Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
Semua Akan Terbongkar! (1)


__ADS_3

"Kok gue bisa di sini?" gumam Aqila bingung, ia masih merasakan sakit di kepalanya.


"Sakit banget ," lirih Aqila sambil memegang kepalanya. "Gue harus cepet-cepet ke kelas nih," sambung Aqila dan mulai bangkit dari duduknya.


Aqila berjalan perlahan, belum sempat ia membuka pintu, dari arah luar pintu itu terbuka lebar. Sehingga ruangan tersebut di penuhi cahaya, Aqila langsung menutup matanya dengan tangannya akibat cahaya yang di pancarkan sangat silau di matanya.


Seseorang masuk perlahan, Aqila mencoba membuka matanya agar tau siapa yang ada di depannya.


"Lo siapa?" tanya Aqila yang masih tidak tau siapa orang yang di depannya itu. Orang itu tidak menjawab, dia hanya terus berjalan menghampirinya.


"Jangan deket-deket!" ancam Aqila sambil mundur beberapa langkah.


Tidak ada respon apapun, dia terus saja berjalan mendekat.


"Kenapa gue pusing banget ya?" gumam Aqila terheran-heran sambil waspada terhadap orang di depannya itu.


Gelap. Lagi-lagi Aqila merasakan hal itu, tak lama kemudian tubuhnya terasa lemas dan kepalanya yang masih terasa sakit.


Tiba-tiba ... Aqila tidak sadarkan diri.


Aqila melihat sekilas wajah orang itu, tetapi penglihatannya masih buram.


🍁🍁🍁


"Eh, kalian liat Nadya gak?" tanya Adit kepada Fatih dan Siska.


"Kenapa lo tanyain Nadya? Ada hubungan apa lo sama Nadya?" tanya Fatih, dia pura-pura tidak mengetahui semuanya.


"Hmmm ... ini urusan gue, jadi kalian gak perlu tau," ujar Adit ketus. Tanpa berbicara lagi, Adit meninggalkan keduanya.


"Lo pacaran sama Nadya, kan?" teriak Fatih, Adit langsung menoleh ke belakang dan menatap Fatih bingung.


"Pacaran? Mana mungkin gue pacaran sama Nadya," balas Adit sambil menatapnya tajam.


"Udahlah, Dit. Kita udah tau semuanya," sahut Fatih, salah satu sudut bibirnya naik dengan tangan dilipat di depan dada.


"Kalian tau semuanya? Gak mungkin," gumam Adit tidak percaya.

__ADS_1


"Lo mau percaya atau nggak, itu bukan urusan kita." tanpa pamit Fatih dan Siska langsung berjalan melewati Adit yang masih terpaku di tempatnya.


"Kalau seluruh sekolah ini tau? Gue jadi terkenal kayanya," kata Fatih dengan lantangnya. Ia berencana agar Adit memohon kepadanya.


"Gue mohon, jangan masih tau siapapun," ucap Adit memohon.


"Gue gak denger dan gue gak peduli itu," balas Fatih yang masih berjalan tanpa menoleh ke arah Adit.


"Gue mohon," Adit berlari dan berlutut di depan Fatih dan Siska.


"Lo jangan rendahkan diri lo kaya gini," ucap Siska tanpa menatap Adit sedikitpun.


"Oke, gue punya satu syarat," ucap Fatih dan membantu Adit berdiri. "Lo harus putus sama Nadya," sambung Fatih tanpa basa-basi lagi.


"Putus?! Lo gak ngerti, gue cinta mati sama dia, Tih. Gue gak bisa putus sama dia," tolak Adit sambil melepas kasar tangan Fatih.


"Denger baik-baik, Nadya itu bukan seperti yang li pikirin." Fatih mulai menjelaskan semuanya.


"Maksudnya?" tanya Adit bingung.


"Nadya itu bermuka dua, di depan lo aja manis tapi di belakang lo, sikapnya bus*k," jelas Fatih, ingatannya kembali mengingat soal Nadya dan Adhim resmi pacaran.


"Lo gak percaya sama kita? Oke, ikut gue sekarang!" suruh Fatih dengan nada penekanan, Adit tidak merespon dia hanya mengangguk dan mengikuti kemana keduanya pergi.


"Liat! Itu Nadya yang lo maksud, kan? Liat kelakuan dia di belakang lo!" ucap Fatih sambil menunjuk ke arah Nadya dan Adhim.


"Mereka udah pacaran! Camkan ini baik-baik, lo harus putus sama Nadya bagaimanapun caranya," jelas Fatih meyakinkan Adit. "Adhim pacaran sama Nadya bukan karena cinta, lo tau sendiri kalau Adhim suka sama siapa? Dia di paksa sama Nadya buat jadi pacarnya," sambung Fatih.


Adit masih terdiam meratapi kenangan yang pernah di lakukannya bersama Nadya.


"Semua kenangan yang kita lakuin cuman sampah buat kamu, Nad? Aku gak nyangka kalau kamu bisa sebusuk ini!" batin Adit kesal, tanpa berpikir panjang, Adit berjalan dengan penuh amarah menuju keduanya.


Buug ...!


Adit memukul meja dengan keras, membuat meja tersebut terlihat retak.


"Adit!" gumam Nadya, matanya membulat. "Ngapain kamu di sini?" tanya Nadya bingung.

__ADS_1


"Jadi gini di belakang gue, lo kaya cewe mur**an tau gak?" sindir Adit menatap Nadya sinis.


"Tarik ucapan lo! Gue bukan cewe gitu ya!" Nadya tidak terima kalau ada yang memanggilnya dengan sebutan cewe mur**an.


"Lo udah liat semuanya, kan? Ya udah, gue jelasin semuanya. Sebenarnya, gue udah cape pacaran sama cowo yang penyak**an kaya lo! Harus bulak balik nganter ke rumah sakit lah, apa lah. Gue cape, gue juga mau kaya orang pacaran pada umumnya!" jelas Nadya dengan lantangnya.


Karena keadaan sudah tidak terkendali, akhirnya Fatih dan Siska keluar dari tempat persembunyian dan menghampiri ketiganya.


"Kalian di sini juga?" tanya Adhim menatap keduanya bingung. Tapi Fatih ataupun Siska tidak menghiraukan pertanyaan Adhim.


"Kalian bertiga, ikut gue sekarang. Cepat!" suruh Fatih dengan nada penuh penekanan, ketiganya mengikuti langkah Fatih menuju lapangan sekolah.


"Di sini ... di tempat ini ... hari ini ... tanggal ini ... bulan ini ... tahun ini ... jam ini ... menit ini ... detik ini .... Kebusukan lo terbongkar semuanya!" ucap Fatih menatap Nadya tajam.


"Maksud lo?" tanya Nadya dengan muak polos.


"Jangan sok polos lo! Gue sama Siska udah tau semuanya. Di sini, gue akan bongkar semua kebusukan lo selama ini," kata Fatih dengan lantangnya.


"Di sini kalian akan tau semua kebusukan Nadya selama ini," sambung Fatih menatap satu per satu Adhim dan Adit.


🍁🍁🍁


"Selamat siang," sapa Saddam ramah.


"Pak, Saddam. Silakan duduk, lama kita tidak bertemu ya, Pak," ucap seseorang yang sedang duduk dengan memakai jas.


"Ada perlu apa, bapak mengundang saya datang ke sini?" tanya Saddam dengan sopan, ia tidak mau salah dalam berkata.


"Saya ingin mengobrol sebentar. Jadi gini, bagaimana kalau anak bapak dan anak saya di jodohkan?" tanya orang tersebut to the point.


"Di jodohkan? Tapi ...." Belum sempat Saddam melanjutkan perkataannya, orang tersebut menyergahnya.


"Saya tau, kalau perusahaan bapak itu sedang bermasalah, saya bisa memperbaiki semuanya. Tapi dengan satu syarat, yaitu dengan menjodohkan kedua anak kita. Bagaimana apa bapak bersedia?" tanya kembali orang tersebut dengan gagahnya.


Saddam tampak berpikir sejenak. "Apa aku terima tawaran ini? Tapi bagaimana dengan nasib Aqila nanti?" batin Saddam.


"Begini, Pak. Saya tidak bisa menjawabnya sekarang," sahut Saddam dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


"Baik, saya akan tunggu jawabannya. Tapi ... Bapak tau kan, kalau saya orangnya tidak bisa menunggu lama, jadi saya akan tunggu jawabannya besok siang," jelas orang itu.


"Baik. Kalau gitu saya pamit, Pak," pamit Saddam sambil menjabat tangan orang itu dan pergi dari sana.


__ADS_2