri?"tanya Hendrik memastikan,Aqila hanya mengangguk
Hendrik tersenyum dan berkata di dalam hati 'Ini kesempatan gue untuk Deket sama Aqila'
"Kalau gitu bareng gue aja,mumpung gue bawa mobil"ajak Hendrik,Aqila tidak menjawabnya tapi Hendrik langsung menarik tangan Aqila ke arah mobilnya
Adhim yang dari tadi memperhatikan mereka mengepalkan kedua tangannya dan naik ke motor besarnya itu.
"Dhim,Lo jeles liat mereka jalan berdua?"tanya Hans yang juga ada di sana
Tanpa menjawabnya Adhim memakai helm dan melajukan motornya ke jalan raya dengan kecepatan di atas rata rata.
Hans dan Fatih pun mengejar Adhim dengan menggunakan motor masing masing.
"Hendrik gak usah Qila bisa pulang sendiri kok"cegah Aqila dan melepaskan genggaman tangan Hendrik
"Dengan keadaan Lo seperti ini?Gimana kalau nanti di angkot penuh dan kaki Lo sakit lagi?"tanya Hendrik khawatir
Aqila tampak berpikir sekejap dan masuk ke dalam mobil Hendrik
"Nanti kita ke rumah sakit dulu baru pulang,oke"jelas Hendrik yang sudah ada di dalam mobil,Aqila mengangguk saja tanpa menoleh kepada Hendrik
"Kita pulang aja ke rumah Qila,soalnya Qila gak bawa uang"ucap Aqila memecahkan keheningan
"Tenang aja itu urusan gue,di sana ada temen aku yang jadi dokter. Kamu jangan khawatir"jelas Hendrik yang tetap pokus ke depan. Aqila menganggukkan kepalanya
Sesampainya di rumah sakit Hendrik turun dan membukakan pintu untuk Aqila dan membantunya berjalan.
"Permisi ruang dokter Sani di mana ya?"tanya Hendrik kepada salah satu suster di rumah sakit tersebut
"Lurus aja terus belok kanan di sana ada tulisan ruang dokter di situ dokter Sani"jelas suster
"Terimakasih"ucapnya sopan dan berjalan menuju ruang dokter
__ADS_1
"San,tolong obatin dia. Kakinya ada luka sobek,apa perlu di jahit?"tanya Hendrik yang sudah masuk ke ruang dokter
Dokter Sani membawa Aqila ke ranjang dan membuka perban yang ada di kakinya
"Gue tunggu di luar"ucap Hendrik kepada Aqila dan Aqila mengangguk
Setelah menunggu beberapa menit,Hendrik masuk ke dalam di sana sudah ada Aqila dan dokter Sani sedang duduk berhadapan.
"Kalau di olesnya rajin pasti cepet sembuh dan ini resepnya bisa di tebus ke apotik yang ada di rumah sakit ini"jelas dokter Sani sambil tersenyum
"Aku aja yang tebus obatnya,kamu tunggu tunggu di sini. San,titip dia ya"ucap Hendrik nyengir,dia pun berjalan ke luar
Setelah Hendrik ke luar dokter Sani bertanya ke Aqila "Kamu pacar nya Hendrik ya?"
"Hah?Bukan kok cuman temen biasa aja"jawab aqila Kaget
"Kirain,,dulu waktu masih SMP Hendrik itu ketua OSIS,semua cewe suka sama dia bahkan mereka mencari segala cara untuk dapetin Hendrik. Tapi gue sih nggak kayak mereka gue cuman temen dekat Hendrik. Bahkan dulu ada yang nembak dia di depan banyak orang,tapi di tolak sama Hendrik"jelas dokter Sani panjang lebar dan keduanya tertawa
"Sampai segitunya ya?"tanya Aqila tidak menyangka
Hendrik masuk dan berkata,,,"Kalian ngomongin apa sih?Kayaknya seru banget"tanya Hendrik dan duduk di samping Aqila
"Nggak kok"jawab dokter Sani sambil tersenyum
Sampai di parkiran Hendrik kembali membukakan pintu untuk Aqila masuk dan Hendrik berjalan ke samping satunya lagi.
Di tengah perjalanan tidak ada perbincangan antara keduanya. Hendrik yang sibuk menyetir dan Aqila hanya menatap ke kaca mobil.
Tak lama setelahnya mobil Hendrik berhenti di sebuah toko boneka. Aqila heran kenapa Hendrik berhenti di sini. Hendrik pun membuka pintu mobilnya dan berkata kepada Aqila,,,
"Ayo turun"suruh Hendrik tanpa menjawab Aqila pun membuka pintu mobil dan turun
"Ngapain ke sini?"tanya Aqila bingung,sudah berada di dalam toko tersebut
"Kalau gak salah kamu suka sama boneka kan?Jadi aku bawa ke sini,kamu boleh pilih yang mana saja yang kamu suka"kata Hendrik tersenyum
'Meskipun Adhim yang bawa Qila ke sini,pasti Qila seneng banget. Tapi rezeki gak boleh di tolak' kata batinnya
Aqila memilih dua boneka ukuran sedang karena dia hanya membawa uang sedikit.
"Udah segitu?"tanya Hendrik heran
"Udah"jawab Aqila singkat,Hendrik mengelilingi toko tersebut
__ADS_1
"Ini uangnya"Aqila memberikan uang sakunya kepada kasir
"Eh kenapa Lo yang bayar?"tanya Hendrik sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya dan membawa satu boneka besar
"Ya mau bayar boneka ini"kata Aqila dengan polosnya
"Gak usah aku aja,massa aku yang ngajak kamu ke sini kamu yang bayar sih"kata Hendrik menaruh boneka besar itu di meja kasir
"Ini"Hendrik memberikan sebuah kartu dan membawa bonekanya
"Hendrik makasih ya"ucap Aqila tersenyum senang
"Iya,sama sama"balas Hendrik lembut. Dia pun menyalakan mobil dan melajukan mobil nya ke jalan raya
🍁🍁🍁
Sekarang Hendrik membawa Aqila ke sebuah taman dan duduk di salah satu kursi.
Aqila duduk menunggu Hendrik,sedangkan Hendrik sedang mencari cari bunga.
Hendrik menghampiri Aqila sambil membawa bunga di belakang punggungnya
"Aqila,,ini buat kamu"ucap Hendrik sambil memberikan sekuntum bunga mawar
Aqila menerima nya dan sempat menanyakan
"Maksudnya apa?"
Hendrik tersenyum dan memandang Aqila dan berkata,,,
"La,semenjak aku liat kamu,aku udah suka sama kamu"Hendrik mulai menjelaskan
"Jadi,,?"tanya Aqila semakin penasaran,Hendrik memegang tangan Aqila sontak membuat Aqila kaget
"Kamu mau gak jadi pacar aku"ucap Hendrik dengan PD nya
"Maafin Qila.Tapi,,Hendrik tau kan Aqila suka sama siapa"ucap Aqila melepaskan tangan Hendrik dan berdiri
"Aku tau kok,tapi kamu nggak harus jawab sekarang"ucap Hendrik tersenyum dan Aqila mengangguk dan Kembali ke mobil Hendrik di susul oleh Hendrik
Di perjalanan Aqila terus memikirkan Adhim dan Hendrik,apakah dia harus menyerah untuk dapetin Adhim atau malah sebaliknya?Ini hanya soal waktu.
"Ada saatnya kamu harus berhenti peduli bukan karena lelah mencintai tapi agar seseorang belajar arti menghargai"
__ADS_1