Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
S-2. Perdamaian Kedua Sahabat


__ADS_3

Tiba-tiba, Fatih menelpon Siska dan menceritakan bahwa Adhim hilang. Siska juga bercerita kalau Aqila hilang.


"Apa ini kebetulan? Atau memang Adhim dan Aqila sedang berada di tempat yang sama?" pikir Siska dan Fatih.


Sementara itu di gudang sekolah. Aqila semakin parah dan Adhim semakin khawatir dengan keadaannya.


"Lo harus bertahan sedikit lagi, Ren! Gue yakin kita akan secepatnya keluar dari sini!" batin Adhim yang masih memegang tangan Aqila yang dingin.


"A– Adhim ..." panggil Aqila lirih.


"Hhmmm?" balas Adhim yang menatap wajah Aqila yang sudah memucat.


"Gue boleh jujur gak sama lo?" tanya Aqila kemudian bangkit dari tidurnya dan duduk di sebelah Adhim dengan tubuh yang masih menggigil kedinginan.


"Jujur apa? Ngomong aja, gak papa," jawab Adhim dingin. Ia tidak mau kelihatan khawatir di depan Aqila.


"Gue gak pernah satu hari pun gak mikirin lo! Gue bener-bener suka sama lo, Dhim ..." jelas Aqila, Adhim semakin melihat Aqila bingung. Tapi, di lubuk hatinya yang paling dalam, ia juga merasakan hal yang sama dengan Aqila.


"Andai lo juga tau, kalau gue juga suka sama lo, Ren!" pikir Adhim menatap Aqila diam-diam. Tak lama setelahnya, tiba-tiba Aqila menyandarkan kepalanya di bahu Adhim dan menutup matanya.


Setelah menunggu setengah jam, Aqila belum juga bangun. Akhirnya Adhim membangunkannya, tapi Aqila tidak juga bangun.


"Ren! Bangun! Ren!" Adhim menepuk pelan pipi Aqila, tapi tak kunjung bangun juga.


"Apa mungkin dia pingsan?" pikir Adhim. Dan kembali menepuk pipi Aqila pelan, Aqila tidak bangun juga.


Setelah mengetahui Aqila pingsan, Adhim begitu khawatir dan berharap ada yang menolongnya sekarang juga.


Entah ini keajaiban atau keberuntungan, tapi setelah Adhim berharap begitu, di luar terdengar suara kunci dan beberapa orang yang berbincang. Akhirnya pintu gudang tersebut terbuka lebar.


"Adhim!" seru Fatih yang masuk ke gudang tersebut dan melihat Adhim sedang bersama Aqila di sana.


"Dhim! Lo gak papa?" tanya Fatih khawatir dan menghampiri keduanya.


"Gue gak papa. Tapi Kiren, gue harus bawa dia ke rumah sakit!" Adhim segera menggendong Aqila dan berjalan ke luar.

__ADS_1


"Aqila! Dia kenapa?" tanya Siska yang sedang menunggu di depan pintu gudang bersama dengan satpam yang berjaga malam itu.


"Gue gak bisa jelasin sekarang! Yang paling penting, gue harus bawa dua secepatnya ke rumah sakit!" sahut Adhim cepat. Ia berjalan meninggalkan Siska dan Fatih yang masih berada di belakangnya.


"Gue minjem mobil lo, Tih! Motor gue sama motor Kiren kalian yang bawa. Bisa, kan?" tanya Adhim memastikan. Karena suasana sedang kacau, Siska dan Fatih hanya mengangguk menuruti perkataan Adhim.


"Ok, thanks," jawab Adhim kemudian melajukan mobil itu membelah jalanan yang kosong oleh kendaraan pribadi.


Setibanya di rumah sakit, Aqila segera di bawa menuju UGD untuk di beri pertolongan pertama.


"Siska! Bagaimana keadaan Aqila sekarang?" tanya Asti yang sangat khawatir dengan keadaan Aqila.


"Tante tenang dulu, dokter sedang memeriksa keadaan Aqila saat ini, Siska yakin Aqila akan baik-baik aja kok," jelas Siska sambil menenangkan Asti.


Tak lama kemudian datang Tiara menghampiri semuanya.


"Adhim! Kamu gak papa kan, Nak?" tanya Tiara sambil memeluk hangat Anak nya itu.


"Gak papa kok, Mah. Tapi di dalam ...." Belum sempat Adhim menjelaskan, Tiara memotongnya dan berkata, "Iya, Mamah tau, Sayang."


"Kamu kenapa ngajak aku ke sini?" tanya Asti menatap sahabatnya itu heran. Tanpa menjawabnya, Tiara langsung menunduk di depan Asti.


"Maafin aku! Karena Adhim, Aqila jadi kaya gini, maafin aku!" kata Tiara dengan penuh penyesalan.


Asti tersenyum dan berkata, "Kamu tidak perlu meminta maaf, ini bukan salah kamu kok." Asti membantu Tiara berdiri.


"Aku benar-benar minta maaf, tolong maafkan Adhim!" kata Tiara kembali. Asti hanya bisa menangis dan memeluk sahabatnya masa kecilnya itu erat.


"Denger! Kita itu udah sahabatan lama banget, jadi kamu jangan bilang begitu sama aku. Aku udah anggap kamu sebagai kakak aku sendiri!" jelas Asti di tengah tangisannya yang sedang memeluk Tiara.


"Ma– makasih!" Tiara hanya bisa berterimakasih atas kemurah hatian Asti.


"Mendingan sekarang kita ke sana. Gak enak kalau anak-anak nungguin," ajak Asti yang mengusap air mata Tiara. Tiara hanya tersenyum dan mengikuti langkah Asti menuju pintu depan ruang UGD.


Kebetulan, setelah Asti dan Tiara sudah berada di depan ruang UGD, Dokter yang menangani Aqila keluar.

__ADS_1


"Gimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Asti cemas.


"Alhamdulillah, anak Ibu baik-baik saja, kalau saja dia tidak di bawa secepatnya ke rumah sakit, mungkin kondisinya akan lebih parah dari ini. Kondisinya akan seperti semula setelah di rawat satu sampai dua hari di sini. Kalau begitu saya permisi." Dokter itu meninggalkan ruangan UGD menuju ruangannya.


Tak lama setelah dokter itu meninggalkan ruang UGD, Aqila di bawa menuju ruang inap oleh beberapa pegawai rumah sakit itu.


"Siska, Fatih. Makasih udah cari Aqila sampai ketemu, Tante gak tau harus lakuin apa untuk balas jasa kalian," ucap Asti yang merasa tidak berdaya.


"Sama-sama, Tante." Jawab keduanya serempak. "Tante nggak perlu ngelakuin apa-apa, kami berdua ikhlas bantuin. Lagi pula, Aqila dan Adhim juga teman baik kami," jelas Fatih.


"Aqila?! Gue jadi inget. Tadi juga Siska manggil Kiren dengan sebutan Aqila? Apa yang sebenarnya terjadi?" batin Adhim yang tidak sengaja mendengar perkataan Fatih tadi.


"Kalian semua sebaiknya pulang. Aqila biar Tante yang jaga di sini," kata Asti kepada Fatih dan Siska.


"Kalau gitu, kami pulang dulu, Tante!" Fatih dan Siska pamit pulang, begitupun dengan Tiara.


"Adhim, kamu nggak pulang?" tanya Asti yang masih melihat Adhim tengah duduk sendirian di kursi panjang.


"Saya mohon Tante, biarin malam ini saya yang jaga di sini. Boleh ya," jawab Adhim sambil memohon. Asti hanya mengangguk dan karena Adhim yang berjaga, Asti pulang ke rumah untuk membawa pakaian ganti untuk Aqila.


"Ren, gue mohon lo Bagun sekarang!" gumam Adhim yang memegang tangan kanan Aqila yang hangat.


Tak sadar, kalau ia sampai tertidur di sebelah Aqila yang masih belum sadar juga. Asti yang melihat itu hanya tersenyum dan tidak mau mengganggu Adhim, ia memilih untuk tidur di sofa yang tersedia di kamar inap tersebut.


Pagi harinya di rumah sakit ....


Aqila mulai membuka matanya perlahan. Menatap sekeliling, ternyata ia sedang berada di rumah sakit. Aqila menoleh ke arah kiri terdapat Ibunya yang tertidur pulas di atas sofa.


Aqila yang merasa tangan kanannya ada yang memegangnya, Aqila pun menoleh. Terlihat Adhim sedang memegang tangannya sambil tertidur.


Aqila hanya tersenyum simpul melihat suasana seperti ini, ia pun mengusap kepala Adhim dengan lembut dan bergumam, "Untuk ke dua kalinya, aku terbaring di ranjang ini. Tapi, untuk ke sekian kalinya, aku melihat kamu mencemaskan keadaanku sampai tertidur pulas seperti ini."


Adhim yang merasa ada yang memegang ujung kepalanya membuka matanya perlahan dan mendongakkan kepalanya. Melihat Aqila yang sedang tersenyum manis, membuatnya semakin tenang dan tidak perlu khawatir lagi.


Bagaimana? Mau tau kelanjutannya kisah Aqila dan Adhim? Jangan lupa klik dulu fav yang ada di bawah ini, tinggalkan like, rate 5, dan juga vote dari kalian semua.

__ADS_1


Kalau ada kata yang typo mohon di maafkan 🙏😅. Sampai ketemu di episode selanjutnya 🤗.


__ADS_2