
"Untung gue punya alasan, kalau nggak. Huuhhff ... bisa-bisa Rendi sama Jio berantem, terus ... gue juga yang kena, kan?" gumam Aqila yang sedang berjalan di area koridor kelas.
"Sayang awas!" teriak Jio yang tengah berdiri di lapangan basket. Sontak semua orang menatap Jio heran. "Eh, maksudnya. Aqila awas!" sambung Jio setelah dia mengetahui bahwa semua orang menatapnya.
Buk ...!
Dengan kecepatan di atas rata-rata. Kaya mobil ae, haahaa .... Maksudnya dengan kecepatan yang luar biasa, tiba-tiba bola basket tersebut menghantam kepala Aqila. Gelap? Tentu saja, itulah yang di rasakan Aqila setelah bola yang cukup besar itu mengenai kepalanya. Sontak semua orang yang ada di sana langsung berlarian menghampiri Aqila.
"Aduh ****** gue! Kenapa gue bisa seceroboh ini sih!" gumam Jio yang kesal dengan dirinya sendiri sambil memukul kepalanya keras.
"Aqila!" Jio langsung berlari menghampiri Aqila yang sudah tergeletak di tanah.
"La, bangun. Aqila ... bangun! Gue mohon, bangun!" kata Jio dengan penuh kekhawatiran sambil memukul pipi Aqila pelan. Dengan cara ini mungkin Aqila akan sadar. Itulah yang Jio pikirkan sekarang. Tanpa membuang waktu lagi, Jio meminta tolong kepada siswa di sana untuk membantunya mengangkat Aqila menuju UKS.
Beberapa saat kemudian ....
"Kok gak keluar-keluar sih?! Apa Aqila baik-baik saja?" ucap Jio sambil melihat ke arah jendela kaca, dia melihat Aqila sedang terbaring lemas di atas ranjang UKS.
"Kalau lo sampai kenapa-napa, gue gak akan pernah maafin diri gue sendiri, La," gumam Jio yang sedang duduk di luar UKS dengan perasaan di penuhi rasa bersalah.
"Dia akan baik-baik saja setelah beberapa jam ke depan," ucap seorang siswa yang cukup ahli dalam masalah ini.
"Oke, thanks ya," sahut Jio dan langsung masuk menghampiri Aqila.
"Kenapa lo gak sadar juga? Ini semua gara-gara gue!" Kata Jio dan karena rasa bersalahnya begitu besar, Jio memukul-mukul dinding UKS.
"Di Jio bucin banget sama Aqila. Apa jangan-jangan ... mereka udah pacaran? Ah, gak mungkinlah, massa Jio suka sama cewe kaya Aqila sih," gumam seseorang dari arah luar. Semua siswa di sekolah itu, bahkan sahabat Jio sekalipun tidak mengetahui kalau Jio sudah berpacaran.
πππ
"Tadi, pas di parkiran. Aku ketemu sama Rendi, dan aku liat, dia keluar sekolah naik mobilnya. Ya udah aku ikutin dia, ternyata dia berhenti di sebuah cafe deket sekolah XX. Di sana, dia ngobrol akrab banget sama cewe, kalau di liat dari seragamnya, dia sekolah di sana," jelas Siska panjang lebar. Fatih mengangguk dan berpikir sejenak.
"Kalau gitu, nanti pulang sekolah, kita langsung ke sana. Siapa tau Rendi balik lagi ke sana, kan?" usul Fatih, tidak ada jawaban dari Siska. Dia hanya mengangguk menuruti perkataan pacarnya itu.
__ADS_1
"Ada yang berduaan aja nih," sindir Hans yang tiba-tiba datang menghampiri keduanya.
"Hans! Ngapain lo di sini?" tanya Fatih dan langsung melepaskan tangan Siska yang dia pegang dari tadi.
"Bukan urusan lo gue ada di sini. Tapi gue ngingetin kalian berdua. Kalau berduaan terus, di tempat sepi kayak gini lagi. Nanti ketiganya setan," jelas Hans menakuti keduanya.
"Setan? 1 ... 2 ... 3." Fatih menunjuk masing-masing dan hitungan terakhir berada di Hans.
"Setan ya?" sindir Fatih yang menahan tawanya.
"Jadi setannya ...." Belum sempat Siska melanjutkan bicaranya, Hans menyergahnya.
"Udah-udah jangan di bahas lagi. Gue ke sini mau curhat sama kalian," ucap Hans yang memindahkan topik pembicaraan dan langsung duduk di antara keduanya.
"Main seledek aja lo!" ucap Fatih kesal, dia tidak terima kalau harus di pisahkan dari Siska.
"Dih! Punya pacar baru enam bulan aja sombong, nanti gue bakal pacaran sama Cika sampai enam tahun," sahut Hans membela diri.
"Ngekhayal aja tinggi-tinggi, nanti juga jatuh sendiri," balas Fatih sambil tertawa terbahak-bahak.
"Udah-udah, kalian kaya Tom and Jerry aja. Daripada gini terus, mending gue yang pergi dari sini." Siska angkat bicara saat merasa risih mendengar keduanya bertengkar.
"Eh! Kamu di sini aja, temenin aku. Kalau nanti aku ketauan berduaan sama ni orang di sini, apa kata dunia nanti. Lagi pula, aku mau ngomongin tentang Renβ" Fatih langsung menghentikan bicaranya, Siska membalik badan dan langsung memolototi Fatih. 'Jangan sampai keceplosan!' itulah yang dilihat Fatih dari cara Siska menatapnya.
"Tentang siapa?" tanya Hans penasaran, dia menatap keduanya heran.
"Ah, nggak. Biasa, kalau lagi pacaran suka ngomongin tentang hubungan lebih lanjut," ucap Siska sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kirain apaan," sahut Hans yang kembali cemberut.
"Ya udah, gue ke kelas dulu ya. Bye," pamit Siska dan berlahan perlahan menuju kelasnya.
πππ
__ADS_1
"Hai, La," sapa Adhim ramah, dia langsung memegang tangan Aqila.
"Hai juga," balas Aqila sambil tersenyum ramah.
"Gue mau ngomong sesuatu sama lo, boleh?" tanya Adhim memastikan, Aqila hanya mengangguk.
Adhim langsung menarik tangan Aqila menuju lapangan basket.
"Hey, denger semua! Gue mau ngomong sama Aqila," teriak Adhim memanggil semua siswa untuk mendekatinya.
"Adhim mau ngomong apa sih?" tanya Aqila penasaran.
"Udah, nanti juga tau," balas Adhim dengan nada rendah, terdengar seperti berbisik.
"Kamu liat ke atas sana," suruh Adhim sambil menunjuk ke lantai atas. Adhim menepuk tangannya dan keluar spanduk bertuliskan 'Aqila, do you want to be my girlfriend?'
Adhim berlutut di depan Aqila sambil berkata "Sebenarnya gue suka sama lo udah lama, tapi gue gak berani ngungkapin perasaan ini sama lo. Dan sekarang waktu yang tepat untuk ngungkapin semua perasaan gue. Lo mau jadi pacar gue?" tanya Adhim, dia harap Aqila menerimanya.
"Terima ... terima ... terima ...." ucap semuanya sambil menepuk-nepuk tangannya.
"Maaf. Tapi, Qila gak bisa ...." Dia tidak melanjutkan perkataannya, sontak semuanya terdiam dan menatap Aqila heran.
"Jadi, lo gak bisa?" gumam Adhim, dia melepaskan tangan Aqila dan pergi dari tempat itu.
"Maaf, Aqila gak bisa ... gak bisa nolak Adhim," ucapnya, Adhim langsung berbalik badan dan menatap Aqila bingung.
"Jadi, kamu terima?" tanya Adhim memastikan.
"Iya," jawab Aqila sambil tersenyum semanis mungkin.
"Makasih." Dengan refleks Adhim memeluk Aqila erat.
____________________
__ADS_1
"Aaaaa!" seakan mimpi buruk, dia langsung membuka matanya dan melihat sekitar berwarna putih.
"Kenapa gue bisa mimpi dia sih!" gumam Aqila kesal. Dia melihat ke sisi kanan dan kiri, tidak ada siapapun si sana , hanya ada peralatan kesehatan dan berbagai obat tertata rapih di tempatnya.