Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
Dapet Karmanya Sendiri


__ADS_3

Drrtttt ... drrtttt ....


Ponsel Aqila bergetar.


"Siapa sih! Ganggu gue tidur aja," gumam Aqila kesal sambil meraba-raba ponselnya yang berada di atas meja.


Dengan mata yang masih tertutup rapat Aqila mengangkat telponnya.


"Hallo? Paan sih?


tanya Aqila dengan nada sedikit kesal.


"Pacar ... kirain kamu masih tidur,


ucap Jio menggoda Aqila.


"Nganggu tidur gue aja lo!


balas Aqila ketus, ia langsung bangkit dari tidurnya.


"Bangun udah siang,


kata Jio dengan lembut.


"Udah siang udah siang. Ini masih jam 4 woy!


kesal Aqila dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.


"Ya bagus, berarti gue itu imam yang baik. Bangunin lo waktu subuh,


jelas Jio dengan PD-nya.


"PD banget lo, sholat lima waktu aja jarang,


sindir Aqila sambil menahan tawa.


"Udah jangan ganggu gue lagi, bye!


tanpa ada balasan dari Jio, Aqila langsung menutup telponnya dan kembali tidur.


Jangan di tiru ya manteman ... 🙃


"Gara-gara si Jio. Gue jadi gak bisa tidur lagi, kan," gumam Aqila kesal. Ia sudah membalik-balikkan badannya, tetap saja tidak bisa tidur dengan nyenyak.


"Aqila, apa kamu udah bangun?" tanya Asti dari balik pintu kamar Aqila.


"Udah mah," teriak Aqila, Asti langsung membuka pintu dan masuk ke kamar Aqila.


"Kamu udah sholat?" tanya Asti sambil mengusap lembut ujung kepala Aqila.

__ADS_1


"Lagi dapet, Ma," jawab Aqila yang sedang mengucek-ngucek matanya.


"Padahal gue lagi males aja, hihiii," batin Aqila tertawa tanpa merasa dosa.


Sikap yang kaya gini jangan di tiru ya 😁. Dasar Aqila! Buat authornya juga geleng-geleng kepala.


"Mama sama papa kamu mau bicara, kamu cepet siap-siap." Tanpa berbicara lagi, Asti keluar dari kamar Aqila.


Tak perlu waktu lama, Aqila langsung pergi ke kamar mandi dan membasuh mukanya. Lalu, bergegas pergi ke bawah.


"Ada apa, Ma?" tanya Aqila yang sedang menghampiri keduanya di ruang tamu.


"Kamu duduk di sini," balas Asti sambil melambaikan tangannya kepada Aqila.


"Kita to the point aja. Jadi, kamu akan di jodohkan sama anak temen Papa," jelas Saddam tanpa basa-basi.


"Apa! Di jodohkan?! Tapi kan, Pa ... aku masih sekolah," kata Aqila kaget, dia tidak setuju dengan apa yang di katakan ayahnya itu.


"Papa tau, tapi ini demi kebaikan kamu juga. Kalau kamu menerima perjodohan ini, pendidikan dan masa depan kamu akan baik-baik saja. Tapi, kalau kamu menolak perjodohan ini, sekolah kamu sampai SMA saja. Kamu pikirkan dengan baik, Papa harap, kamu menerima semua ini," jelas Saddam panjang lebar, ia langsung pergi meninggalkan Aqila dan Asti di ruang tamu.


"Tapi, Ma ... aku gak mau di jodohin, kenapa Papa ngelakuin ini sama aku?" tanya Aqila, air matanya tidak bisa ia bendung lagi.


"Ucapan Papa, kamu bener sayang. Tapi, Mama tidak memaksa kalau kamu menerima perjodohan ini. Tapi, ini semua demi karir kamu dan Papa juga," jelas Asti sambil memeluk Aqila untuk menenangkannya. Ia tau apa yang di rasakan Aqila sekarang, karena ia pernah ada di posisi yang sama seperti anaknya.


"Udah, kamu jangan pikirin soal ini lagi. Kamu siap-siap gih ke sekolah," kata Asti yang sedang menghapus air mata Aqila.


Waktu sudah menunjukkan pukul 6.15, seharusnya Aqila sudah berangkat sekolah. Karena suasana hatinya sedang kacau, dia tidak bersemangat pergi ke sekolah.


"Aqila, di depan ada temen kamu tu," kata Asti yang masuk ke kamar Aqila.


"Siapa, Ma?" tanya Aqila yang sedang mengikat rambut panjangnya itu.


"Katanya sih namanya Jio, itu temen ba—" belum sempat Asti melanjutkan bicaranya, Aqila langsung berlari ke luar.


"Yo? Lo ngapain ke sini?" tanya Aqila kaget, sebelumnya ia tidak pernah cerita kalau ia tinggal di sini.


"Mau jemput lo lah. Kan gue pac—" Tangan Aqila sudah berada di depan mulut Jio, setelah melihat ibunya menghampiri keduanya.


"Hampir aja," gumam Aqila bernapas lega.


"Hampir apa, La?" tanya Jio dengan polosnya.


"Bukan urusan lo!" jawabnya ketus sambil melihat Jio tajam.


"Tunggu di sini, gue mau ambil tas dulu." Aqila langsung berlari menuju kamarnya untuk mengambil tas.


"Kamu teman baru Aqila ya?" tanya Asti yang kemudian duduk di kursi kosong.


"Iya, Tante. Sekaligus pacar Aqila," jawab Jio sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


"Pacar?" gumam Asti terheran-heran.


"Kalau gitu kita pergi dulu Ma, assalamu'alaikum," pamit Aqila dan mencium punggung tangan Asti begitupun dengan Jio.


🍁🍁🍁


"Gue denger, Nadya yang buat Aqila di keluarin dari sekolah ini, dan dia juga yang waktu itu nabrak Aqila sampai Aqila masuk ke rumah sakit," ucap siswa yang berada di koridor kelas.


"Yang bener lo?! Lo tau dari mana semuanya?" tanya siswa lainnya penasaran.


"Massa lo gak tau, gue liat di instant story Nency sama Sarah," jawab siswa lainnya.


"Karena dia udah jahatin Aqila selama ini, akhirnya dia dapet kurmanya sendiri," ucap siswa yang tadi.


"Karma! Bukan kurma, kalau kurma itu makanan!" sahut siswa yang lainnya dengan nada tinggi.


"Nah, itu maksud gue."


"Keterlaluan banget tu si Nadya. Gue jadi merasa bersalah sama Aqila," ucap siswa yang tadi, ia memutar ingatannya pada kejadian Aqila di maki-maki seluruh sekolah.


"Gue juga," ucap siswa lainnya serempak.


____________________


"Dit, denger dulu penjelasan gue. Gue bener-bener minta maaf, gue bener-bener nyesel, maafin gue, Dit," kata Nadya memohon, Adit hanya diam dan tidak mendengarkan Nadya. Sekarang, kebenciannya melebihi rasa cintanya kepada Nadya.


"Nadya, lo di panggil sama kepada sekolah tuh," ucap seorang siswa. Nadya pun langsung berjalan ke ruang kepala sekolah.


"Permisi, Pak."


"Silakan masuk." Pak Fahri mempersilahkan Nadya masuk dan duduk di kursi yang telah di sediakan.


"Saya sangat kecewa sama kamu, Nadya. Kamu itu Putri sekolah, dan besok akan mewakili sekolah ini dalam acara School Girls' Association. Kamu tau itu," jelas Pak Fahri kecewa.


"Dan karena hal ini, saya merasa bersalah terhadap Aqila dan keluarganya," sambung Pak Fahri sambil memegang kepalanya yang sudah cape menangani siswa seperti Nadya.


"Maaf, Pak. Saya bener-bener menyesal, saya mohon jangan keluarin saya dari sekolah ini, Pak. Dan saya janji, sebagai putri sekolah ini, saya akan meminta maaf langsung kepada Aqila dan memperbaiki semuanya. Saya janji, Pak," jelas Nadya yang merasa bersalah.


"Bapak akan memberi kamu satu kesempatan lagi. Tapi, jabatan kamu sebagai putri sekolah di sekolah ini, akan saya cabut dan memberi gelar kepada orang lain," kata Pak Fahri dan langsung meninggalkan Nadya di sana.


Nadya akhirnya berlari menuju kelasnya, untuk meminta maaf kepada kedua sahabatnya.


"Kalian lagi pada ngapain nih," ucap Nadya yang langsung memegang kedua sahabatnya itu.


"Kelihatannya kita lagi ngapain?" tanya Sarah ketus. Ia tetap fokus pada layar ponselnya.


"Maafin gue ya, gue gak bermaksud begitu kemarin," jelas Nadya sambil tersenyum.


"Maaf? Jangan harap lo bisa nerima maaf dari kita, kita udah bantu lo. Tapi lo anggap kita apa, Nad?" pekik Nency dan langsung pergi meninggalkan Nadya di kelas.

__ADS_1


__ADS_2