Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
Menyamar Sebagai Adhea


__ADS_3

Hendrik dan yang lainnya sudah sampai di rumah sakit, mereka langsung berlari menuju ruang perawatan yang sebelumnya Adhim tempati.


"San!" Hendrik membuka pintu ruangan tersebut lalu menghampiri Dokter Sani.


"Gimana Adhim bisa kabur?! Kondisinya tidak memungkinkan untuk berjalan," tanya Adit menatap Dokter di hadapannya heran.


"Gue juga gak tau. Tapi yang pasti, dia kabur dari rumah sakit ini dengan menggunakan motor miliknya," jelas Dokter Sani meyakinkan ketiganya.


Setelah mendengar penjelasan dari Dokter Sani, ketiganya berlari secepatnya menuju parkiran dan mencari keberadaan Adhim.


"Sebaiknya lo telpon Adhim, mungkin dia udah pulang," usul Rendi, Hendrik langsung membawa benda yang berbentuk pipih itu di hadapannya dan langsung menghubungi Adhim.


"Gak di jawab, Bro," kata Hendrik yang semakin panik.


"Sini, gue aja yang nelpon. Lo pokus nyetir aja," sahut Rendi yang merebut ponsel Hendrik dari tangannya.


"Gimana?" tanya Adit dan Hendrik serempak.


"Nomornya gak aktif," ucap Rendi, Hendrik dengan cepat melajukan mobilnya membelah jalanan beraspal.


🍁🍁🍁


"Assalamu'alaikum," salam Adhim yang masih ke rumahnya, di susul Adhea (Aqila) di belakang.


"Wa'alaikumussalam. Kamu kemana aja? Mama sampai gak bisa tidur karna mikirin kamu," kata Tiara sambil memegang pipi anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Maaf, Mah. Kemarin aku nginap di teman, jadi gak sempat ngabarin Mamah," jelas Adhim beralasan, ia tidak mau membuat Tiara khawatir karena kejadian kemarin.


"Ini bukannya Aqila? Anaknya Asti, kan?" tanya Tiara yang melihat ke arah Aqila dari atas sampai bawah.


"Penampilan kamu ternyata berubah drastis ya," sambung Tiara sambil tersenyum.


"Emang penampilan Aqila dulu gimana?" bisik Adhea (Aqila) di telinga Adhim.


"Ssttt .... Mah untuk sementara ini, dia tinggal di sini. Boleh, kan?" ijin Adhim, Tiara hanya mengangguk dan tidak punya masalah dengan itu.


"Makasih, Mah." Adhim menarik tangan Adhea (Aqila) ke kamarnya untuk mengganti baju.


"Lo cepet ganti baju lo sama pakaian gue," suruh Adhim sambil menunjuk ke arah ruangan khusus mengganti pakaian.


"Hah! Gue ... make baju lo?! Gak mau!" tolak Adhea (Aqila) mentah-mentah.


"Ya udah, bukan gue juga yang rugi," jawab Adhim ketus.

__ADS_1


"Lo tetep sama ya, dari dulu. Dingin!" Tanpa sengaja Adhea (Aqila) mengatakan hal itu.


"Dulu? Kenapa lo tau soal gue?" tanya Adhim menatap Adhea (Aqila);menyelidik.


"Aduh! ****** gue, gue keceplosan! Gue kan sekarang nyamar jadi Adhea bukan Aqila. Kenapa lo bisa keceplosan sih ini bibir!" batin Aqila sambil memukul mulutnya sendiri.


"Tapi katanya harus ganti baju. Di mana tempatnya?" tanya Adhea mengalihkan pembicaraan.


"Di sana. Cepet ganti baju lo, terus ikut gue!" sahut Adhim dengan penuh pemaksaan.


"Sok ngatur banget sih!" gumam Adhea (Aqila) kesal.


"Apa lo bilang? Udah di kasih tempat tinggal gratis masih aja—" belum sempai Adhim melanjutkan perkataannya Adhea (Aqila) memotongnya.


"Udah. Gue mau ganti baju dulu, awas kalau ngintip!" ujar Adhea (Aqila) menatap Adhim sinis.


"Dih! Udah sana!"


Selagi menunggu Adhea (Aqila) mengganti bajunya, Adhim memilih untuk mandi dengan air panas.


"Untung gue langsung di bawa ke rumah sakit, kalau nggak. Bisa habis gue di omelin Mamah," gumam Adhim yang tengah membasuh mukanya.


"Tapi gue masih heran sama tu cewe. Apa bener nama dia Adhea? Tapi gue yakin, kalau dia Aqila," kata Adhim berbicara sendiri menatap dirinya yang lain di kaca.


"Gue akan cari tau tentang dia!" kata Adhim meyakinkan dirinya sendiri.


Saat hendak membuka gagang pintu ruangan ganti, Adhea (Aqila) berteriak dengan sekencang-kencangnya.


"Aaaaaaa!"


"Berisik tau gak!" bentak Adhim kesal yang sedang memegang telinganya yang sakit mendengar teriakan Adhea (Aqila).


"Lagian lo main buka pintu aja, udah tau ada gue di sini," gerutu Adhea (Aqila) yang sedang menahan pintu itu.


"Ya maaf, gue gak inget lo ada di sini," Adhim akhirnya menjauhi pintu itu dan duduk di atas ranjangnya.


Setelah menunggu beberapa menit, Adhea (Aqila) belum juga keluar dari tempat khusus mengganti pakaian itu.


"Lama banget sih tu cewe!" Karena Adhim sudah kesal menunggu, akhirnya dia menggedor-gedor pintu itu dengan keras.


"Iya sabar kek! Gue lagi pakai baju nih!" teriak Adhea (Aqila) dari balik pintu.


"Cuma ganti baju doang lama banget. Cepetan woy!" Adhim terus menggedor-gedor pintu itu.

__ADS_1


Tak berselang lama, Adhea (Aqila) keluar dari ruangan itu dengan memakai pakaian berwarna hitam yang terlalu besar di tubuhnya dan juga jins yang terlalu panjang di kakinya.


"Hahahhaaa ...." Adhim tertawa geli melihat Adhea (Aqila) memakai semua itu. Menurutnya itu terlalu besar di badan Adhea (Aqila).


"Kenapa? Udah puas lo ngetawain gue?" ucap Adhea (Aqila) kesal sambil menatap Adhim tajam.


"Biar gue pilihin bajunya. Lo tunggu di sini." Adhim berjalan ke ruangan tersebut dan mencari kaos yang ukurannya tidak cukup lagi di badannya. Ternyata tak perlu waktu lama, Adhim menemukan kaos berwarna abu dan jins yang menurutnya cukup untuk di pakai oleh Adhea (Aqila).


"Nih pakai. Cepet!" Adhea (Aqila) langsung membuka pakaian yang di pakainya di hadapan Adhim.


"Lo udah gak waras apa?! Lepas pakaian lo di sana cepet!" Adhim langsung menutup matanya saat melihat Adhea (Aqila) begitu saja melepaskan bajunya di hadapan Adhim.


"Lo suruh pakai ini, ya gue cobain langsung di sini! Gimana sih lo!" sahut Adhea (Aqila) yang semakin kesal.


"Ya ... bukan di sini juga lepasnya. Sana pergi!" Adhim membuka matanya kembali setelah Adhea (Aqila) memasuki ruangan khusuk pakaian itu.


"Bener-bener ni cewe. Beda banget sama sikap Aqila yang dulu. Tapi, gue yakin banget dia Aqila yang sebenarnya," gumam Adhim sambil melihat lekat-lekat foto Aqila yang ada di layar ponselnya.


____________________


Tok tok tok ....


"Assalamu'alaikum," salam Hendrik. Seseorang membuka pintu itu.


"Wa'alaikumussalam. Eh kalian, mau cari Adhim ya?" tanya Tiara memastikan.


"Iya, Tante," jawab Hendrik dengan ramahnya.


"Bentar ya, Tante panggil dulu Adhim nya." Tiara meninggalkan ketiganya di luar rumah dan berjalan menuju kamar Adhim.


"Tapi siapa, Mah?" buk sempat Tiara berbicara soal ini, Adhim sudah menanyakannya.


"Temen kamu, kamu cepet temuin mereka gih." Setelah Tiara menyuruh Adhim untuk ke luar, ia melanjutkan kegiatannya sebagai seorang ibu di rumah. Sebenarnya Tiara adalah seorang arsitektur, jadi tidak heran jika rumah nya di desain dengan seindah mungkin.


"Gue sampai lupa ngabarin Hendrik." Adhim baru mengingat kalau dia tidak mengabari Hendrik soal dua kabur dari rumah sakit.


Adhim segera berlari ke pintu depan untuk menemui ketiganya.


"Syukur lo ada di sini, Dhim," kata Hendrik yang bisa bernapas lega.


"Maaf, gue gak ngabarin kalian soal ini. Besok gue udah bisa sekolah," jelas singkat Adhim.


"Kalau lo ada di sini, kita gak perlu khawatir lagi nyariin lo," kata Rendi angkat bicara.

__ADS_1


"Adhim? Lo di mana!" teriak Adhea yang sedang menuruni tangga.


"Suara siapa tu, Dhim?" tanya Adit terheran-heran.


__ADS_2