Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
Mengetahui Keberadaan Aqila


__ADS_3

Entah kenapa, ceramah Rendi selalu membuatnya luluh. Niatnya hanya ingin bolos sekolah, tapi berkat Rendi, dia tidak jadi bolos.


"Maaf, Pak. Saya telat," ucap Aqila santai sambil berjalan menuju bangku yang berada paling belakang.


"Aqila. Jangan kamu ulangi hal ini lagi. Kamu seharusnya mencontohkan yang baik kepada semua murid di sini, bukannya buruk," jelas Pak Joni, guru sejarah yang suka ngomelin Aqila setiap Aqila terlambat sekolah.


Aqila tidak mendengarkan Pak Joni, karena ini sudah biasa banginya. "Aqila! Apakah kamu mengerti apa yang saya katakan?!" tegas Pak Joni.


"Iya ngerti, Pak," ujarnya malas.


Sungguh perubahan kalau menurut Readers semua dan para kak author uang drastis. Aqila yang semula lugu dan berkarakter polos. Sekarang menjadi bolos sekolah dan berbuat seenaknya.


___________________


"Aqila lo di mana? Gue yakin kalau lo gak ada sangkut pautnya dengan masalah yang 1 tahun yang lalu lo hadapi," gumam Siska, air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Gue butuh lo sekarang, semoga tuhan mempertemukan kita kembali. Dimana pun itu," sambung Siska sambil mendongkakkan kepalanya melihat ke langit yang berwarna biru tanda ada awan yang menghalanginya.


"Lo kenapa?" tanya Hendrik yang tiba-tiba duduk di samping Siska.


"Gue kangen sama Aqila, Drik. Pasti dia terpukul banget saat kejadian waktu itu," ujar Siska yang menangis tidak henti-hentinya.


"Lo tenang aja, gue pasti akan nemuin dia. Gue udah janji sama dia kalau gue akan selalu menjaga dia meskipun jarak kita jauh," jelas Hendrik sambil tersenyum membayangkan Aqila ada bersamanya.


"Apa lo masih nyimpan rasa sama Aqila?" tanya Siska penasaran.


"Gue gak mungkin bilang kalau gue masih ada rasa sama Aqila," batin Hendrik.


"Nggak, gue udah lepasin dia untuk orang lain," jawab Hendrik berbohong. Siska tau kalau Hendrik sedang berbohong padanya.


"Lo gak bisa bohong sama gue, Drik," ucap Siska melihat Hendrik kasihan, karena telah mengorbankan cintanya demi orang lain bahagia.


"Gue gak bisa lama-lama di sini, soalnya gue harus latihan untuk lomba nanti, bye," pamit Hendrik dan meninggalkan Siska sendirian di halaman belakang.


Tak berselang lama kemudian, ada seseorang di belakang Siska hendak melangkah mendekatinya.


"Hey, pacar. Kita ke kantin yu," ajak Fatih sambil berbisik di telinga Siska, membuat Siska merasa geli dengan tingkah laku pacarnya itu.


"Ish, kamu itu. Ya udah ayo," tanpa basa-basi, Siska menjawab iya dan berjalan menuju kantin.


____________________


"La, lo mau ke cafe deket sekolah gak?" tanya teman baru Aqila yang bernama Erin.


"Lo aja, gue lagi gak mood ke luar nih," tolak Aqila mentah-mentah.


"Ayolah, gue gak ada teman di sana. Sekarang gue yang terakhir deh," ucap Erin, dia harus mengatakan ini agar Aqila mau ikut bersamanya.


"Ya udah, ayo." Aqila berjalan terlebih dahulu di ikuti Erin di belakang.

__ADS_1


"Gue heran sama lo, La. Kenapa gak terima aja tuh di Jio? Dia kan udah ganteng, baik ketua basket lagi," tanya Erin terheran-heran.


Erin tidak mengetahui massa lalu Aqila yang cukup rumit soal percintaan. Bahkan dia tidak tau kalau Aqila dulu adalah sosok orang yang lugu dan polos.


"Gue gak berminat, kalau lo mau. Ambil aja sana," balas Aqila seenaknya.


"Beneran, La? Makasih, lo memang temen gue yang perhatian," kata Erin sambil memeluk Aqila erat.


"Kita jadi tontonan, lepasin gue sekarang, Rin!" perintah Aqila dan Erin melepaskan pelukannya.


"Aqila," panggil Pak Joni saat melihat Aqila sedang berjalan di depannya.


"Ada apa, Pak?" tanya Aqila bingung.


"Nanti kamu wakili sekolah kita untuk berkumpul antar Puri sekolah," jelas Pak Joni serius.


"Baik, Pak," jawab Aqila singkat dan melanjutkan langkahnya.


____________________


"Hai, Guys." Erin melambaikan tangan ke arah teman-temannya. Keduanya duduk di kursi tersebut dan memesan minuman.


"Kenalin ini temen gue dari IPS 4." Erin memperkenalkan Aqila kepada teman laki-laki kepada Aqila.


"Lo tau kan, kalau gue benci banget sama laki-laki kayak mereka," bisik Aqila kesal dengan apa yang di lakukan Erin.


"Maaf gue telat," ucap seorang cowok uang tiba-tiba datang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Lo selalu begitu. Oh iya kenalin, ini temen gue." Erin memperkenalkan Aqila pada cowok itu. Cowok itu duduk tepat di depan Aqila, sontak membuat Aqila kaget dan terus menatapnya.


"Dia! Kenapa harus dia sih!!" gerutu Aqila melihat cowok itu tajam.


"Aqila?! Dia ngapain di sini?" gumam cowok itu bingung.


Dengan cepat Aqila keluar dari cafe itu menuju sekolahnya.


"Lo mau ke mana?" tanya Erin terheran-heran.


"Kelas," jawabnya ketus.


"Itu siapa, Rin?" tanya cowok tadi berbohong, padahal ia hanya ingin tau kenapa Aqila bersikap seperti itu.


"Aqila, dia putri sekolah di sekolah ini," kelas Erin singkat yang masih melihat Aqila menjauhinya.


"Putri sekolah?! Apa yang terjadi sebenernya?" batin Rendi. Dipikirannya hanya penuh dengan tanda tanya.


"Lo kenal dia?" tanya Erin menyelidiki.


"Hah! Ng— nggak, gue nggak kenal dia," jawab cowok itu gugup.

__ADS_1


____________________


"Rahasia gue semua terbongkar. Kalau aja tadi gue gak ikut Erin, pasti gue gak akan ketemu dia lagi," gumam Aqila sambil berjalan di koridor kelas sendirian.


"Hai, La," sapa Jio, kapten basket sekolah ini.


"Sendirian aja, mending sama gue aja." Dengan repleks, Jio memeluknya dari samping.


"Ih! Apaan sih, Lo! Lepasin gak?" bentak Aqila dan melepas kasar tangan Jio darinya.


"Lo kenapa sih? Padahal, Lo orang yang beruntung gue deketin, semua cewe di sini mau gue deketin, tapi gue hanya terpesona sama lo," jelas Jio dengan percaya dirinya.


"PD, banget lo," ucap Aqila ketus, dia langsung mempercepat langkahnya meninggalkan Jio sendirian di sana.


"Dengan sikap lo yang sekarang, gue makin tambah suka sama lo, La," gumam Jio melihat Aqila lekat-lekat.


Drrrttt ... drrrttt ....


Handphone Jio berbunyi, dia langsung mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.


"Apa kalian udah cari tau tentangnya?


tanya Jio kepada sekretarisnya.


"Udah, pokonya semua beres, Tuan,


balas laki-laki senang.


"Kerja bagus, gue tunggu kalian di deket cafe sekolah.


Jio menutup telponnya dan segera pergi ke cafe dekat sekolah.


Jio adalah anak dari keluarga terpandang, jadi jangan heran jikalau dia bisa mencari bahkan berbuat apa saja, asalkan perbuatannya tidak membahayakan orang banyak.


____________________


Ting ... ada notifikasi dari ponsel Adit.


"Maaf, tapi gue gak bisa lama-lama di sini, ada yang harus gue urus," pamit Adit dan berdiri dari tempat duduknya.


"Lo sibuk terus deh, Dit," ucap Erin kecewa.


"Ya ... gue harus gimana lagi, gak ada pilihan lain," ujar Adit dan melangkah pergi dari tempat itu.


"Sini berkasnya," suruh Jio kepada sekretarisnya itu.


"Ini, Tuan. Ini semua data tentang Aqila, semuanya ada di sini," jelas laki-laki itu dan memberikan map berwarna biru yang berisi semua data tentang Aqila.


"Aqila?!" Karena Adit sempat mendengar itu, dia menghentikan langkahnya dan memilih untuk menguping.

__ADS_1


__ADS_2