Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
S-2. Terkunci Di Gudang


__ADS_3

"Dia mau kemana?" batin Adhim yang melihat Aqila berjalan menuju ke arah sebaliknya. Karena Adhim kepo, akhirnya ia mengikuti Aqila sampai ke gudang.


"Ternyata cuma ke sini!" gumam Adhim lalu berjalan menjauh dari gudang tersebut.


Aaaaa!!!


Terdengar teriakan dari arah gudang. Adhim pun langsung berlari menuju gudang melihat apakah Aqila baik-baik saja.


"Aqila!" seru Adhim khawatir, ia berdiri di ambang pintu kemudian masuk ke dalam. Tak sengaja, Adhim menutup pintu tersebut dan masuk ke dalam.


"Aqila!" seru Adhim kembali. Tidak ada respon dari Aqila, akhirnya Adhim mencari di seluruh gudang tersebut.


Aaaaa!


Terdengar kembali teriakan Aqila. Adhim segera berlari menuju suara itu.


"Aqila! Lo gak papa?" tanya Adhim yang melihat Aqila sedang naik ke atas meja.


"Tolongin gue! Itu ada tikus di sana!" ucap Aqila yang sedang memegang sapu untuk mengusir tikus tersebut.


"Anak geng kok takut sama tikus," ejek Adhim menatap Aqila remeh.


"G– gue bukannya takut! Gue cuma kaget aja tadi tiba-tiba ada tikus!" jawab Aqila ketus lalu turun dari meja tersebut dan meletakkan sapunya di pojok.


"Kenapa lo tadi manggil nama Aqila? Di sini gak ada Aqila!" ucap Aqila yang langsung membawa kotak yang berwarna kuning.


"Bener juga, kenapa gue refleks manggil dia Aqila? Apa yang gue pikirin sih! Jelas-jelas dia bukan Aqila, tapi Kiren!" batin Adhim yang kesal pada dirinya sendiri.


"Daripada lo ngelamun kaya gitu, mending bantu gue bawa kotak kuning itu!" suruh Aqila sambil menunjuk ke arah kotak kuning yang belum dia bawa.


"Bawa aja sendiri! Yang di suruh kan lo, bukan gue!" tolak Adhim dan berjalan menuju pintu keluar.


"Kenapa kunci gudang ada di sini? Pasti lupa bawa nih, aduuhhh," kata salah satu staf yang masih berada di sekolah tersebut dan mengunci pintu gudang dan membawanya.


Saat Adhim membuka pintu, pintunya tidak bisa di buka dan seketika raut wajah Adhim menjadi cemas.


"Kir–" Baru saja Adhim ingin memanggil Aqila. Saat dirinya hendak berbalik, di belakangnya ada Aqila yang sedang membawa beberapa kotak berwarna kuning. Akhirnya keduanya hilang keseimbangan dan jatuh.


Bruk!!


Semua berkas yang berada di kotak tersebut berserakan di lantai, sedangkan Aqila terjatuh tepat di atas Adhim. Keduanya bertatapan beberapa detik.


Deg!!


Keduanya merasakan hal yang sama. Jantung Adhim berdenyut dengan kencangnya saat melihat Aqila yang berada dekat dengannya.


"Perasaan ini? Kenapa setiap gue deket sama dia, perasaan ini terus muncul? Tapi saat gue sama Aqila, perasaan ini gak ada sama sekali?" batin Adhim yang pandangan matanya masih tertuju pada Aqila yang berada di atasnya.


"Ih apaan sih lo!" bentak Aqila yang segara berdiri.

__ADS_1


"Lo nyari kesempatan dalam kesempitan ya! Dasar mesum!" bentak Aqila dan membereskan semua berkas yang berserakan.


"Gue gak mesum ya! Lo aja kali yang mau nempel sama gue! Salah lo juga kenapa ada di belakang gue tadi!" celoteh Adhim yang masih berusaha membuka pintu keluar tapi tetap saja tidak bisa.


"Lo bawa kunci gudangnya, kan?" tanya Adhim memastikan.


"Ya nggak lah! Tadi gue pas buka pintu gudang ini gue biarin aja kuncinya di luar," jelas Aqila yang sudah membereskan semua berkas yang berserakan tadi.


"Masalahnya pintunya gak bisa di buka!" gumam Adhim yang masih terdengar samar-samar di telinga Aqila.


"Oh!"


Ketika Aqila sadar dengan perkataan Adhim, ia meminta Adhim mengulang perkataan nya sekali lagi.


"Lo gak bercanda, kan?" tanya Aqila menatap Adhim curiga.


"Ngapain gue bercanda! Yang ada lo kali yang bohongin gue! Bilang aja gak mau ngaku kalau lo sebenarnya bawa kuncinya, karena lo mau berduaan sama gue di sini, kan?" sindir Adhim.


"Jadi lo nyalahin gue gitu?! Salah lo juga kali, kenapa lo datang ke sini, gue gak minta lo buat bantu gue juga!" pekik Aqila yang tidak mau kalah.


"Gue gak mau debat lagi, sekarang mending kasih ke gue kuncinya. Kalau nggak, gue paksa lo!" ancam Adhim dengan tatapan tajam.


Aqila mundur beberapa langkah karena tatapannya itu menakutkan dan berkata, "Gue gak bohong! Gue gak pegang kunci itu!"


"Kasih gak?!" Adhim meraba-raba segaram Aqila dan memaksa melepaskan tasnya.


"Gue gak percaya!" Adhim merebut kembali tas Aqila dan mencari-cari kunci tersebut. Tapi setelah mengobrak-abrik tas Aqila, tidak ada satupun kunci di sana.


"Nih gue kembaliin!"


"Gue bilang gak ada, kenapa lo masih ngeyel sih!" bentak Aqila, kemudian mengedor-gedor pintu tersebut.


"Siapapun! Tolong kita!"


"Berisik tau gak! Udah mending lo diem aja deh, nanti juga ada yang ke sini!" ucap Adhim yang sedang duduk di salah satu bangku yang berada di sana.


"Lo bilang diem?! Lo gak mikir apa, kita di sini kekunci! Lo masih santai-santai aja!" sahut Aqila kesal.


"Ya udah terserah!" jawab Adhim yang masih tetap tenang. Aqila yang terus berteriak, berharap ada yang membuka pintu tersebut.


Sudah hampir larut malam, tapi tidak ada seorangpun yang membuka pintu tersebut.


Aqila yang dari tadi berteriak, akhirnya menyerah dan duduk sambil menyandarkan tubuhnya di pintu.


"Di sini dingin banget!" gumam Aqila yang sedang menggosok-gosokkan kedua tangannya agar lebih hangat.


Adhim yang melihat Aqila yang menggigil kedinginan langsung menghampirinya dan menyelimutinya dengan jaket yang di pakainya.


"Ma– makasih!" ucap Aqila lirih. Tidak ada jalan keluar dari gudang tersebut, hanya ada satu lubang kecil di gudang tersebut, sehingga angin malam masuk ke dalam membuat seisi ruangan tersebut menjadi dingin.

__ADS_1


"Lo bawa handphone gak?" tanya Adhim memastikan.


"Handphone sa– ma jaket gue ada di dalam motor gue," jawab Aqila yang masih menggigil kedinginan.


"Sini tangan lo!" Adhim memegang kedua tangan Aqila yang sangat dingin.


"Gimana sekarang?" tanya Adhim yang masih memegang tangan Aqila.


"Me– mendi– ngan ..." jawab Aqila gugup. Ia memang tidak bisa menahan suhu dingin, meski menurut Adhim tidak terlalu dingin.


Aqila yang semakin menggigil, membuat Adhim khawatir dan kemudian memegang keningnya.


"Panas!" batin Adhim yang semakin khawatir dengan keadaan Aqila saat ini.


"Siapapun tolong bukain pintu ini!" teriak Adhim, tapi tidak ada satu respon pun.


"Gu– gue gak kuat lagi, Dhim!" ucap Aqila lirih. Adhim duduk kembali dan membiarkan Aqila tidur di pangkuannya.


"Lo bertahan sedikit, Ren! Gue yakin kita akan keluar dari sini secepatnya!" batin Adhim dan memegang kedua tangan Aqila agar lebih hangat.


🍁🍁🍁


Tok!Tok!Tok!


"Fatih!" seru Tiara yang sudah berada di depan rumah Fatih. Pintu tersebut terbuka, dan keluarlah Fatih.


"Tante! Ada apa ke sini?" tanya Fatih penasaran.


"Apa Adhim ada di rumah kamu? Sejak dari sekolah, dia belum pulang juga sampai sekarang!" jelas Tiara yang sedang mengkhawatirkan anak satu-satunya itu.


"Adhim? Nggak ada, Tante. Tapi, saya akan coba cari dia ke rumah temannya yang lainnya. Tante jangan khawatir lagi," sahut Fatih, Tiara hanya mengangguk dan pergi dari rumah Fatih.


Sementara itu, di rumah Siska ....


"Tante tenang aja, aku sama yang lainnya akan cari Aqila. Jadi, Tante jangan khawatir lagi," jelas Siska meyakinkan Asti. Asti berterima kasih dan pergi dari rumah Siska.


"Lo di mana sih, La!" gumam Siska yang sudah menelpon aqila beberapa kali, tapi tidak ada jawaban.


Tiba-tiba, Fatih menelpon Siska dan menceritakan bahwa Adhim hilang. Siska juga bercerita kalau Aqila hilang.


"Apa ini kebetulan? Atau memang Adhim dan Aqila sedang berada di tempat yang sama?" pikir Siska dan Fatih.


Apa Fatih dan Siska akan menemukan Adhim dan Aqila? Atau mereka akan tinggal di gudang sampai matahari terbit kembali?


Penasaran dengan kelanjutannya? Jangan lupa klik dulu fav yang ada di bawah ini, tinggalkan like, rate 5, dan juga vote dari kalian semua.


Kalau ada kata-kata yang typo mohon maaf 🙏😅.


Sampai ketemu di episode selanjutnya 🤗.

__ADS_1


__ADS_2