Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
S-2. Kabur Dari Rumah


__ADS_3

Tok tok tok


Suara itu terdengar jelas di telinga Tiara. Ia akhirnya membuka pintu tersebut dan menemukan Fatih dan Hans di sana.


"Maaf, Tante. Kita mau ketemu Adhim, boleh?" tanya Hans sopan. Tiara mempersilahkan Hans dan Fatih masuk. Keduanya berjalan menuju kamar Adhim dan mengantuk pintu.


"Dhim! Ini gue Fatih sama Hans. Kita mau bicara sama lo, buka pintunya!" ucap Fatih sambil berdiri dan memegang handle pintu.


Karena tidak ada balasan dari Adhim, akhirnya Fatih mendorong handle pintu tersebut ke bawah. Ternyata pintunya tidak terkunci dan keduanya masuk ke dalam kamar Adhim.


"Gak ada?" gumam Hans memutar bola matanya menatap sekeliling kamar tersebut.


Fatih memeriksa lemari pakaian Adhim, ternyata hanya ada beberapa baju di sana.


"Dia kabur, Hans!" Fatih langsung berlari keluar kamar tersebut di ikuti Hans dari belakang.


"Kalian mau ke mana?" tanya Tiara saat melihat Hans dan Fatih berlarian.


"Anu, Tante. Adhim– Adhim gak ada di kamarnya!" jawab Fatih yang panik.


Tiara yang tadinya sedang memegang nampan, seketika lemas sehingga nampan tersebut jatuh.


"Apa! Kenapa Adhim ...? Tolong cari Adhim sampai ketemu! Tante nggak mau dia sampai kenapa-napa," kata Tiara memohon sambil terisak menangis.


"Tante tenang aja, kami berdua akan cari Adhim sampai ketemu." Fatih langsung berlari keluar dari rumah itu.


"Kita cari ke mana?" tanya Hans menatap bingung Fatih.


"Gue tau harus ke mana!" Fatih langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi menuju tempat yang di maksud.


Sementara itu, Siska duduk di hadapan Aqila dengan tatapan tajam.


"Apa vidio ini bener?" tanya Siska memperlihatkan ponselnya di hadapan Aqila. Aqila hanya mengangguk pelan.


"Jadi bener? Kenapa lo rahasiain ini dari sahabat lo sendiri?" tanya Siska menatap Aqila kecewa.


"Maafin Aqila, Aqila nggak mau kalian terlibat dalam masalah Aqila lagi," jelas Aqila yang menunduk.


"Tapi ini sama aja nyakitin diri lo sendiri! Lo seharusnya cerita sama gue, kita hadapin sama-sama," sahut Siska sambil memegang kedua tangan Aqila.


"Maaf! Maafin Aqila!" tanpa aba-aba, cairan bening mulai mengalir di pipinya.


"Harusnya lo minta maaf sama Adhim. Karena Adhim satu-satunya orang yang sangat terpukul saat ini." Siska menggeser kursinya dekat dengan Aqila dan memeluknya.

__ADS_1


🍁🍁🍁


"Dengan uang ini, setidaknya bisa mencukupi kehidupan gue nanti." Adhim mengambil semua uang yang ada di kartu ATM nya.


Setelah mengambil uang, Adhim melajukan motornya jauh dari tempat tinggalnya.


Sudah 4 jam Adhim mengendarai motornya itu, entah kemana tujuannya saat ini. Yang Adhim pikirkan saat ini adalah jauh dari teman-teman.


"Mungkin ini udah lumayan jauh." Adhim menghentikan motornya dan mencari kontrakan atau kossan.


Hari pun mulai gelap, tapi Adhim belum juga menemukan kontrakan dan kossan yang pantas untuknya.


Setelah kurang lebih setengah jam berkeliling wilayah tersebut, akhirnya Adhim menemukan kontrakan yang menurutnya cocok.


Adhim langsung merebahkan tubuhnya di kasur tipis dan terlelap karena kelelahan.


Keesokan paginya ....


Karena tidak ada persediaan makanan, Adhim pergi ke luar untuk memberi makanan. Ia memilih berjalan kaki dari pada harus naik motor.


Setelah makan di salah satu warteg, Adhim berkeliling di wilayah tersebut untuk melihat-lihat.


Setelah Adhim berjalan lumayan jauh, dia sampai di suatu Padang rumput yang sangat luas di sana. Terlihat banyak orang yang menikmati pagi hari ini di sana, akhirnya Adhim memilih untuk duduk di Padang rumput luas itu sambil tersandar di pohon.


Dari kejauhan, bola basket menghampiri Adhim yang sedang terbaring.


"Maaf! Bisa lempar ke sini!" teriak salah satu pemain basket kepada Adhim.


Adhim tidak melemparnya, ia berjalan sambil membawa bola basket tersebut.


Setelah berada di tengah lapangan basket itu, Adhim langsung melemparnya langsung ke jaring, dan ternyata bolanya masuk.


"G– gak mungkin! Ketua kita aja gak bisa lempar sejauh itu! Kenapa dia bisa?!" gumam anggota lainnya menatap Adhim kagum.


"Tunggu! Gue ada tawaran buat lo! Ap–" Belum selesai laki-laki itu berbicara, Adhim menyergahnya.


"Gue gak tertarik!" tukas Adhim dan berjalan keluar dari lapangan tersebut. Dan duduk kembali di tempat semula.


Karena hari semakin malam, Adhim akhirnya pulang. Saat dalam perjalanan pulang, ia bertemu dengan tiga orang yang mengganggunya.


"Serahin semua yang lo punya!" ucap orang tersebut sambil memegang kerah jaket Adhim.


"Lepasin gue!" Adhim langsung mendaratkan pukulan di wajah orang tersebut sampai tersungkur.

__ADS_1


"Lo berani lawan kita! Lo akan rasain akibatnya!" Orang itu memberi kode, dan tak lama kemudian datang lima orang di sana.


Terjadilah perkelahian antara segerombolan orang tersebut dengan Adhim.


Adhim yang sudah tidak kuat berdiri dan tubuhnya yang di penuhi darah, tidak dapat melawan mereka. Orang itu langsung mengambil barang-barang milik Adhim termasuk ponsel dan uangnya.


"Kembalikan barang-barang itu!" teriak seseorang dari arah belakang mereka.


"Lo siapa?" tanya salah satu orang tersebut memandangnya remeh.


"Lo cewek jangan main campur masalah laki-laki!" bentak orang yang sama sambil mendorongnya sampai perempuan itu terjatuh.


"Kalau di liat-liat lo cantik juga ya," goda orang itu sambil memegang dagunya.


"Lepasin! Kalau lo gak mau cari mati!" ancam perempuan tersebut menyeringai.


Semua orang tersebut tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ucapan perempuan itu.


"Semua masuk!" teriak perempuan tersebut, tiba-tiba segerombolan orang yang jumlahnya melebihi orang yang merampok Adhim.


"Kalau gue lawan mereka! Bisa habis gue di sini juga! Mending gue kabur aja dari sini!" batin orang tersebut.


Orang yang bertubuh kekar itu tampak ketakutan, dan langsung menyimpan barang-barang Adhim di hadapan perempuan itu dan berlari sekuat tenaga.


"Bos! Tungguin kita!" Semua perampok tersebut akhirnya mengikuti bosnya yang lari terbirit-birit.


"Gitu aja takut!" gumam perempuan itu menatap semua orang itu remeh.


"Thanks," ucap perempuan itu sambil menjabat tangan temannya.


"It's okay. Kalau lo butuh bantuan lagi, bisa telpon gue lagi, gue akan selalu siap sedia bantu lo!" sahut laki-laki tersebut dan berjalan meninggalkan perempuan itu sendirian.


"Lo jadi orang nekad banget!" gumam perempuan tersebut sambil mengangkat Adhim menuju mobilnya.


🍁🍁🍁


"Ini di mana?" tanya Adhim membuka matanya perlahan.


Adhim bangkit dari tidurnya sambil memegang kepalanya.


"Kenapa kepala gue sakit banget ya?!" Adhim memutar ingatannya ke kejadian yang menimpanya semalam.


"Tapi gue kenapa ada di sini?" tanya Adhim menatap sekeliling, ternyata itu tempat Adhim tinggal.

__ADS_1


__ADS_2