Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
Ancaman Nadya


__ADS_3

"Di!" panggil Adhim dan langsung mendorong Rendi.


"Aapa-apaan sih, Lo!" Kerena tidak terima dengan sikap Adhim, Rendi membalas nya kembali.


"Lo yang apa-apaan! Lo tau kan di mana rumah Aqila sekarang!" ucap Adhim sambil memegang kerah segaram Rendi.


"Apa urusannya sama lo?" tanya Rendi mencoba untuk tetap tenang.


"Apa urusannya?! Ya jelas ada urusannya sama gue, gue penting di hidup Aqila. Jadi, gue berhak tau dimana keberadaan Aqila sekarang," ujar Adhim yang masih kesal.


"Lo kata, lo penting di hidup Aqila?! Tapi, apa Aqila penting di hidup lo, Dhim?! Camkan ini baik-baik! Gue gak tau di mana keberadaan Aqila. Kalau gue tau, gue juga gak akan kasih tau sama lo," jelas Rendi, mencoba untuk tetap tenang.


Karena Adhim salah satu orang yang tidak bisa mengontrol emosinya. Tanpa berpikir dua kali, tangan Adhim berhasil mendarat di sudut bibir Rendi.


"Aqila penting di hidup gue! Camkan itu baik-baik! Jadi, lo jangan coba-coba rahasiain tentang Aqila dari gue." Hampir saja Adhim mendaratkan kembali tangannya, Hans mencegahnya.


"Dhim udah! Lo jangan egois, lagipula lo gak akan punya informasi tentang Aqila dari dia. Kita pergi aja dari sini." Hans menceramahi Adhim agar tidak bersikap egois.


Adhim melepas kerah baju Rendi dan meninggalkan Rendi yang masih tergeletak di lantai.


"Awas aja lo!" ancam Adhim dengan tatapan tajam.


"Gue gak akan biarin lo deket sama Aqila lagi, Dhim," gumam Rendi sambil mengelap cairan merah yang keluar dari sudut bibirnya.


____________________


"Guys, kita berhasil keluarin si cupu itu dari sekolah ini," ucap Nadya dengan senangnya.


"Gue akan terus manfaatin Adit untuk menjadikan Adhim seutuhnya milik gue," sambung Nadya, senyum puas mengambang di bibirnya.


"Tapi gue heran sama lo, Nad. Adit udah tampan, baik, keren, tajir lagi. Tapi kenapa lo gak mau sama dia?" tanya Sarah terheran-heran.


"Asal kalian tau, gue deketin Adit cuman buat popuritas aja. Lagi pula, gue gak mau punya pacar yang pe—" Nadya tidak melanjutkan perkataannya setelah mendengar kedua temannya itu bergumam, "Nadya itu."


"Kalian kenapa sih?" tanya Nadya bingung.


"Itu, liat di belakang lo!" Nency menunjuk ke arah belakang Nadya. Nadya langsung menoleh ke arah belakang.


"Jadi gini rencana, lo! Kalau gue kasih tau Adit, gimana jadinya ya?" ancam Siska, sontak membuat Nadya marah dan langsung mencengkram tangan Siska kasar.


"Lo jangan kasih tau Adit. Kalau lo kasih tau Adit, awas aja lo!" ancam Nadya kembali, Siska tidak takut dengan ancaman yang Nadya buat.


"Denger! Kalau sampai lo ngasih tau adit, gue gak akan segan-segan laporin ke mokap gue agar perusahaan keluarga lo bangkrut, ngerti!" Nadya meninggalkan Siska sendirian di sana.


____________________

__ADS_1


"Hai, future lover Abang temenin, mau gak?" goda Hans pada Cika saat berpapasan.


"Gak jelas banget!" gumamnya ketus sambil menatap Hans tajam.


"Kalian duluan aja, gue ada urusan bentar," ucap Hans dan langsung menghampiri Cika.


"Pepet terus!" teriak Fatih dari kejauhan.


"Siap bos qu," jawab Hans dengan teriakan juga.


Cika berjalan ke sana, ke sini, Hans tetap mengikutinya dari belakang. Cika merasa risih dengan keberadaan Hans yang terus mengikutinya, dia pun menghentikan langkahnya.


"Kenapa lo ngikutin gue terus sih?! Apa gak ada kerjaan lain gitu?!" Cika tampak kesal dengan tingkah laku Hans yang berlebihan terhadapnya.


"Gak ada," jawabnya santai. Cika semakin geram di buatnya, dia pun meninggalkan Hans dan pergi ke kelasnya.


"Gue gak akan nyerah gitu aja, lo juga nanti jadi pacar gue," gumam Hans, kedua sudut bibirnya naik.


"Eh, Hans. Mau kemana?" tanya Bu Kinar yang tiba-tiba datang.


"Eh Ibu, saya mau ke kelas, Bu," sahut Hans dan melangkah menuju kelas, bukan kelasnya tapi kelas Cika.


"Ini buka. kelas kamu," ucap Bu Kinar. Hans menghentikan langkahnya.


____________________


'Apa gue ceritain sama Adit soal ini? Kalau gue kasih tau semuanya, Aqila pasti bakal sekolah di sini lagi. Tapi, gimana nasib keluarga gue?' batin Siska. Dia tidak tau harus mengatakan apa, karena dia memiliki pilihan yang berat.


Siska berjalan ke sana ke mari mencari orang yang bisa ia percaya dan mengerti apa yang ia rasakan sekarang. Siska menghentikan langkahnya ketika sudah tau siapa yang akan di ajaknya bicara.


"Bisa bicara?" tanya Siska, lalu ia mengangguk pelan.


"Mau bicara apa?" tanyanya bingung, sepertinya penting itu pikirnya.


Siska melihat-lihat sekitar, agar tidak ketahuan kalau dia menceritakan semuanya.


"Sebenarnya ada apa?" tanyanya kembali, di pikirannya hanya penuh dengan tanda tanya.


"Semua aman," gumam Siska dan mulai menceritakan semua yang di dengarnya.


"Gini ...." Siska menceritakan semuanya.


"Apa?! Nadya bilang begitu? Bener-bener tu cewe!" Gerutunya, dia tidak terima kalau Siska di ancam begitu.


"Jangan kasih tau siapa-siapa, pliiss ...." Siska memohon agar tidak membocorkan semua rahasia ini.

__ADS_1


"Tapi, kita gak bisa diem aja, kita harus jelasin semuanya ke mereka," ujarnya yang masih merasa kesal.


"Jangan gegabah. Kita harus bikin rencana buat semua ini." Siska mencegahnya agar berpikir dua kali sebelum bertindak.


____________________


"Aqila, maafin Papah, kalau kamu harus pindah sana sini," ucap Saddam merasa bersalah.


"Gak papa kok, Pah. Aqila ngerti," ujarnya sambil tersenyum.


"Oh iya, tumben Siska sama Hendrik nggak main ke sini? Apa mereka gak tau kalau kamu pindahan?" tanya Asti sambil menyimpan piring yang berisikan kue buatannya.


"Mmm ... anu, sebenarnya Aqila nggak kasih tau mereka. Hanya Rendi yang tau aku pindahan, dan ... itupun di rahasiain," jelas Aqila gugup.


"Kenapa di rahasiain? Mereka kan teman kamu," tanya Asti bingung. Lagi-lagi Asti memberikan pertanyaan yang sulit untuk Aqila jawab.


"Sempat lupa ... aku berangkat sekolah dulu, Mah, Pah." Karena Aqila tidak mau mendengar semua pertanyaan dari wanita yang telah melahirkannya iyu, dia beralasan untuk pergi ke sekolah.


"Akhir-akhir ini dia bersikap aneh ya Pah," ucap Asti melihat Aqila heran.


"Nggak, itu cuman perasaan mamah kali," ujar Saddam meyakini istrinya itu.


Aqila melajukan motornya menuju cafe dekat sekolah barunya. Cafe tersebut biasanya tempat para siswa nongkrong setelah pulang sekolah. Tapi Aqila menggunakannya hanya untuk bolos sekolah.


"Apa gue telpon dia aja ya? Itung-itung temenin gue di sini," gumam Aqila sambil menatap layar ponselnya. Saat Aqila menelponnya, dia reject telpon Aqila.


"Dih. Malah di decline!" Aqila meletakkan handphone nya di atas meja. "Gue sendiri lagi ...." gumam Aqila dengan muka cemberut.


"Kenapa tuh muka?" tanya seseorang dari belakang Aqila.


"Bukan urusan lo!" jawab Aqila ketus.


"Yakin bukan urusan gue?" Laki-laki itu kemudian duduk di depan Aqila sambil tertawa kecil.


"Kenapa lo reject telpon gue?!" tanya Aqila dengan menatapnya sinis.


"Santai aja kali. Gue tebak, lo pasti bolos lagi, kan?" tanyanya memastikan.


"Itu tau, gue gak mood ke sekolah," ucap Aqila sambil mengaduk minuman di depannya dengan sedotan.


"Lo seharusnya memberi contoh yang baik, bukannya buruk. Kalau semua siswa tau lo kayak gini, auto di pecat lo jadi putri sekolah, lo gak mau itu terjadi, kan?" jelas laki-laki tersebut, sebenarnya dia khawatir dengan sikap Aqila yang berubah drastis, tapi Aqila tidak mempedulikan semua itu.


"Ceramahin aja gue terus!" Dengan perasaan kesal, Aqila meninggalkan laki-laki itu sendirian di cafe.


"Dih, udah di bilangin juga, masih aja gitu." Laki-laki tersebut menggelengkan kepalanya pelan melihat Aqila yang begitu keras kepala.

__ADS_1


__ADS_2