Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
Menyatakan Cinta


__ADS_3

"Karena cinta, orang bisa berubah kapan saja, seperti halnya dengan kaca pecah. Jika kita tidak mempedulikan pecahan kaca itu, mungkin kaca itu akan melukai seseorang, dan sebaliknya jika kita berpikir jernih dan mengerti, kaca tersebut bisa di buat menjadi benda yang bernilai tinggi." ~Afwa F N~


____________________


"Lo udah berjuang dapetin cinta gue. Sebagai laki-laki, gue akan membalas semua perjuangan cinta lo, La. Gue janji!" gumam Adhim sambil menatap mobil Jio dengan serius.


"Kita ke rumah lo aja, Yo," ucap Aqila ketus dan menatap kembali ke luar jendela mobil Jio.


"Terserah lo." Jio kemudian mempercepat laju mobilnya menembus jalan beraspal yang sepi dengan kendaraan pribadi maupun umum.


"Apa ini rumahnya?" ucap Adhim terheran-heran sambil melihat rumah besar itu dari balik pagar.


"Dhim! Aqila di mana?" teriak Siska yang berlarian menghampiri Adhim, diikuti Hendrik dan yang lainnya.


"Di dalam," jawab Adhim yang masih tetap fokus pada rumah besar itu.


"Kita masuk sekarang!" Adhim membuka pagar besar itu, dan tanpa ragu ia dan yang lainnya masuk ke dalam halaman rumah itu.


Hanya beberapa langkah lagi mereka masuk, tiba-tiba orang bertubuh kekar dengan berpakaian rapih menghalangi langkah mereka.


"Tuan tidak mengijinkan kalian masuk ke dalam. Jadi cepat pergi dari sini!" kata salah satu bodyguard yang menatap Adhim tajam.


"Biar kita yang urusin mereka, lo cepet masuk ke dalam," bisik Hendrik serius.


"Thanks, Drik," sahut Adhim sambil tersenyum tulus.


Hendrik dan yang lainnya mulai beradu mulut dengan semua bodyguard itu. Sedangkan Adhim, berlari ke dalam rumah tersebut tanpa mengeluarkan hentakkan suara langkah kaki sedikitpun.


"Pasti dia ada di kamar tu orang, mungkin kamarnya ada di atas," gumam Adhim dan tanpa mengulur waktu lagi, ia berlari menaiki satu per satu anak tangga.


"Gue akan perbaiki semuanya," ucap Adhim yang tengah berlari menaiki tangga dengan yakinnya.


"Hey!" ucap seseorang memanggil Adhim. Sontak Adhim menghentikan langkahnya dan menoleh ke bawah.


"Siapa kamu?" tanya orang itu dengan suara sedikit serak.

__ADS_1


"Apa yang kamu di lakukan di rumah ini? Apa kamu seorang pencuri?" sambungnya menatap Adhim menyelidik.


"Cih! Muka ganteng gini di bilang maling. Emang gue cowok apaan!" gerutu Adhim dalam hati.


"Mending gue pergi aja, daripada ladenin ni om," gumam Adhim dan tanpa menjawab pertanyaan dari Bayu.


"Dasar! Joko ...!" teriak Bayu, sang pemilik rumah besar itu. Tak lama kemudian orang yang umurnya lebih tua darinya menghampirinya.


"Iya, Tuan?" tanya Joko, supir pribadi Bayu sambil menundukkan kepalanya.


"Panggil semua bodyguard untuk mengusir anak itu di sini, cepat!" suruh Bayu dengan nada tinggi.


"Baik, Tuan." Tak perlu menunggu waktu lama, bodyguard yang tadinya beradu mulut dengan Hendrik di luar, sekarang lebih fokus mengejar


Adhim.


"Aqila! Lo di mana? Aqila!" teriak Adhim sekencang mungkin sambil membuka satu persatu pintu ruangan yang ada di lantai atas.


Adhim belum menemukan Aqila, tetapi tubuhnya sudah di pegang oleh dua bodyguard yang bertubuh kekar itu.


"Nggak! Pokonya gue harus temuin Aqila sekarang juga!" batin Adhim, ia langsung menginjak kedua kaki bodyguard yang memegangnya.


Di situlah terjadi perkelahian antara Adhim dengan semua bodyguard.


"Kamu gak akan bisa melawan kita berempat," ucap salah satu dari mereka yang meremehkan Adhim.


"Kalau yang kalian pikirin itu, coba aja pukul gue," sahut Adhim yang sudah mempunyai strategi untuk melawan mereka semua.


Beberapa pukulan di lepaskan kedua bodyguard itu, tetapi masih tidak bisa mengenai Adhim sedikitpun, setelah melihat kedua orang tersebut kewalahan. Ia pun melempar semua benda yang ada di sekitarnya ke arah semua orang di depannya.


Tinggal dua orang yang mengejarnya, tapi tidak ada satupun bodyguard yang berhasil menangkapnya.


Setelah semua tergeletak kesakitan di lantai, Adhim terus membuka satu per satu semua pintu. Dan tak lama kemudian, Adhim tidak bisa membuka salah satu pintu.


"Aqila pasti ada di sini!" ucap Adhim dengan yakinnya, ia pun mendobrak berkali-kali pintu itu dan berhasil membukanya.

__ADS_1


"Aqila!" gumam Adhim yang melihat Aqila sedang berdiri menatap ke arah jendela kamar tersebut.


"Kita pergi dari sini." Tanpa berlama-lama lagi, Adhim menarik tangan Aqila keluar dari kamar tersebut.


"Jangan berani pegang gue lagi!" Aqila melepas kasar tangan Adhim darinya.


"Lo kenapa jadi berubah kaya gini?! Ini bukan Aqila yang gue kenal dulu ...." jelas Adhim, nadanya merendah.


"Apa lo gak sadar? Aqila jadi kaya gini itu gara-gara lo! Lo semua dalang dari semua ini, Dhim!" jelas Jio yang tiba-tiba datang menghampiri Aqila sambil memeluknya.


"Apa yang di katakan ni orang bener? Bahwa, gue yang bikin Aqila jadi seperti ini?" gumam Adhim yang melihat ke bawah.


"Kalau ini semua gara-gara gue. Gue janji, gue akan memperbaiki semuanya," sambung Adhim yang mengepalkan kedua tangannya.


"Gue mohon, lo balik ke sekolah yang dulu lagi," ucap Adhim memohon kepada Aqila.


"Gue gak mau! Karena, gue udah benci banget sama lo! Gue gak mau liat muka lo ada di sini lagi!" bentak Aqila yang tidak mempedulikan perasaan Adhim.


"Kita udah tau semuanya, lo gak bersalah, Nadya yang buat lo keluar dari sekolah itu," jelas Adhim singkat.


"Gue gak peduli lagi sama kalian! Gue yang sekarang, adalah gue yang sebenarnya. Jadi, lo jangan cari gue lagi," sahut Aqila dengan nada tinggi, air matanya sudah membasahi pipi putihnya itu.


Tak lama setelahnya, bodyguard yang lainnya menyeret Adhim tanpa ampun. Adhim mencoba melawannya, tapi tangan kedua orang itu terlalu kuat.


"Lo perlu tau, La!" teriak Adhim yang tengah di seret oleh kedua orang yang berbadan kekar itu. "Gue sayang sama lo! Gue serius, gue sayang sama lo, La! Gue yakin, gue akan ubah sikap lo seperti dulu lagi," sambung Adhim yang sudah di ambang pintu.


Tiba-tiba, Jio mendaratkan beberapa pukulan pada wajah Adhim, sehingga cairan merah keluar dan beberapa luka lebam.


"Jangan berani ngomong hal itu di depan muka gue! Aqila udah jadi pacar gue, ngerti!" ucap Jio yang memegang pipi Adhim dan melepasnya kasar.


"Aqila ... gue sayang sama lo ...." kata-kata terakhir Adhim, sebelum dirinya pingsan akibat pukulan yang di berikan Jio.


"Adhim sayang gue? Kenapa ... kenapa baru sekarang lo ngomong hal itu di depan gue, kenapa!" batin Aqila, kakinya terasa lemas sehingga dia duduk sambil menundukkan kepalanya.


"Kenapa!" teriak Aqila yang tengah menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


MAAF, KALAU JARANG UP. KARENA BANYAK URUSAN YANG HARUS DI LAKUKAN AUTHOR SELAMA INI. SEMOGA DENGAN UP-NYA BAB INI BISA MENGOBATI RASA PENASARAN SEMUANYA. TERIMA KASIH 🙏😁.


__ADS_2