Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
S-2. Perasan Itu Tidak Akan Berubah


__ADS_3

"Kakak!" gumam Kiren, matanya berkaca-kaca melihat Kakak nya yang datang ke sini.


"Kakak! Jadi? Jio kakak Kiren?" Gumam Siska dan Fatih serempak yang tak sengaja mendengar kata-kata tersebut keluar dari mulut Kiren.


Kiren berlari menghampiri Jio dan memeluknya erat dan berkata, "Aku kangen banget sama, Kak jio!"


"Kakak juga kangen sama kamu!" jawab Jio membalas pelukan Adik nya itu dengan hangat.


"Kakak kenapa bohong sama aku sih?!" tanya Kiren dengan raut wajah sedih. Tapi, ia sangat senang kalau Kakak nya bisa menghadiri pesta ulang tahunnya yang ke delapan belas tahun.


"Surprise dong!"


"Ini buat kamu." Jio memberikan sebuah paper bag kepada Kiren.


"Makasih, Kak!" sahut Kiren antusias dan menarik tangan Kakak nya di tengah kerumunan.


"Mereka! Jadi, Kiren kenal sama mereka!" gumam Jio saat melihat Adhim dan lainnya berada di sana.


Setelah memotong kue, semua tamu duduk dan berbincang satu sama lainnya. Ada yang membicarakan acara ini, ada yang membicarakan bisnis, bahkan ada yang membicarakan ketiga laki-laki yaitu Adhim, Hans dan Fatih, terutama kaum hawa.


"Aqila di mana sih?" ucap Siska yang sudah menunggunya dari tadi.


"Gue susul aja deh!" Siska berjalan ke kamar mandi untuk mencari keberadaan Aqila.


"Tolong! Siapapun, tolongin Qila!!" Siska seketika menghentikan langkahnya setelah mendengar suara itu keluar dari salah satu kamar mandi. Siska segera masuk dan berdiri di pintu kamar mandi tersebut.


"Aqila! Ini lo, kan?!" tanya Siska memastikan.


"Siska!" gumam Aqila , ia menggedor sambil mendorong gagang pintu ke bawah.


"Siska bantuin Qila! Qila takut!" teriak Aqila yang mulai ketakutan karena lampu kamar mandi tersebut tiba-tiba mati begitu saja.


"Aqila, lo tunggu di sini, gue mau cari bantuan!" Siska berlari kembali ke ruang pesta dan mencari keberadaan Adhim, Hans, dan Fatih.


"Kenalin, Kak. Ini Adhim pacar aku!" ucap Kiren memperkenalkan Adhim kepada Jio. Seketika keduanya saling adu pandang, terdapat dendam di pandangan Jio. Berbeda dengan Adhim, ia bersikap seakan terjadi apa-apa dan baru mengenal Jio.


"Kenapa seolah nggak terjadi apa-apa? Dan tatapannya, tatapannya smaa sekali nggak ada dendam ataupun benci! Apa yang sebenarnya gue lewatkan selama ini!?" batin Jio yang mencoba menahan emosinya dan tetap menjabat tangan Adhim.

__ADS_1


"Permisi, apa kita berdua boleh ngobrol sama Adhim dulu?" tanya Hans memastikan, Kiren hanya mengangguk yakin.


"Oh iya, kenapa namanya Aqila? Bukannya yang ulang tahun itu kamu ya?" tanya Jio bingung. Kiren berpikir sejenak sambil memandang nama yang terpampang jelas di dinding besar tersebut.


"Hmm.. anu, Kak. Sebenarnya di sekolah, aku suka di sebut dengan nama Aqila. Aku juga nggak tau sih, tapi aku suka nama itu, jadi aku pake nama Aqila deh. hehehe," jelas Kiren nyengir. Jio menanggapi nya hanya dengan mengangguk percaya. Kiren yang awalnya ragu kalau Kakak nya tidak akan percaya, sekarang tersenyum senang.


"Nah itu dia!" gumam Siska yang langsung menarik tangan Adhim yang sedang berbincang dengan kedua temannya.


"Lo mau bawa gue kemana?" tanya Adhim yang tengah di tarik oleh Siska. Siska tidak menghiraukan Adhim, ia tetap menarik tangan Adhim menuju kamar mandi untuk membantu Aqila.


"Pacar lo mau bawa Adhim kemana?" tanya Hans yang masih diam bersama Fatih.


"Udah putus kali!!" batin Fatih menatap Hans datar.


"Mending kita ikutin aja yuk!" ajak Hans, keduanya berjalan menyusul Siska dan Adhim.


"Mereka mau kemana?" gumam Kiren saat melihat Hans dan Fatih berjalan terburu-buru. Kiren menatap ke arah depan Hans dan Fatih, ia melihat Siska sedang menarik tangan Adhim. Sehingga membuat Kiren penasaran dan ikut mengikutinya dari belakang.


"Kamu mau kemana?" tanya Jio saat melihat Kiren ingin pergi.


"Itu, Kak. Aku–" Belum sempat menjelaskannya, Jio menyergahnya. "Kita harus menyambut tamu yang baru datang. Sebaiknya kamu jangan kemana-mana!"


"Nggak ada tapi tapi-an!"


Kiren hanya bisa menuruti perkataan Kakak nya itu dan berjalan bersama Jio menuju pintu masuk untuk menyambut para tamu yang lainnya.


"Lo masih di dalam, kan?" tanya Siska memastikan. "Iya, masih!" balas Aqila dengan teriakan.


"Kiren (Aqila)!?" batin Adhim yang mulai khawatir.


"Gue sama Adhim akan bantu lo keluar dari sana. Jadi, lo tenang aja!" ujar Siska meyakinkan Aqila.


Tanpa berpikir panjang, Adhim mendobrak pintu tersebut beberapa kali, tapi tidak terbuka juga. Akhirnya Fatih dan Hans datang dan langsung membantu Adhim untuk membuka pintu tersebut.


Setelah berhasil terbuka, Aqila dengan refleks memeluk tubuh Adhim. Terlihat dari tubuhnya yang gemetar hebat, Aqila ketakutan dan memeluk erat Adhim. Membuat semua yang berada di sana terdiam memandangnya, tidak mau mengganggu momen tersebut.


"Maaf!" Saat Aqila ingin melepaskan pelukannya, Adhim memeluknya dengan erat sambil berkata, "Lo gak papa, kan?" Terdengar dari nadanya yang sangat khawatir, membuat butuh Aqila seperti terkena petir.

__ADS_1


"Gu– gue gak papa kok!"


Setelah semua keluar dan berjalan menuju ruangan pesta. Adhim terus memperhatikan Aqila, ia melihat kalau Aqila tampak ketakutan dan tidak sanggup untuk berjalan kembali.


"Qila mau pulang!" batin Aqila. Ia sangat ingin pulang karena seketika tidak enak badan.


Adhim menarik tangan Aqila ke belakang dan langsung menggendongnya. Membuat Aqila malu dan pipinya menjadi merah.


"Gue sama Aqila pulang duluan. Kalian kalau mau masih di sini ya terserah!" jelas Adhim singkat dan mandahului berjalan.


"Gue juga mau pulang. Bye!" Siska berjalan mengikuti Adhim dan Aqila.


Hans dan Fatih berdiri sejenak, memikirkan apakah akan tetap di sini atau memilih pulang bersama yang lainnya.


"Pulang!" gumam keduanya kompak dan berlari menyusul Adhim dan yang lainnya.


"Tih, gue pinjem mobil lo!"


"Kenapa harus gue? Kan ada yang Hans juga," bantah Fatih. Adhim seketika menatap Fatih tajam agar memberikan nya kunci mobilnya. Fatih yang tidak mau masalah ini panjang akhirnya memberi kunci mobilnya.


"Kenapa kamu bisa pacaran sama Adhim?" tanya Jio penasaran.


"Soal itu.. aku sama Rara waktu itu di mall lagi belanja. Rara sempat di culik, untunglah Adhim ada dan nolongin Rara. Dari situ, aku udah suka sama Adhim. Dan sekarang kita pacaran," jelas kiren pada intinya.


"Kamu tau yang namanya Aqila?" tanya Jio memastikan.


"Kenapa Kak Jio tau Aqila? Apa mereka pernah ketemu sebelumnya?" batin kiren bingung.


"Aqila? Aku pernah mendengarnya sih, dia juga sekolah di SMA Nusantara," jawab Kiren berbohong.


"Kakak kenal sama yang namanya Aqila?"


"Sebenarnya dia adalah tunangan Kakak," jawab Jio sambil tersenyum mengingat wajah Aqila.


"Apa!" pekik Kiren refleks. Ia tak tau apa Kakak nya itu bercanda atau serius.


Kiren sekarang sudah tau siapa sebenarnya tunangan Kakak nya itu. Dan Adhim sepertinya sudah mulai khawatir akan keadaan Aqila. Bagaimana selanjutnya ya?

__ADS_1


Kalau masih penasaran dengan kelanjutannya, klik dulu fav yang ada di bawah ini, tinggalkan like, rate 5, dan juga vote dari kalian semua.


Sampai ketemu di episode selanjutnya 🤗.


__ADS_2