Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
Rencana Perjodohan


__ADS_3

"Gue anter lo pulang, oke." Rendi memegang tangan Aqila dari belakang ketika melihatnya sedang berjalan sambil menangis ke arah gerbang depan sekolah.


"Gak usah. Qila bisa sendiri kok," ujar Aqila sambil melepas tangannya dari Rendi.


"Nggak ... gue anter lo pulang. Sekarang!" tanpa ada balasan dari Aqila, Rendi berkata kembali, "Dan .... kali ini jangan nolak. Oke."


Rendi melangkah menuju mobilnya dan masuk ke dalam mobil bersama Aqila.


"La!" belum sempat Aqila membuka pintu mobil, Adhim langsung memegang tangan Aqila.


"Lepasin tangan Qila," ucap Aqila sambil berusaha keras melepaskannya.


"Gue bisa jelasin semuanya. Gue mohon, La," sahut Adhim dan kemudian menariknya menjauh dari mobil Rendi.


"Lo denger, kan? Lepasin tangan Aqila." Rendi menyusul keduanya dan langsung melepaskan tangan Aqila dari Adhim. "Lo mau jelasin apa lagi? Semuanya udah jelas, kan?! Jadi lo jangan deket apalagi megang tangan Aqila. Ngerti! Aqila, kita pergi aja dari sini."


"Ren, gue bisa jelasin semuanya. Denger dulu penjelasan gue, Ren! Aqila. Percaya sama gue, gue gak akan pernah ngelakuin hal sebodoh itu. Karena gue suka sama lo, La," jelas Adhim, nadanya merendah ketika mengatakan kalimat terakhir, tanpa berpikir panjang, Adhim berlari menghampiri mobil Rendi.


"Minggir!" bentak Rendi kepada Adhim.


"Tapi Renβ€”" belum selesai Adhim berbicara, mobil Rendi sudah berjalan keluar sekolah.


____________________


"Kok Aqila lama banget sih? Perasaan gue jadi gak enak," gumam Siska. "Apa gue samperin aja ya?" sambungnya.


"Yang," tiba-tiba Fatih menepuk punggung Siska, sontak membuat Siska kaget.


"Ish, kamu! Bisa gak, gak ngagetin gitu ...." ucap Siska sedikit kesal.


"Aku liatin dari tadi, kamu kenapa bengong. Ada apa?" tanya Fatih penasaran, tapi Siska tidak menyahutnya.


"Kamu dari mana aja sih?" tanya Siska balik, baru kali ini pacarnya itu hilang kabar dari kemarin.


"Abis ... ada pokonya, kalau di ceritain bisa sampai Maghrib kita di sini," sahut Fatih sambil menggaruk kepalanya.


"Oh iya, kamu liat Aqila gak? Dari tadi aku nungguin di sini gak ada juga," jelas Siska. Fatih tidak tau harus berkata apa. Karena yang ia tau, dia melihat Aqila berlari ke arah kelas Adhim di susul Adit.


"Aqila? Aku gak tau, emang kenapa?" tanya Fatih semakin penasaran.


"Tadi katanya sih, dia mau ketemu Adhim. Tapi sampai sekarang gak balik juga," jawab Siska dengan perasaan yang semakin khawatir.


"Adhim!? Tadi Nadya membawanya ke kelas, tapi gak tau mau ngapain," jelasnya.


"Nadya?! Kamu serius?" tanya Siska memastikan.


"Iya serius."

__ADS_1


"Kamu anter aku ke rumah Aqila. Sekarang!" ucap Siska terburu-buru, keduanya berlari ke arah parkiran untuk mengambil motor Fatih dan menuju rumah Aqila.


🍁🍁🍁


"Assalamu'alaikum, Mah," salam Saddam dengan lesunya.


"Wa'alaikumussalam. Eh Papah, tumben pulang lebih awal, ada apa?" tanya Asti sambil meletakkan teh panas di atas meja. Dan duduk di samping suaminya.


"Apa Aqila sudah pulang?" tanya Saddam tanpa menjawab pertanyaan dari istrinya itu.


"Belum ... sebenarnya ada apa, Pah?" tanya Asti semakin penasaran. Saddam tampak berpikir sejenak, dia memikirkan bagaimana dia bisa menjelaskannya.


"Aqila sekarang semakin tumbuh dewasa. Lihat, dia tumbuh menjadi anak yang baik dan berbakti. Aku berpikir, apa kita jodohkan dia saja?" jelas Saddam sambil menatap foto Aqila yang sudah berada di tangannya.


"Apa Aqila mau menerima semua ini? Lagi pula, dia masih sekolah."


"Kita bisa memberitahunya setelah lulus sekolah nanti. Kebetulan partner kerja papah, punya anak laki-laki," jawab Saddam dengan yakinnya.


____________________


"Rendi ...." Aqila menangis dalam pelukan Rendi.


"Gue tau apa yang lo rasain saat ini. Gue yakin, lo bisa jalani semua ini. Gue ada di sini, oke. Jadi, lo tenang aja," jawab Rendi dan memeluk Aqila erat.


"Kita pergi aja dari sini, Aqila gak tahan kalau harus di sini terus," ucap Aqila lirih dan kemudian berjalan menuju mobil Rendi.


"La, kita ke rumah gue aja ya. Sekalian gue mau kenalin lo, sama orangtua gue," jelas Rendi memecah keheningan di antara mereka berdua.


"Iya," jawab Aqila singkat sambil menganggukkan kepalanya tanpa melihat ke arah Rendi.


____________________


Triinnggg ... triinnggg .... Suara telepon rumah berbunyi.


"Hallo, Tante?


sapa Siska dengan ramahnya.


"Hallo? Ini Siska temen Aqila, kan?


tanya Asti memastikan.


"Iya, Tante. Oh iya, Tan. Aqila nya ada di rumah?


tanya Siska dengan nada cemas.


"Gak ada. Emang Aqila gak ada di sekolah?

__ADS_1


tanya Asti kembali.


"Gak ada, Tante. Soalnya tadi Aqila di keβ€”


Siska langsung menghentikan bicaranya.


"Aqila kenapa, Siska?


tanya Asti mulai khawatir.


"Nggak kok, Tante. Maksudnya ... hari ini pulang lebih awal. Iya itu, pulang lebih awal. Atau mungkin Aqila udah nunggu kali ya, di rumah temennya? Kalau gitu makasih, Tante


jelas Siska gugup.


"Kenapa Siska bersikap aneh? Apa ada yang di sembunyikan soal Aqila?" pikir Asti. "Ah, gak mungkin. Tadi kata Siska, Aqila lagi main di rumah temennya."


"Siapa, Mah?" tanya Saddam sambil menyeruput tehnya.


"Siska, temen Aqila itu loh Pah," jawab Asti dan kemudian berjalan ke dapur.


"Kita cari dia ke rumah Adhim, sekarang!" ucap Siska sedikit berteriak kepada Fatih. Fatih mengangguk tanda mengerti perkataan Siska tadi.


____________________


Dengan perasaan yang tidak karuan, Adhim berjalan menuju kelasnya dan langsung membawa tasnya pergi dari sana.


"Lo mau kemana?" tanya Hans saat melihat Adhim pergi membawa tasnya. Adhim tidak menghiraukannya, dia tetap berjalan menuju parkiran.


"Lo mau cari Aqila? Kemana? Dunia ini keras, Men. Jadi, lo jangan bersikap egois. Kasih kesempatan Aqila untuk menenangkan diri," teriak Hans, dia pikir mungkin Adhim akan menghentikan langkahnya. Tapi, itu hanya bayangan semata, Adhim tetap tidak menghiraukan apa yang dikatakan Hans.


🍁🍁🍁


"Lo tunggu di sini, gue mau ke kamar bentar," ucap Rendi kepada Aqila, Aqila pun duduk di salah satu sofa.


"Non, mau minum apa?" tanya seorang wanita paruh baya, kira-kira seumuran dengan mamahnya.


"Gak usah, Bi. Terima kasih," Jawab Aqila sambil memberikan senyuman manis.


"Kalau Non butuh apa-apa, panggil Bibi aja. Bibi akan langsung ke sini. Kalau begitu, Bibi permisi, Non," ujar Bu Nur, salah satu pembantu di rumah Rendi. Dia melangkah dan melanjutkan kegiatannya di dapur.


Tak lama setelahnya, Rendi keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu. "Nunggu lama ya? Nyokap sama mokap gue, gak ada di rumah. Mungkin mereka belum pulang," jelas Rendi, perkataannya membuyarkan lamunan Aqila.


"Lo pasti lapar, kan?" tanya Fatih memastikan, dia sudah tau kalau Aqila dari pagi belum sempat makan apapun, setelah kejadian yang menimpanya hari ini. Aqila tidak menjawabnya.


"Bi, apa makanannya sudah siap?" tanya Rendi yang masih berada di ruang tamu sambil berteriak agar bisa terdengar oleh Bi Nur.


"Belum, Tuan. Sebentar lagi," jawab Bibi Nur. Keduanya berjalan menuju meja makan yang tidak jauh dari ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2