Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
S-2. Semua Ini Gara-gara Kamu!


__ADS_3

"Pulang bareng ya," ajak Fatih dan tanpa basa-basi lagi, ia menarik tangan Siska menuju lapangan parkiran.


"Tapi–" Siska tidak melanjutkan perkataannya sambil melepas tangan Fatih darinya.


"Kenapa?" tanya Fatih menatap Siska heran. Baru saja Siska akan menjawabnya, Fatih berkata kembali, "Apa gara-gara Lion?"


Perkataan Fatih membuat dada Siska menjadi sesak dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Sebenarnya kamu sama Lion ada hubungan apa?" tanya Fatih memegang kedua pundak Siska DNA menatapnya sendu.


Siska masih tidak menjawab, kedua matanya tampak berkaca-kaca melihat Fatih. Fatih pun melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah.


"Apa jangan-jangan ... kamu diam-diam berhubungan di belakang aku? Kamu selingkuh?! Jawab Siska! Jawab!" Fatih meninggikan setiap perkataannya sontak membuat Siska semakin menangis sejadi-jadinya.


"Aku– aku ... aku nggak bisa menjawabnya," jawab Siska yang menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aku nggak bisa menjawabnya!" Siska lagi-lagi mengatakan hal yang sama, ia langsung berlari menjauh dari Fatih.


Fatih hanya pasrah dan berdiam diri melihat Siska yang menjauhinya. Bukan berarti Fatih tidak peduli lagi kepada Siska, tapi ia tau apa yang Siska rasakan dan ia tidak mau menambah masalahnya itu.


🍁🍁🍁


Dua hari terlah berlalu, sungguh cepat waktu berjalan, tapi inilah kehidupan, dimana kita saling berhubungan dan bisa saja hubungan itu putus begitu saja entah tau apa penyebabnya.


"Hallo, Tuan!


kata seseorang dalam balik telpon.


"Ada apa?


tanya Jio yang sedang duduk dengan di temani secangkir teh di depannya.


"Non Kiren tidak ada di acara sekolahnya. Dan menutur informasi yang saja dapatkan, non Kiren tidak mengikuti acaranya, Tuan,


jelas anak buah Jio.


"Apa! Bagaimana bisa? Bagaimanapun juga cepat cari dia sampai ketemu!


titah Jio yang mulai kesal dengan adiknya itu.


"Baik, Tuan!


Anak buah Jio menutup telponnya dan mulai melacak ponsel Kiren dengan aplikasi.


Sementara itu, Adhim berjalan sempoyongan di terotoar sambil memegang botol minuman. Dari kejauhan seseorang memperhatikannya dan mencoba mendekatinya.

__ADS_1


Tak sengaja Adhim melewati sebuah jembatan di sana, ia pun memegang besi jembatan itu dan naik.


"Jangan-jangan ...!" gumam orang yang dari tadi memperhatikan Adhim dari kejauhan.


"Nggak ada gunanya gue hidup lagi! Gue sekarang udah nggak punya apa-apa lagi!" teriak Adhim yang sudah berdiri di atas besi itu DNA mengambil ancang-ancang untuk tenjun ke bawah.


"Selamat tinggal semuanya!" Kata-kata terakhir Adhim sebelum ia menjatuhkan dirinya.


Saat Adhim sudah membukakan matanya, dia melihat cahanmya putih memenuhi ruangan tersebut.


"Apa gue udah mati?" batin Adhim sambil membuka matanya perlahan.


Suara yang sedang memanggil-manggil namanya, terdengar sangat jelas di telinga Adhim.


"Ini Mama, Adhim! Bangun, Mama mohon? Adhim bangun!" ucap Tiara sambil memegang tangan Adhim yang sudah di pasang infus.


"Gue belum mati!" lagi-lagi Adhim masih tidak bisa menyimpulkan.


Seketika, suara dan cahaya itu perlahan pudar dan lama-kelamaan menjadi gelap.


"Maafin Adhim, Mah!" Kata terakhir yang di lontarkan Adhim di hatinya.


"Adhim!" Seketika pintu ruangan UGD terbuka lebar. Tiara beranjak dari duduknya dan memeriksa siapa yang datang.


"Kamu? Ngapain kamu di sini!" tanya Tiara dengan kesalnya.


"Kamu ikut Tante!" Tiara berjalan keluar di ikuti Aqila di belakang.


"Kamu masih berani muncul di sini, setelah buat anak saya jadi seperti ini? Kamu memang tidak tau malu!" celetuk Tiara, nadanya meninggi saat kalimat terakhir yang ia ucapkan.


"Aqila cuma khawatir keadaan Adhim. Aqila mohon, temuin Aqila sama Adhim. Kali ini aja, Tante!" ucap Aqila sambil menunduk di hadapan Tiara.


"Mau kamu menunduk di hadapan saya. Mau kamu lakuin apa aja supaya saya bisa memaafkan kamu. Saya tetap tidak akan memaafkan kamu seumur hidup saya, ngerti!"


"Jadi, mending kamu pergi dari sini. Sebelum saya panggil security di sini!" Tiara mengusir Aqila yang masih menunduk di hadapannya.


"Tolong, kali ini aja Tante. Aqila mohon, Aqila mau ketemu sama Adhim," kata Aqila sambil memegang kedua kaki Tiara.


Tiara hanya diam tidak mempedulikan Aqila.


"Aqila. Bangun, Sayang!" Asti membantu Aqila bangun.


"Kamu jangan memohon sama orang kaya dia! Mending sekarang kita pergi dari sini!" hardik Asti, salah satu jarinya menunjuk ke arah Tiara.


"Pergi kalian! Pergi sejauh mungkin!" teriak Tiara dan berjalan mesum ke dalam UGD.

__ADS_1


"Dulu kita sangatlah akrab. Bahkan aku menganggap kamu sebagai adik ku sendiri, Asti. Tapi kenapa takdir membiarkan kita seperti ini? Ini tidak adil buat ku!" keluh Tiara.


Flashback


"Maaf, Tante. Kita nggak bisa menemukan keberadaan, Adhim saat ini," ucap Hans merasa bersalah.


"Anak itu kemana perginya? Tante sangat khawatir. Gimana dia bisa makan, tinggal. Itupun Tante nggak tau," kata Tiara sambil terisak nangis di sofa.


"Apa kalian tau kenapa Adhim kabur dari rumah?" tanya Tiara penasaran sambil mengusap sisa air matanya.


"Mungkin karena Vidio yang sekarang sedang viral, Tante," jawab Hans. Sontak Fatih langsung menginjak kaki Hans keras dan memolototi Hans.


"Maksudnya?" tanya Tiara yang masih bingung.


"Maksudnya, Hans tadi cuma asal bicara aja Tante. Kami juga nggak tau kenapa Adhim kabur dari rumah," dalih Fatih.


Kemudian keduanya pamit dari sana dan mejaluakn motornya masing-masing.


"Vidio viral? Pasti ada hubungannya!" Tiara langsung mengambil handphone nya dan melihat di layar.


Ternyata Vidio yang sedang viral di seluruh sekolah adalah Vidio Adhim dengan Aqila.


"Jadi karena ini? Tapi bagaimana bisa? Aqila dan Adhim, mereka sama-sama cinta. Kenapa Aqila bisa menghianati Adhim dengan cara seperti ini?" gumam Tiara masih terkejut melihat vidio tersebut.


Flashback end


Di rumah yang sangat besar, seorang gadis sedang di marahi kakaknya.


"Kemana aja kamu?" tanya Jio yang melihat Kiren yang baru pulang.


"Kenapa nanya kaya gitu? Kakak juga tau aku udah di mana selama ini, aku udah camping, Kak," jawab Kiren menatap kakaknya itu heran.


"Kamu nggak ikut camping itu, kan?" tanya Jio menatap Kiren tajam.


"Gimana Kak Jio bisa tau kalau aku nggak ikut camping?" batin Kiren, tubuhnya seketika di penuhi keringat dingin.


"A– aku ikut kok, Kak," jawab Kiren gugup.


"Kamu nggak ada di sana! Kata anak buah Kakak, kamu nggak ikut camping itu! Selama ini kamu kemana?" tanya Jio, nadanya naik beberapa oktaf. Kiren hanya diam.


"Jawab!" hardik Jio sambil memukul meja yang berada di depannya. Membuat Kiren terkejut dan takut.


"Sebenarnya–"


Masih penasaran dengan kelanjutannya?

__ADS_1


Jangan lupa klik fav yang ada di bawah ini, dan tinggalkan juga like, komen, rate 5, dan vote juga dari kalian semua 😊.


__ADS_2