Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
Berubah


__ADS_3

"Aqila....Aqila... "teriak Rendi yang sedang membawa sesuatu di tangannya.


Aqila menoleh ke arahnya heran.


"Lo harus liat ini, "kata Rendi sambil memperlihatkan selembar kertas.


"Apa!Siapa yang nyebarin ini semua?"Aqila kaget sambil memegang mulutnya, air matanya sudah membendung di pelupuk mata.


"Gue yakin Lo gak akan ngelakuin itu semua, "Rendi membela Aqila.


Seketika badannya lemas, hatinya terasa di tusuk oleh panah. Aqila berlari meninggalkan Siska dan Rendi yang masih mematung di sana untuk menenangkan diri.


"Aqila tunggu, "teriak Siska, Aqila sudah berada jauh darinya.


"Biarin dia. Kita jangan nganggu, kasih kesempatan untuk Aqila menenangkan diri dulu, "jelas Rendi mencegah Siska. Siska mengangguk pelan dan berjalan masuk ke kelas.


"Aqila, "tiba-tiba ada yang menarik tangan Aqila dari arah belakang. Sontak membuat Aqila terkejut.


"Ini gak bener kan?Gue yakin Lo gak akan ngelakuin hal yang serendah itu. Gue yakin banget, "tanya Hendrik memastikan.


"Itu semua gak bener,Qila di fitnah Hendrik. Qila di fitnah hiks...hiks..., "jelas Aqila lirih dan menangis sejadi-jadinya.


"Heh. Dasar cewe murahan!"kata Nadya yang tak sengaja melihat Aqila berada di hadapannya.


"Qila gak seperti itu!"teriak Aqila, teriakannya terdengar sampai parkiran, sontak membuat para siswa yang ada di sana merapat, kerena tidak mau ketinggalan momen langka ini.


"Emang Lo cewe murahan kan?Oh iya. Udah berapa om-om yang udah jalan sama Lo?"tanya Nadya tanpa berpikir dua kali. . Tapi ia tidak menyesal apa yang ia katakan.


karena Aqila tidak terima atas perkataan Nadya tadi, tangan Aqila mendarat mulus di pipi Nadya.


"Kurang ajar ya Lo. Lo udah berani nampar gue,hah!"bentak Nadya kesal.


Tanpa berpikir panjang, Nadya langsung membalas tamparan Aqila lebih keras lagi dan membuat Aqila meringis kesakitan.


"Itu balasan buat orang yang udah berani lawan gue. Ngerti!"bentak Nadya dengan suara lebih keras membuat kerumunan siswa semakin banyak.


"Dasar cewe murahan, gak pantes Lo sekolah di sini!"Nency angkat bicara.

__ADS_1


"Iya. Lo udah mencemarkan nama baik sekolah ini. Jadi, sekarang Lo gak usah sekolah di sini lagi deh!"Sarah juga angkat bicara.


"Iya tuh bener. Pergi aja dari sini!"bentak semua siswa yang ada di sana.


Lalu, Adhim dan kedua temannya pun datang di tengah kerumunan.


"Kalian gak denger yang gue bilang waktu itu, hah!Kalian punya telinga kan?Oke gue akan ulang sekali lagi. Dengar semuanya, jangan ada yang ngehina Aqila di depan muka gue. Ngerti!"bentak Adhim kesal kepada semua siswa.


"Dan Lo Nadya. Dengar semua, gue yakin Aqila gak seperti yang kalian pikirin. Aqila tu cewe baik-baik, jadi kalian gak usah hina dia kaya gini. Lo kalau ada di posisi dia gimana?Sakit hati kan?Ya jelas lah sakit hati. Tapi Lo yang gak punya hati sama sekali!"teriak Adhim kepada Nadya.


"Kenapa Adhim malah belain dia sih?"tanya Nadya tidak percaya bahwa Adhim akan membela Aqila di depan banyak orang.


"Karena gue yakin kalau dia gak bakal ngelakuin hal sehina itu!"balas Adhim, nadanya mulai merendah.


Adhim mencoba tenang, ia menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.


"Ngapain kalian masih di sini?Bubar!"usir Adhim yang masih kesal.


"Ih kenapa harus ada Adhim lagi sih?"gerutu Nadya kesal.


Setelah semuanya bubar, Hendrik memeluk Aqila erat.


"Lo yang sabar la. Gue yakin Lo gak salah, "Hendrik mencoba memenangkan Aqila sambil mengelus ujung rambut Aqila.


"Adhim makasih, karena udah belain Qila tadi, "ucap Aqila dan menghapus air matanya.


"It's okay, "sahut Adhim sambil memperlihatkan lesung di kedua pipinya.


"Lo hebat bro, "puji Hans sambil menepuk bahu Adhim.


"Udah lah, kita masuk ke kelas aja bentar lagi masuk, "ajak Adhim dan berjalan bersama menuju kelasnya masing-masing.


🍁🍁🍁


"Aqila mana Sis?"tanya Adhim yang sudah berada di depan pintu kelas Siska.


"Baru aja jalan ke kantor kepala sekolah. Emangnya mau apa?"tanya Siska penasaran.

__ADS_1


"Nggak kok, cuman mau tahu aja. Ya udah makasih ya. Bye, "Adhim meninggalkan Siska yang masih mematung dan berjalan menuju ruang kepala sekolah.


Tak lama berjalan, Adhim sudah sampai di depan pintu kepala sekolah, langkah kakinya terhenti setelah mendengar percakapan antara pak Fahri dengan Aqila.


"Saya mendengar kabar bahwa kamu menyebarkan semua kertas ini di sekolah. Itu benar Aqila?"tanya kepala sekolah kecewa sambil menyodorkan sehelai kertas yang sama yang di berikan Rendi sebelumnya.


"Nggak pak, saya nggak nyebarin itu semua. Pas saya sudah sampai sekolah, tiba-tiba kertas ini ada di mana-mana pak, "jelas Aqila sambil menunduk, tidak berani memandang kepala sekolahnya itu.


"Berita ini sudah tersebar di mana-mana Aqila. Bahkan sudah tersebar di masyarakat sekitar, kalau berita ini sampai kepada kedua orang tua kamu, saya gak tahu harus menjelaskan bagaimana lagi, "sahut pak Fahri yang masih pada pendiriannya.


"Tapi pak. Saya...."Aqila mencoba menjelaskan, tetapi pak Fahri memotong pembicaraannya.


"Saya sudah putuskan kalau kamu di keluarkan dari sekolah ini, "keputusan pak Fahri sudah bulat.


"Tapi pak. Beri saya kesempatan sekali lagi pak, "Aqila membela diri, tapi sia-sia keputusannya sudah tidak bisa di ganggu gugat.


Adhim tidak tinggal diam, ia tidak terima kalau Aqila harus di keluarkan dari sekolah ini dengan cara seperti ini. Akhirnya Adhim masuk ke dalam tanpa salam dan menyapa.


"Maaf pak. Saya keberatan jika Aqila harus di keluarkan dari sekolah ini. Saya yakin kalau Aqila tidak seperti itu. Jadi, ijinkan saya dan Aqila mencari kebenarannya sendiri pak, "jelas Adhim dengan menatap Fahri penuh harapan.


"Baiklah saya akan beri kalian 10 hari untuk mencari kebenarannya. Jika Aqila tidak bersalah, maka dia tidak akan keluarkan dari sekolah ini. Tapi, jika dia benar bersalah, terpaksa saya akan mengeluarkan Aqila dari sekolah ini, "balas pak Fahri dan mempersilahkan Adhim dan Aqila keluar.


"Terima kasih, pak. Saya akan menghubungi bapak secepatnya, "kata Adhim dengan penuh percaya diri.


"Kamu siap. Eh maksudnya Lo siap mencari kebenarannya?"tanya Adhim memastikan.


"Qila siap. Kalau mau panggil aku-kamu juga gak papa kok, "balas Aqila tersenyum lebar.


"Ya udah galau gitu, sekarang panggilnya aku-kamu, "jelas Adhim singkat.


Aqila tertawa kecil melihat tingkah laku Adhim yang berubah drastis. "Kenapa ketawa?"tanya Adhim heran.


"Nggak kok. Aku suka aja kamu seperti ini, "balas Aqila malu-malu.


Mulai dari sini hubungan mereka berjalan dengan baik, sikap Adhim kepada Aqila menjadi lebih hangat dan perhatian. Dan juga Adhim yang sekarang murah senyum.


**Jangan lupa like,komen,rate dan juga vote. Itu akan sangat mambantu author lebih semangat up nya.

__ADS_1


Dan terima kasih untuk para readers sudah membaca novel ini 🙏**.


__ADS_2