
Satu Minggu telah berlalu, Adhim dan Aqila belum menemukan bukti apapun kalau Aqila tidak bersalah dalam hal ini. Tinggal menghitung jam untuk mereka menemukan bukti yang bisa membebaskan Aqila dari masalah ini.
"Sudah ada bukti kalau lo gak bersalah?"tanya Siska memastikan.
"Belum,"balas Aqila dengan wajah masam.
"Gue yakin kalau Nadya yang ngelakuin semua ini!"ucap Siska dengan penuh kebencian di wajahnya.
"Jangan menuduh orang sembarangan. Kita kan gak punya bukti kalau kak Nadya bersalah,"sahut Aqila.
"Gue bukan nuduh, La!Siapa lagi yang benci sama lo selain Nadya?Coba lo pikirin."Siska semakin marah.
"Ya...Qila gak tau. Tapi bisa aja kan, di luar sana ada yang benci sama Aqila,"usul Aqila, mencoba menenangkan Siska.
"Terserah lo deh!"Siska pergi meninggalkan Aqila dan Rendi di kelas.
"Beri waktu untuk Siska meredakan amarahnya, La."Rendi mencegah Aqila yang ingin mengejar Siska.
Drrrttt....drrrttt..ponsel Rendi tiba-tiba berbunyi.
"Hallo, Dhim?
Rendi memulai pembicaraan.
"Lo lagi sama Aqila gak?
tanya Adhim memastikan.
"Iya gue lagi sama Aqila. Kenapa emang?
balas Rendi, di pikirannya penuh tanda tanya.
"Sekarang juga lo sama Aqila pergi ke cafe dekat sekolah. Ajak Siska sama Hendrik juga,
jelas Adhim, suaranya terdengar seperti berbisik.
"Tapi buat apa ke sana?Bentar lagi masuk nih,
sahut Rendi dari balik telepon.
"Udah jangan banyak omong, pergi aja ke sana. Gue, Fatih sama Hans lagi di sini. Cepetan!
kata-kata terakhir Adhim, membuat Rendi semakin penasaran.
Tak berpikir panjang Rendi mengajak Aqila ke tempat yang Adhim bicarakan.
🍁🍁🍁
"Gue kesel banget!Kenapa Aqila selalu belain cewe itu sih?Mungkin Aqila terlalu baik, jadi dia tidak sedikitpun curiga kepada Nadya."pikir Siska, dia mulai cape dengan sikap Aqila.
"Siska!"teriak Hendrik dari kejauhan.
Siska menoleh kearahnya. "Apa?"tanya Siska dengan wajah yang masih kesal.
__ADS_1
Hendrik tidak langsung mengubrisnya, dia malah menarik cepat tangan Siska dan membawanya ke parkiran.
"Eh. Lepasin gue!"bentak Siska, mencoba melepaskan genggaman tangan Hendrik, tapi genggamannya semakin kuat.
"Lo mau ngajak gue ke mana?Woy!Lo denger gak sih?"Siska mulai kesal dengan sikap Hendrik.
"Diem!Udah jangan banyak omong. Ikut aja, apa susahnya sih!"bentak Hendrik dengan tatapan tajam, membuat Siska menutup mulutnya.
Tak lama setelahnya, mereka sudah sampai parkiran. Di sana sudah ada Aqila dan Rendi yang sudah menunggu dari tadi.
"Lama banget sih!"ucap Rendi sedikit kesal.
"Maaf tadi gue cari Siska dulu, jadi lama deh."balas Hendrik sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ada kalian juga?Ada apa sih sebenarnya?"tanya Siska terheran-heran.
"Adhim minta kita ke cafe dekat sekolah, katanya ada yang mau di bicarakan. Penting."jelas Rendi, Siska mengangguk.
"Kirain ada apa,"ucap Siska, menatap ke arah Hendrik tajam.
"Haahhaa....maaf, kalau gue jelasin tadi, waktu kita gak banyak. Lo kalau lagi ngambek lucu juga ya, haahhaaa."balas Hendrik sambil mengacak-ngacak rambut Siska.
"Ih!Gue udah punya pacar tau!"bentak Siska, membereskan rambutnya yang sudah di acak-acak Hendrik.
"Gue juga tau kali. Santai aja,"ketus Hendrik.
"Ya udah kita ke sana sekarang."Aqila angkat bicara.
Mereka menggunakan mobil Rendi sebagai kendaraan agar cepat sampai di cafe yang di bicarakan Adhim tadi.
"Woy!"Rendi menepuk bahu Hans.
"Ayam di makan kodok. Eh, ayam di makan kodok,"Hans kaget dan langsung menutup mulutnya ketika dia salah mengucapkan kata.
"Berisik!"bentak semuanya.
"Lo sih ngagetin gue!"ucap Hans kesal.
"Salah lo sendiri. Kenapa tadi kaget?"Rendi membela diri.
"Udah!"ucap Hendrik. "Ngapain lo ngajak kita ke sini?"sambung Hendrik.
"Gue curiga kalau Nadya itu pelakunya,"balas Adhim dengan percaya diri.
"Apa lo punya bukti kalau dia pelakunya?"tanya Rendi memastikan.
"Belum sih. Tapi gue akan cari tau."sahut Adhim dengan yakinnya.
"Udah satu Minggu ini gue dan Aqila ikutin Nadya, tapi sampai sekarang belum ada bukti kalau Nadya bersalah. Tapi gue gak menyerah gitu aja, gue yakin kalau Aqila gak bersalah sama sekali."jelas Adhim dengan rincinya.
"Lo tenang aja. Kita akan bantuin lo dan Aqila cari tau yang sebenarnya, iya gak?"kata Hendrik mewakili semuanya.
"Iya benar. Lo gak sendirian, kita selalu ada di sini buat lo,"Siska angkat bicara.
__ADS_1
"Makasih."Aqila terharu, air matanya sudah membendung di pelupuk mata.
"Kalau gitu kita balik ke sekolah. Bentar lagi masuk nih,"Hendrik menyarankan.
"Kalian duluan aja, gue mau ngomong bentar sama Aqila,"balas Adhim sambil menatap Aqila lekat.
"Ya udah kalian duluan aja. Nanti Aqila pasti nyusul kok."sahut Aqila sambil tersenyum.
"Kalau gitu kita pamit ya. Bye."pamit Siska dan kemudian berjalan ke luar cafe tersebut.
Tak lama setelah mereka keluar, Adhim mulai memberanikan diri untuk berbicara.
"La, maafin aku,"ucap Adhim merasa bersalah.
"Maaf soal apa?"tanya Aqila kebingungan.
"Aku gak bisa buktiin kalau kamu gak bersalah. Tapi kamu tenang aja, aku pasti bisa ngebuktiin kalau kamu gak bersalah. Aku janji,"kata Adhim meyakinkan Aqila.
"Gak papa kok, kalau takdir Aqila keluar dari sekolah dengan cara yang seperti ini, Aqila ikhlas. Dan Aqila tetap akan inget teman-teman Aqila di sini."balas Aqila sambil tersenyum.
Tiba-tiba Adhim repleks memeluk Aqila dengan erat. Aqila terpaku saat Adhim memeluknya.
"Adhim..."gumam Aqila.
"Aku yang gak ikhlas kalau kamu keluar dari sekolah ini. Aku tau, kalau dulu aku benci banget sama kamu, tapi sekarang beda. Aku...."Adhim tidak melanjutkan perkataannya.
"Apa?"tanya Aqila terbata-bata.
"Aku sebenarnya....kamu,"ucap Adhim gugup.
"Aku apa?Kamu apa?"tanya Aqila yang semakin penasaran.
"Aku su...tutup!"Adhim sontak memberikan buku daftar menu kepada Aqila saat melihat Nadya dan kedua temannya masuk ke dalam cafe tersebut, untuk menutup wajahnya.
"Ada apa?"bisik Aqila bingung.
"Nadya ada di sini."balas Adhim dengan wajah cemas.
"Apa yang kak Nadya lakuin di sini?"tanya Aqila heran.
"Aku juga gak tau. Tapi kita harus cari tau!"sahut Adhim dan langsung berjalan ke arah tembok dekat Nadya duduk.
"Gue seneng banget hari ini,"Nadya mulai menceritakan kepada teman-temannya.
"Apa yang senang dari hari ini?"tanya Nency kebingungan.
"Apa lo lupa?Tiga hari lagi Aqila keluar dari sekolah kita. Jadi gak ada yang ngejalanin gue buat deketin Adhim lagi."jelas Nadya dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Oh iya. Gue gak sabar nunggu hari itu datang. Ini semua berkat kita. Iya gak?"kata Nency sambil tersenyum licik.
"Iya lah. Kita di lawan."balas Sarah, ketiganya tersenyum senang.
Mau tau kelanjutan ceritanya bagaimana?Tunggu di chapter selanjutnya 😁. Jangan lupa untuk like, komen, saran, dan vote juga.
__ADS_1
Terima kasih untuk para readers 🤗sudah membaca novel recehan ini, semoga suka. 🙏