
"Gue bukan Aqila!" celetuk Aqila dengan kesalnya.
"Kalau lo bukan Aqila ... lo gak akan masalah kalau lo harus ikut gue sekarang!" kata Jio sambil memegang tangan Aqila dengan erat.
"Jelas masalah lah! Gue gak kenal sama lo, jadi ngapain juga gue harus ikut sama lo!" bentak Aqila menatap tajam Jio.
"Acting lo kurang bagus, La," batin Jio sambil tertawa licik.
"Pokonya lo harus ikut gue!" paksa Jio dan menarik tangan Aqila sampai Aqila meringis kesakitan.
Semua usaha telah Aqila lakukan, tapi tetap saja Jio tidak melepaskan genggamannya. Dan akhirnya Aqila pasrah dan mengikuti Jio untuk pergi ke rumahnya.
Setelah sampai ke rumahnya, ia melihat banyak orang di sana dan terdapat bendera berwarna kuning berada di depan rumahnya.
"Siapa yang meninggal?" batin Aqila bingung, ia masih berjalan mengikuti langkah Jio ke dalam rumahnya.
Di lihatnya ada orang yang sudah di tutup dengan kain panjang dan di kelilingi banyak orang.
"Aqila?" seru Asti sambil langsung memeluk Aqila.
"Ada apa ini?" tanya Aqila yang masih diselimuti kebingungan.
"Ayah kamu ... ayah kamu meninggal, Aqila," jelas Asti dan menangis sejadi-jadinya.
"Ini gak mungkin ... ini cuma mimpi, kan? Ini semua gak mungkin!" Aqila langsung menghampiri ayahnya dan memeluknya erat.
"Ayah! Jangan tinggalin Aqila! Maafin Aqila karena Aqila kabur dari rumah ... ayah bangun! Aqila mohon sama ayah, ayah bangun!" Aqila mengguncangkan tubuh Saddam pelan, dan berharap ini hanyalah mimpi buruk.
__ADS_1
"Aqila udah sayang. Ayah udah tenang di sana, kamu jangan khawatir," ujar Asti menenangkan anak semata wayangnya itu.
"Nggak! Ini semua karena aku, ayah jadi begini karena aku! Ayah bangun, maafin aku ... hiks ... hiks ...." Aqila semakin menangis sejadi-jadinya, ia tidak menyangka kalau ini akan terjadi padanya.
"La, tenangin diri lo! Gue yakin, Om Saddam udah tenang di sana." Jio langsung memeluk Aqila erat.
"Tapi kenapa harus ayah ... kenapa nggak gue aja, Yo! Kenapa!" Aqila memukul punggung Jio dengan kerasnya.
"Lo ikut gue." Jio mengajak Aqila keluar supaya lebih tenang. Lalu duduk di sebuah kursi panjang.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Aqila yang masih terisak menangis.
"Setelah lo kabur dari rumah, Om Saddam terus cari lo, tapi nggak ketemu. Dan akhirnya dia depresi dan sering mabuk." Jio mulai menjelaskan kejadiannya.
"Waktu itu, gue gak sengaja lewat dan banyak orang di sana. Gue akhirnya liat, dan ternyata ada yang kecelakaan dan itu Om Saddam. Sebelum di bawa ke rumah sakit, Om Saddam udah nggak bernyawa lagi," jelas Jio sedih, karena terbawa suasana.
"Maafin gue, seharusnya gue waktu itu larang mokap lo untuk minum, tapi gue gak bisa," sambung Jio merasa bersalah.
"Jadi, apa yang lo harus lakuin sekarang?" tanya Jio memastikan.
"Gue akan menjadi diri gue sebelumnya, Yo. Gue sadar, gue terlalu berlebihan selama ini. Gue akan ngomong semuanya," jawab Aqila sambil menghapus air matanya.
"Dengan cara gue jadi diri gue lagi, ayah pasti akan tenang di sana." Aqila mendongakkan kepalanya menatap ke atas langit.
"Apa lo masih punya perasaan sama Adhim?" tanya Jio penasaran.
"Gue nggak mau bahas itu dulu. Yang terpenting sekarang adalah gue harus nganterin mokap gue." Aqila berdiri dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Ayah ... Aqila janji akan berubah, dan Aqila juga janji akan jaga mamah. Hanya ini yang Aqila bisa untuk bantu papah di sana, semoga papah tenang di sana," gumam Aqila dan kemudian mengantar ayahnya untuk di kebumikan.
πππ
Setelah beberapa minggu kemudian setelah kematian ayahnya, Aqila mengubah penampilannya 180Β° menjadi Aqila yang dulu.
"Mah, Aqila berangkat dulu. Assalamualaikum." Aqila pun keluar dari rumah untuk berangkat sekolah, saat hendak membuka pintu pagar rumahnya, Aqila melihat sebuah mobil sedang terparkir di hadapannya.
"Pagi," sapa Jio sambil tersenyum ramah.
"Ngapain ke sini?" tanya Aqila bingung.
"Nganterin kamu ke sekolah, apa mau langsung ke KUA?" goda Jio, ia terkekeh dengan perkataannya sendiri.
"Dih! Gak jelas banget sih. Udah ayo." Aqila kemudian masuk ke dalam mobil Jio di ikuti Jio.
Setelah beberapa minggu ini, Aqila sudah menjelaskan kepada semua temannya tentang dirinya yang sebenarnya.
Tapi di sisi lain, ia mendapatkan informasi kalau ayahnya meninggalkan wasiat kepadanya. Dan isinya agar nanti menikah dengan Jio. Anak dari partner bisnisnya.
Aqila tidak terlalu memikirkan hal itu, sekarang ia lebih fokus pada pelajaran dan menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.
HAI SEMUA π€π
APA KABAR?
MAAF KALAU CERITA INI KURANG MENARIK JNTUK KALIAN, TAPI AKU SENENG KALAU KALIAN UDAH MAH MAMPIR KE SINI UNTUK MEMBERI DUKUNGAN π
__ADS_1
JANGAN LUPA JUGA MAMPIR KE NOVEL AKU YANG BARUπ
β MEMILIH ANTARA CINTA ATAU CITA-CITA