
"Mending lo pergi aja dari sini! Gue gak akan ikut meski lo bertekuk lutut!" jawab Cika yang kemudian berjalan menuju kamarnya kembali.
"Sebaiknya kamu ikut aja sama dia, Papah percaya kok dia pasti bisa jagain kamu," kata Fahrul tiba-tiba.
"Tapi, Pah."
"Nyokap lo aja udah restuin kita, massa lo nya gak mau sih?" bisik Hans sambil tersenyum simpul.
"Ya udah deh. Lo tunggu di sini, gue mau siap-siap dulu!" jawab Cika terpaksa.
Tak lama kemudian, Cika melangkah menuruni tangga dan menghampiri Hans yang sedang berbincang dengan Ayah nya.
"Kami pamit dulu, Om. Assalamualaikum," pamit Hans sambil mencium punggung tangan Fahrul begitupun dengan Cika. Keduanya berjalan menuju pintu utama rumah tersebut.
"Lo bawa motor?" tanya Cika memastikan.
"Bawa, emangnya kenapa?" tanya Hans yang membalikkan badannya menghadap Cika yang masih berdiri di ambang pintu.
"Nggak!" jawab Cika dan mendahului Hans berjalan menuju motor besar yang terparkir di halaman rumahnya.
Sementara itu, Adhim dan Aqila sudah sampai di depan rumah Fatih. Tampak setelah Adhim dan Aqila muncul, semua peralatan sudah siap. Cukup memakan waktu lama untuk Adhim melajukan motornya ke rumah Fatih.
Karena keadaannya yang amnesia dan tidak ingat apa-apa, dan Aqila yang tidak tau sama sekali rumah Fatih. Akhirnya dengan bantuan GPS baru bisa sampai.
"Kalian lama banget sih!" komentar Fatih yang dari tadi sudah menunggunya.
"Tadi gue sama Adhim hampir tersesat di jalan. Makannya lama," jelas Aqila sambil membawa dua plastik besar di kedua tangannya.
"Hans belum datang?" tanya Aqila yang tidak melihat Hans di sana.
"Tadi sih mau ngajak Cika, tapi sampai sekarang nggak ada kabar tuh!" jawab Fatih. Aqila membalasnya dengan anggukan dan berjalan menuju Siska dan Kiren yang sedang mempersiapkan tempat pembakaran.
"Gimana tadi? Deg-degan gak?" tanya Siska sambil berbisik kepada Aqila.
"Apaan sih! Udah ah, ini udah mau malem loh. Kita harus cepat-cepat!" jawab Aqila yang berbisik juga.
__ADS_1
"Kan gue kepo!" sahut Siska dan semua mendengar perkataannya.
"Kepo apa?" tanya semuanya kompak, kecuali Adhim.
"Kompak banget!" sindir Siska menatap satu per satu dengan tatapan sinis.
"Gak tau tuh. Mereka yang ikut-ikutan!" sahut Fatih yang menyalahkan Hans dan Cika yang baru saja datang dan refleks langsung berbicara karena mendengar perkataan Siska.
"Cih!! Lo kali yang plagiat!" Hans Tidka mau kalah.
"Lo!"
"Lo!"
"Sini Lo kalau berani sama gue!" Fatih melipat kedua kerah lengan bajunya sampai ke atas siku.
"Gue berani! Sini lo!" Hans tidak mau kalah, ia maju beberapa langkah di ikuti Fatih.
Semua yang berada di sana dibuat geleng-geleng kepala kecuali Adhim, ia tidak mempedulikan kedua sahabatnya itu.
Terdengar suara adzan berkumandang dari berbagai penjuru. Akhirnya semuanya melaksanakan sholat Maghrib berjamaah di rumah Fatih dan melanjutkan aktivitasnya kembali.
"Gara-gara kalian tadi berantem, jadi kita harus mengundur waktu lagi deh!" keluh Siska yang sedang membakar daging yang telah di beli Adhim dan Aqila tadi sore.
"Gak tau tuh si Hans! Udah telat datang ngajak ribut lagi. Huuufftt," sahut Fatih sambil mengendus kasar.
"Sabar ...." Cika mengelus pundak Hans, ia tidak mau acara ini kacau hanya karena Fatih dan Hans.
Seketika denyut jantung Hans lebih kencang dari sebelumnya.
"Buat bebep Cika, apa sih yang nggak," goda Hans sambil memegang tangan Cika yang masih menempel di pundaknya.
"Oke, gue tarik perkataan gue tadi! Hans bener-bener udah gila kali ya? Udah gue tolak berapa banyak pun, dia masih tetep aja ngejar gue!" batin Cika yang langsung melepaskan tangannya dan berniat untuk pergi menemani Aqila.
"Mau kemana?" tanya Hans sambil memegang pergelangan Cika.
__ADS_1
"Ekkhemm!" deheman Fatih membuyarkan lamunan cuka dan Hans yang saling adu pandang.
"Gak bisa liat temen bahagia aja lo! Bilang aja sirik!" ucap Hans sambil menatap Fatih tajam.
"Bagaimana harus sirik? Gue kan udah punya Siska, daripada lo. Cinta bertepuk sebelah tangan! Hahaaa ...." Seketika itu Fatih tertawa terbahak-bahak.
"Jangan gitu ih!" desis Siska sambil mencubit perut Fatih.
"Awww! Iya maaf deh, aku cuma bercanda," sahut Fatih yang sudah tidak tahan lagi melihat ekspresi Siska yang menggemaskan. Ia pun mencubit hidung Siska sampai menjadi merah.
"Ih! Sakit tau!" bentak Siska sambil melempar berbagai sayuran ke arah Fatih.
"Mubazir woy! Kasian tuh Adhim udah bayar semua belanjaannya sampai sisa uang di ATM nya cuma setengahnya lagi!" Author kesal kepada Siska.
"Iya iya! Liat orang lagi mesra juga," jawab Siska yang ngambek dan begitu saja meninggal author sendirian.
Kembali ke awal ....
"Gue iri deh sama mereka," gumam Kiren dan masih terdengar oleh Adhim.
"Kamu iri? Kenapa iri?" tanya Adhim spontan. Membuat Kiren langsung meliriknya DNA menatapnya lekat.
"Seru aja gitu punya pasangan. Ada yang jagain, ada yang perhatiin, ada yang majain," jelas Kiren.
"Kamu jangan iri sama mereka, aku ada di sini buat kamu. Aku akan siap kapanpun kamu butuh aku!" sahut Adhim tersenyum ikhlas kepada Kiren.
"Thanks ya," jawab Kiren.
"Tumben kamu bilang makasih pakai bahasa Inggris?" tanya Adhim, membuat Kiren langsung berpikir keras.
"Hmmm .... Mau aja, ya udah kita harus cepet-cepet beresin ini kalau nggak nanti Siska marah lagi!" Kiren dengan sangat sabar membumbui daging yang akan di bakar Siska nanti.
"Semuanya kayanya seneng banget. Aku juga ikut seneng liat mereka gini, terutama Kiren dan Adhim. Meskipun aku yang ada di posisi Kiren!" gumam Aqila yang sedang memotong beberapa rempah sendirian.
Maaf kalau ada kata-kata yang typo 🙏😅.
__ADS_1
Sampai ketemu di episode selanjutnya 🤗.