Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
Pindah Rumah


__ADS_3

"Mencintai memang tidak mudah seperti yang kita bayangkan. Tapi, jika kita berusaha, pada akhirnya ... usaha yang kita lakukan tidak akan sia-sia." ~AfwaFN~


____________________


"Bagaimana dengan jawaban Bapak? Apakah menerima perjodohan ini atau tidak?" tanya orang dengan berpakaian rapih sedang duduk menatapnya tajam.


Saddam tidak menjawabnya, dia tampak berpikir sejenak, memikirkan pertimbangan yang ada.


"Bapak tau, kan? Saya tidak suka menunggu lebih lagi," kata orang itu, dari nadanya seperti akan mengancam.


"Saya menerima penawaran itu, dan anak saya juga setuju," jawab Saddam. Dalam lubuk hatinya, ia merasa bersalah pada Aqila, tapi ini demi kebaikannya juga.


"Saya sangat senang mendengar hal itu. Besok, kamu dan keluarga kamu pindah ke rumah asal dan mulai menikmati kehidupannya," jelas orang itu sambil menepuk bahu Saddam dan tersenyum.


"Tapi ingat, kalau Bapak melanggar perjanjian ini, Bapak akan tau akibatnya," bisiknya mengancam.


"Saya tidak akan mengecewakan Bapak," jawab Saddam tersenyum simpul.


"Bagus. Kalau gitu, saya pamit." orang itu meninggalkan Saddam sendirian di sana.


"Maafkan Papa, nak. Tapi ini demi kebaikan kamu juga," gumam Saddam, cairan bening sudah berada di kedua pelupuk matanya.


🍁🍁🍁


Di dorongnya tubuh Adhim dengan kasar oleh kedua bodyguard itu. Tanpa ada rasa iba dan rasa kemanusiaan. Sungguh kejam.


(Author nya terlalu berlebihan dalam kata-katanya), maaf ya 😅


"Eh! Lo jangan kasar-kasar dong!" bentak Hans sambil mendorong tubuh salah satu bodyguard itu.


"Udah sana pergi! Kalau kalian ada di sini lagi, kalian semua habis di sini! Cepat pergi!" kata orang itu dengan lantangnya sambil mendorong-dorong semuanya keluar.


"Santai aja dong! Ini juga mau keluar." Hans melepaskan tangan kedua tangan itu darinya dan membantu memapah Adhim yang tergeletak di tanah.


"Wah, emang parah tu si cupu," ucap Nency yang sedang memata-matai semua orang yang berada di sana.


"Eh, jangan panggil dia cupu lagi. Lo liat kan tapi gayanya? Lebih wae dari Nadya," jelas Sarah tidak setuju dengan Nency.


"Mereka ke sini!" sahut Nency dan keduanya langsung bersembunyi dari balik pohon.


"Pacar ... kamu bisa bawa motor besar ini gak?" tanya Fatih memastikan.


"Lo yang bener aja, Tih ... masa Siska di tawarin bawa motor segede ini sih!" gerutu Hans sambil menggeleng pelan.


"Bener juga apa yang lo bilang. Tapi, motor Adhim gimana?" tanya Fatih bingung.


"Udah buat gue aja yang bawa, gue bisa kok bawanya." Siska merebut kunci motor Adhim dari Fatih.

__ADS_1


"Bener kamu bisa?" tanya Fatih tidak yakin.


"Iya bisa, udah biar gue yang urus ini." semuanya menaiki kendaraannya dan pergi ke rumah sakit terdekat.


____________________


"La? Lo kenapa?" tanya Jio khawatir.


"Lepasin tangan lo!" Aqila menepis tangan Jio darinya.


"Lo kenapa jadi gini sih, La?" tanya Jio menatap Aqila terheran-heran dan membantunya berdiri.


"Gue mau sendiri ...." Nadanya mulai merendah.


"Tapi kan, La ..." Jio bersikeras agar tidak jauh dari Aqila.


"Gue bilang gue mau sendiri!" Suara itu begitu menggelegar di telinga Jio, ia hanya pasrah dan menuruti yang Aqila mau.


"Kalau lo butuh apa-apa, panggil gue," jelas Jio yang tengah menutup pintu kamarnya.


"Gue benci lo! Gue benci kalian! Gue benci ...!" teriak Aqila dengan kerasnya, sambil menjatuhkan semua barang yang ada di hadapannya.


"Aqila!" gumam Jio khawatir setelah mendengar semua barang yang ada di atas meja berjatuhan semuanya. "Apa gue masuk? Tapi, Aqila nanti marah sama gue lagi. Ah! Bodo amat pokonya gue harus masuk." Belum sempat Jio membuka pintu di hadapannya, ponselnya berdering.


"Jio?!" teriak Aqila dengan sekencang-kencangnya, mungkin terdengar Samapi lantai dasar.


"Bibi liat Jio gak?" tanya Aqila pada salah satu pembantu di sana.


"Tadi barusan, Tuan pergi ke luar, Non," jawabnya sambil menunjuk ke arah pintu luar yang terbuka lebar.


"Dia ninggalin gue di sini! Mending gue balik ke rumah daripada di sini gak jelas," gumam Aqila dan tanpa berbicara apapun lagi, ia berjalan ke luar rumah.


🍁🍁🍁


"Bagaimana keadaan temen gue, San?" tanya Hendrik kepada Dokter Sani. Jangan salah, Dokter Sani memang sudah dokter langganan keluarga Hendrik, sekaligus teman masa kecilnya.


"Lo gak usah khawatir. Dia baik-baik aja kok, tapi gue mau tanya dulu nih ... Aqila ada di sini gak yah?" tanya Dokter Sani sambil menatap sekeliling.


"Aqila? Emangnya ada perlu apa?" tanya Hendrik yang makin penasaran.


"Nama pasien nya Adhim, kan?" Hendrik mengangguk. "Pas gue periksa dia, dia terus sebut nama Aqila," sambung Dokter Sani.


"Bukannya Aqila dulu pacar lo ya?" bisik Dokter Sani kepada Hendrik.


"Itu dulu, sekarang nggak," sahut Hendrik, kaki ini ia tidak membalasnya dengan berbisik.


"Jadi harus gimana?" tanya Hans yang juga penasaran.

__ADS_1


"Menurut gue, sebaiknya Aqila dateng ke sini dan temuin Adhim. Kayanya Adhim butuh banget kehadiran Aqila sekarang. Kalau gitu gue pergi dulu ya," jelas Dokter Sani dan pergi menuju ruangannya.


"Thanks ya, San," kata Hendrik sebelum Dokter Sani meninggalkan mereka.


"Gue akan bantu lo buat bawa Aqila ke sini, Dhim. Gue janji!" batin Hendrik sambil menatap Adhim dari jendela kaca ruangan itu.


____________________


"Kalau masuk ke rumah itu, memberi salam," sindir Asti yang melihat Aqila masuk ke rumah tanpa mengucapkan satu kata bahkan satu huruf pun tidak.


"Assalamu'alaikum," ucap Aqila dengan lemasnya dan pergi begitu saja ke kamarnya.


"Wa'alaikumussalam." Asti menggeleng pelan melihat sikap anaknya yang tidak seperti biasanya itu.


"Selesai mandi, kamu cepet-cepet beresin semua baju kamu, ya."


"Kenapa?" tanya Aqila bingung.


"Kita besok akan pindah lagi ke rumah yang dulu," jelas Asti, Aqila menghentikan langkahnya.


"Kenapa?" tanya kembali Aqila yang masih bingung.


"Nanti juga tau," jawab Asti sambil tersenyum, seolah tidak ada masalah yang di hadapinya saat ini.


____________________


Keesokan harinya ....


"Meskipun nenek masih ada, pasti dia seneng banget. Karena ... rumahnya kembali," batin Aqila sambil menatap rumah yang cukup besar itu.


Ketiganya masuk dan membereskan semua ruangan yang berada di rumah itu sampai bersih.


"Akhirnya selesai juga," ucap Aqila yang sudah lelah dengan kegiatannya bersih-bersih.


"Apa kamu mau pindah sekolah lagi di SMA Nusantara?" tanya Asti secara tiba-tiba. Aqila cukup kaget dengan pertanyaan ibunya.


"Gak usah, Mah. Lagi pula aku udah betah di sekolah baru aku," jawab Aqila lalu berjalan ke kamarnya.


Tak lama kemudian, ada yang mengetuk pintu kamar Aqila.


"Siapa?" teriak Aqila yang memandang pintu kamarnya malas.


Tidak ada jawaban, akhirnya Aqila memutuskan membuka pintunya.


"Hai," sapa orang itu sambil memberikan senyumannya.


"Lo?! Ngapain lo di sini?" tanya Aqila bingung melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2