Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
Aditya Pratama


__ADS_3

"Woy bangun, udah siang nih. Bangun woy!" teriak Doni dari balik pintu kamar Adhim.


Karena tidak ada yang menyahutnya, Doni pun masuk ke kamar Adhim.


"Dih ... masih tidur, Dia. Woy bangun! Udah siang." Doni teriak kembali, sekali-kali dia menarik selimut yang daritadi menutupi Adhim.


"Ish. Apa sih, Kak? Ganggu orang tidur aja!," kata Adhim kesal dengan mata yang masih tertutup rapat.


"Lagi pula ini masih pagi," sambung Adhim sambil menarik kembali selimutnya.


"Gue tau harus ngomong apa," pikir Doni sambil tersenyum jahil.


"Ya udah, asal lo tau aja. Aqila ada di bawah lagi nungguin lo." Adhim langsung membuka matanya lebar dan bangkit dari tidurnya setelah mendengar perkataan kakaknya itu.


"Lo bohong ya sama gue?" tanya Adhim menyelidik.


"Buat apa gue bohong. Lo cepetan siap-siap, kasian tuh Aqila dari tadi nungguin." Kata terakhir Doni membuat Adhim terheran-heran sekaligus senang.


Dengan cepatnya Adhim berlari ke kamar mandi. Melihat tingkah laku Adhim yang seperti ini membuat Doni tertawa puas.


Tak lama kemudian, Adhim sudah rapi dengan mengenakan seragam sekolahnya dan menuruni satu persatu anak tangga.


"Aqila kemana, Ma?" tanya Adhim sambil mencari keberadaan Aqila.


"Aqila? Kata kakak kamu ya? Kamu bisa aja di bohongin sama dia," ucap Tiara tertawa geli sambil merapihkan meja makan.


"Gak ada, Ma?" tanya Adhim memastikan kembali.


"Gak ada, Sayang."


Doni hanya tertawa kecil, karena berhasil membuat adiknya itu di bohongi. Adhim langsung menatap ke arah kakaknya tajam.


"Awas aja lo, kak!" gumam Adhim kesal.


"Liatnya jangan gitu juga kali. Mau balas dendam sama gue? Coba aja kalau bisa," kata Doni membanggakan diri.


"Oke. Tunggu aja tanggal mainnya," tukas Adhim dengan nada yang masih kesal.


🍁🍁🍁


Kediaman Aqila Anatasya


"Ma, Pa, Nek. Aku berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum," pamit Aqila sambil mencium punggung tangan ketiganya.


"Wa'alaikumussalam."


"Selamat pagi Aqila," sapa ramah, seorang laki-laki dengan tubuh atletis sedang bersandar di sebuah mobil mewah.


"Pa— pagi," balas Aqila gugup. Sebelumnya Aqila tidak pernah melihat laki-laki yang berbadan atletis itu.

__ADS_1


"Ka— kamu siapa?" tanya Aqila menatapnya bingung.


"Perkenalkan nama gue Aditya Pratama. Panggil aja Adit." Adit mengulurkan tangannya di hadapan Aqila.


Aqila membalas uluran tangan Adit dan berkata, "A— aku—" Belum sempat Aqila memperkenalkan dirinya, Adit sudah menyergahnya.


"Gue udah tau," ucap Adit sambil tersenyum senang.


Saat Adit masuk ke dalam mobil, Aqila masih terpaku di tempat. Ia tidak percaya apa yang ia lihat sekarang.


"Aqila? Kenapa malah bengong? Ayo berangkat ke sekolah, nanti telat." Perkataan Adit membuyarkan lamunan Aqila.


"Hah! Gak usah, Aqila bisa naik taksi atau anggut," sahutnya dan pergi meninggalkan tempat itu.


Sudah dua puluh menit Aqila menunggu taksi dan angkut, tapi tidak ada satupun kendaraan yang melewati tempat itu.


"Bagaimana ini? Padahal sebentar lagi masuk kelas," gumam Aqila cemas, sambil melihat kanan dan kirinya.


"Mau sampai kapan nunggu di sini?" tanya Adit dari dalam mobil.


"Kamu? Ngapain kamu masih ada di sini?" tanya Aqila terheran-heran. Tapi tidak di pedulikannya lagi.


"Udah jangan banyak tanya. Cepet naik!" kata Adit dengan nada penekanan pada bagian 'naik'.


Tanpa merespon, Aqila terpaksa memasuki mobil mewah milik Adit sebagai kendaraannya menuju sekolah.


"Gue denger lo lagi deket sama Adhim ya?" tanya Adit memecah keheningan yang dari tadi menyelimuti mereka.


"Tau dari mana Adit kalau Qila lagi deket sama Adhim? Apa dia para normal yang bisa melihat takdir seseorang?" pikir Aqila bingung.


"Kalau boleh tau, lo sama Adhim seberapa deket sih?" tanya kembali laki-laki berbadan atletis itu.


"Deket banget!"


"Apa kalian udah pacaran?" tanya Adit kembali. Aqila tidak meresponnya, karena pertanyaan itu membuat Aqila pusing sendiri.


🍁🍁🍁


"Assalamu'alaikum, Tante," salam Adhim yang mematung di depan pintu rumah Aqila.


"Wa'alaikumussalam. Eh Adhim, mau cari Aqila ya?" tanya Asti memastikan.


"Iya, Tante. Aqila nya ada?" tanya Adhim dengan ramahnya.


"Baru aja Aqila berangkat," balas Asti sambil menunjuk ke arah depan halaman rumah.


"Kalau begitu, Adhim mau langsung berangkat aja ke sekolah. Assalamu'alaikum." Adhim menyalami tangan Asti dan berlalu pergi meninggalkan rumah yang cukup besar itu.


"Wa'alaikumussalam."

__ADS_1


Adhim melajukan motornya dengan cepat menuju sekolah. Tapi di tengah jalan ada kemacetan yang cukup panjang, jadi perjalanannya sedikit lebih lama.


Tak di sangka motor Adhim dengan mobil Adit posisinya sama-sama sejajar.


"Apa itu, Aqila?" gumam Adhim, yang melihat Aqila sedang duduk di dalam mobil mewah bersama seorang laki-laki yang menurut Adhim laki-laki itu pamiliar baginya.


"Aqila sama siapa? Kayaknya gue pernah liat dia, tapi di mana?" Adhim mencoba mengembalikan ingatannya pada kejadian saat bertemu laki-laki yang di maksudnya itu.


"Gue baru inget. Bukannya itu Adit ya? Kok dia bisa ada di sini sih? Sama Aqila lagi," kata Adhim sedikit kesal. Melihat mereka berduaan di dalam mobil.


Massa Lalu Adhim


Dulu, di sekolah menengah pertama Adit dikenal suka pembuat onar dan kejam. Sehingga, semua orang takut kepadanya.


Pada suatu hari, Adhim sedang latihan basket. Tiba-tiba datang Adit dan teman-temannya, sontak semuanya membubarkan diri, kecuali Adhim dan teman-temannya


"Pergi semua! Gue mau latihan di sini," teriak Adit, sementara teman-temannya mengusir paksa anak-anak yang lain.


"Kenapa lo masih disini!" bentak Adit kepada salah satu anak laki-laki. Adit langsung mendorongnya sampai dia terjatuh.


"Lo jangan gitu dong!" Adhim langsung mendorong Adit.


"Dia mau jadi pahlawan kesiangan. Lo gak tau siapa gue di sini, hah!" kata Adit dengan suara lantang.


"Emang lo siapa di sini? Cuman murid biasa, kan? Sama kaya kita," tukas Adhim tak mau kalah.


"Dia belum tau siapa gue. Oke, gue akan tantang lo main basket besok di luar sekolah," jelas Adit dan pergi dari lapangan tersebut.


Keesokan harinya ....


"Gue kira, lo gak bakal datang karena takut kalah sama gue. Ternyata, lo berani juga," puji Adit, mungkin maksudnya meledek Adhim.


"Ngapain gue takut sama lo, belum tentu Lo yang menang, kan?"


"Oke, karena ini tempat punya gue. Jadi, lo sendiri lawan kita," kata Adit tersenyum puas.


"Ini gak adil namanya," bantah Hans yang juga mengikuti pertandingan tersebut.


"Kalau gak mau, ya udah kalian ngaku kalah dari kita," pekik Adit sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Oke, gue terima tantangan, Lo." Mereka bertanding dengan gesitnya.


Di akhir pertandingan, skor Adit ketinggalan banyak dari pada skor Adhim.


Pertandingan selesai. Sudah di tentukan kalau Adhim adalah pemenangnya. Tapi Adit tidak mau menerima kekalahan itu, dia tiba-tiba mendaratkan pukulan ke arah sudut bibir Adhim, membuatnya tersungkur dan di sudut bibirnya mengeluarkan darah.


Di situlah terjadi pertengkaran satu lawan satu dan lagi-lagi di menangkan oleh Adhim.


"Awas aja lo, Dhim! Tunggu pembalasan gue nanti." Itulah kata terakhir dari Adit, setelah kejadian itu, Adit pindah sekolah ke luar negri.

__ADS_1


Mau tau kelanjutannya? Tunggu di chapter berikutnya ya. Jangan lupa juga like, komen, beri saran dan vote juga 🤗


Terima kasih buat para Readers yang sudah membaca dan setia di novel ini 😁😍


__ADS_2