Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
Hans dan Cika (Episode Bonus)


__ADS_3

HALLO APA KABAR SEMUANYA πŸ‘‹πŸ€—


MUNGKIN INI ADALAH EPISODE TERAKHIR DARI CHOOSING YOU IS MY WISH.


DAN RENCANANYA, AKU MAU BUAT LAGI SEASON KE DUA. DAN GAK AKAN UPDATE BEBERAPA HARI KE DEPAN, SOALNYA MAU MEMPERBAIKI KESALAHAN PADA BAB SEBELUMNYA.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, FAV, KOMEN SANA RATE 5 NYA 😁.


🍁🍁🍁


"Cewek," seru Hans memberi kode kepada Cika yang sedang berjalan sambil memainkan ponselnya.


"Lo manggil gue?" tanya Cika sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Bukan! Ya manggil lo lah, orang di sekitar sini gak ada yang lewat selain lo," sahut Hans, Cika melihat kanan dan kirinya, ternyata memang tidak ada yang lewat di lorong tersebut karena, jam pelajaran masih di mulai.


Tiba-tiba Hans menarik tangan Cika ke dinding sambil salah satu tangan Hans menempel pada dinding tersebut.


"Apaan sih lo!" Cika mendorong tubuh Hans.


"Lo belum jawab pertanyaan dari gue." Hans lagi-lagi mendekat ke arah Cika.


"Pertanyaan yang mana?" tanya Cika yang pura-pura tidak mengetahui nya.


"Gue suka sama lo! Apa lo mau jadi pacar gue?" bisik Hans mengulangi perkataan yang sempat ia ucapkan waktu itu.


"Denger ya! Kalau sampai ada yang liat kita di sini. Gue gak mau berurusan sama lo lagi!" Cika menggerutu kesal.


"Ya bagus, dengan begini gue bisa tambah deket lagi sama lo," celetuk Hans dan menjauhkan dirinya dari Cika.

__ADS_1


"Mungkin kalau gue ngomong yang sebenarnya, dia gak akan berani deketin gue lagi," batin Cika, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.


"Tapi ini bukanlah waktu yang tepat, mending gue kabur aja dari sini." Cika tanpa mengeluarkan suara hentakan kaki sedikit pun, dengan cepat berlari menuju kelasnya dan meninggalkan Hans sendirian di sana.


"Kamu sedang apa di sini?" tanya seseorang yang Hans kenal betul dengan suaranya. Dan ternyata itu adalah guru BK yang sedang berkeliling sekolah untuk memergoki muridnya yang bolos saat jam pelajaran.


"Eh, Bapak ...." sapa Hans dengan wajah watados.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Pak Wendi, yaitu guru BK di sekolah SMA Nusantara sambil menatap Hans tajam.


"Saya tadi lagi ngobrol sama temen saya, Pak," jawab Hans sambil menggaruk kepalanya yang memang terasa gatal.


"Teman yang mana?" tanya kembali Pak Wendi.


"Itu di belakang saya, ada teman saya kok, Pak." Hans membalikkan tubuhnya sambil menunjuk ke arah awal Cika berdiri.


"Lah? Kok gak ada? Cika kemana?" gumam Hans kebingungan.


"Tapi saya nggak bohong, Pak. Tadi saya sama Cika lagi ngobrol di sini kok, Pak. Suer ..." Hans memperlihatkan jarinya yang berbentuk 'V'.


"Kamu jangan bawa-bawa keponakan saya! Kalau kepala sekolah sampai tau anaknya difitnah seperti ini. Kamu mungkin akan di skors," jelas Pak Wendi. Hans di buat terkejut mendengarnya.


"Maksud Bapak ... Cika adalah keponakan Bapak? Sekaligus anak dari kepala sekolah di sini?! Bapak gak lagi bercanda sama saya kan, Pak?" tanya Hans memastikan.


"Buat apa saya bohong sama kamu. Kalau gak percaya, tanya aja sama Cika nya sendiri sana." kata Pak Wendi. Saat Hans hendak berjalan menuju kelasnya, Pak Wendi memanggilnya.


"Eh ...! Kamu mau kemana? Sekarang kamu harus berdiri di depan tiang bendera sambil hormat, sampai nanti saya suruh kamu masuk ke kelas kembali. Ini adalah hukuman kamu, sebab bolos di jam pelajaran," jelas Pak Wendi dengan tegasnya.


"Kata Bapak kalau mau tau Cika adalah keponakan Bapak, tanya langsung sama orangnya. Ya udah ... saya kan tanya langsung sekarang ke orangnya," sahut Hans.

__ADS_1


"Jangan sekarang juga dong Hans!" Pak Wendi di buat geram dengan Hans.


"Tapi, Pak. Saya hanya baru kali ini bolos Pak, jangan hukum saya ya, Pak." Hans memohon.


"Baru kali ini bolos, besok, atau mungkin lusa. Kamu juga akan bolos lagi. Agar membuat kamu kapok bolos di jam pelajaran, Bapak akan kasih kamu hukuman. Kali ini jangan membantah!" Pak Wendi menemani Hans menuju lapangan upacara untuk menerima hukumannya.


🍁🍁🍁


Setelah beberapa hari kemudian, saat jam istirahat Adhim, Hans dan Fatih biasa pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang kosong.


Saat perjalanan menuju kantin, tak sengaja Hans berpapasan dengan Cika. Akhirnya Hans langsung menarik tangan Cika ke halaman belakang untuk membicarakan sesuatu.


"Lo kenapa sih! Lepasin gue gak!" bentak Cika yang mencoba melepaskan diri. Karena genggaman Hans terlalu kencang, Cika tidak ada pilihan lain selain menggigit tangan Hans dan membuatnya kesakitan.


"Sakit tau!" ungkap Hans sambil memegang tangannya yang sakit.


"Makannya jangan megang sembarangan! Rasain, itu balasan dari gue!" kata Cika dengan perasaan kesal.


Belum sampai di halaman belakang, keduanya beradu pandang satu sama lain. Hans pun tidak ada pilihan lain selain mengatakannya di sini secara langsung.


"Lo beneran keponakan Pak Wendi sekaligus anak dari kepala sekolah?" tanya Hans memastikan. Cika hanya diam dan tidak menjawabnya.


"Jawab!" paksa Hans sambil memegang kedua pundak Cika.


"Iya! Emangnya kenapa? Masalah buat lo!" pekik Cika dan langsung menepis kedua tangan Hans darinya.


"Kenapa lo gak pernah cerita ini ke siapapun?" tanya Hans kembali penasaran.


"Karena– karena gue gak mau di perlakukan baik hanya karena gue keponakan dari guru BK. Atau malah kalau semua orang tau kalau gue anak dari kepala sekolah di sini. Mungkin semua orang akan bersikap baik sama gue meskipun mereka punya dendam sekalipun sama gue," jelas Cika panjang lebar.

__ADS_1


"Tapi kenapa hal sebesar ini di sembunyiin?" Hans semakin heran dengan Cika.


"Gue udah jelasin semuanya sama lo ya! Jadi biarin gue pergi!" Cika meninggalkan Hans sendirian lagi.


__ADS_2