
"Gimana keadaan lo sekarang?" tanya Fatih yang duduk di samping Adhim.
"Baik!" jawab Adhim singkat. "Kapan Aqila di sini?" tanya Adhim.
Fatih sontak terdiam sejenak mencerna ucapan Adhim. "Adhim udah inget semua!" gumam Fatih.
"Kenapa malah bengong?" tanya Adhim yang menaikan alisnya menatap Fatih yang masih terdiam.
"Nggak papa!"
"Kenapa lo manggil dia Aqila?" tanya Fatih memastikan.
"Lo gak lagi sakit, kan? Dia emang Aqila. Gue udah inget sekarang!" jawab Adhim tersenyum puas.
"Yang bener lo! Lo beneran udah sadar?" tanya Fatih kembali antusias.
"Iya!"
"Gue mau ketemu Aqila, Tih!" Adhim turun dari ranjangnya, tapi dengan cepat Fatih mencegahnya dan melarangnya untuk berdiri, karena keadaannya masih belum pulih.
Adhim hanya menurut dan meminta Fatih untuk memanggil Aqila ke sini. Saat Aqila masuk, rasa canggung mulai menyelimuti keduanya.
"Kenapa jadi canggung gini ya?" tanya Adhim melirik Aqila sekilas.
"Hahaha.. aku juga nggak tau!" jawab Aqila sambil menggaruk jidatnya.
"La, gue minta maaf. Karena akhir-akhir ini gue udah jahat banget sama lo!" jelas Adhim merasa bersalah.
"Bentar, tadi ko ngomong apa sama gue? Aqila?" tanya Aqila kaget.
"Iya Aqila. Emang siapa lagi?"
"Oh.. hmm..." Aqila hanya tersenyum kecil.
"Aqila..." seru seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu. Keduanya menoleh dan mendapatkan Asti sedang berdiri di sana.
"Mamah!" Aqila berjalan menghampiri Asti dan bertanya ada apa. Asti menjelaskan pada intinya saja, Aqila yang awalnya tersenyum kecil. Kini raut wajahnya berubah menjadi sedih saat mendengar penjelasan dari Ibu nya itu. Tapi, ia tidak bisa menunjukkan kesedihannya kepada Adhim.
"Ada apa?" tanya Adhim penasaran.
"Tidak ada kok, cuma urusan kecil," jawab Aqila seadanya.
"Oh iya, kalau gitu.. gue pergi dulu ya, semoga cepat sembuh, bye." Aqila berjalan ke luar sambil melambaikan tangannya dan tersenyum untuk terakhir kalinya.
Terakhir kalinya? Apa maksudnya itu? Apa Aqila akan pergi? Atau...
Yuk terus ikutin kelanjutannya 🙃.
Keesokan harinya...
Tampak semua baik-baik saja dan ya... kali ini Adhim merasa ada yang kurang pagi ini, ia berpikir keras siapa yang tidak ada di rumah sakit ini. Lalu Adhim teringat kepada Aqila yang kemarin pamit dan sampai sekarang tidak ada kabar sama sekali.
"Aqila kemana, Mah? Kok dari kemarin nggak ke sini?" tanya Adhim penasaran, Tiara yang sedang membereskan peralatan Adhim seketika menghentikan kegiatannya.
__ADS_1
"Kamu tenang aja, dia baik-baik aja kok. Tadi dia ke sini, tapi kamu nya masih tidur jadi dia nggak mau nganggu kamu." Tiara berjalan ke luar sehingga Adhim sendirian di ruangan itu.
Setelah menunggu beberapa menit, Adhim rasanya ingin ke luar untuk mencari udara segar. Ia berjalan perlahan, tapi saat ia ingin membuka pintunya, ia tak sengaja mendengar pembicaraan Tiara dengan Fatih, Hans dan juga Siska di luar. Adhim terus mendengarkan dan betapa sakit hatinya mendengar perbincangan mereka.
"Kenapa nggak ada satupun orang yang ngasih tau gue tentang ini, bahkan Mamah sekalipun!" ucap Adhim lirih.
"Kenapa kamu lakuin ini sama aku, La!" gumam Adhim yang mengepalkan kedua tangannya erat.
Saat ingin berjalan menuju ranjangnya, tiba-tiba pintunya terbuka.
"Adhim! Kamu dari kapan berdiri di sini?" tanya Tiara khawatir.
"Baru saja, Mah."
"Kamu duduk di sini aja, jangan kemana-mana ya." Tiara memapah Adhim membalikkan ke ranjangnya dan setelah itu pergi ke luar untuk memberi makanan.
"Gue harus ke sana!" gumam Adhim yang mengambil jaket yang tengah menggantung di sana beserta kunci mobil milik Ibu nya.
"Gimana gue harus pergi?" ucap Adhim saat melihat Hans, Fatih dan Siska masih berada di depan ruangan Adhim.
Ia mencari-cari benda yang bisa di pakainya untuk menyamar, dan siapa sangka kalau di sana ada pakaian perawat lengkap. Adhim langsung memakainya dan berjalan ke luar.
"Tunggu!" seru Hans kepada Adhim. Seketika Adhim berhenti dan menoleh berharap mereka tidak mengetahuinya.
"Apakah Adhim sudah tidur sekarang?" tanya Fatih penasaran.
"I- iya, dia tengah tidur saat ini. Kalau begitu, saya permisi dulu." Adhim dengan langkah cepat berjalan ke luar rumah sakit itu.
"Aneh!" gumam Fatih dan Hans bersamaan.
"Lo jangan bercanda!" sahut Fatih yang langsung masuk ke dalam, di ikuti Hans dan Siska di belakang.
"Dhim! Adhim!" seru Hans, Fatih dan Siska yang mencari Adhim di sekitar itu.
"Ada gak?" tanya Siska, keduanya menggelengkan kepalanya.
"Apa jangan-jangan.. Adhim yang tadi!" celetuk Siska, pernyataan itu cukup masuk akal. Akhirnya ketiganya berlari ke luar rumah sakit itu.
"Itu dia!" teriak Siska saat melihat mobil milik Tiara di bawa oleh Adhim.
"Ya udah, ayo kita ikuti!" Ketiganya berlari ke mobil Hans dan melajukannya mengikuti mobil Adhim.
"Lebih cepet lagi Hans!" ucap Siska yang duduk di belakang.
"Ini juga udah cepet, Sis!" sahut Hans yang panik. Ia terus menancap gasnya mengejar mobil Adhim yang sudah jauh di depan.
"Ih! Malah macet lagi!" gertak Hans yang memukul stir mobilnya dan pasrah.
"Kenapa malah gini sih!" ucap Fatih yang menopang kepalanya dengan tangan.
"Aqila! Kenapa! Kenapa kamu kaya gini!" gumam Adhim yang terus menancap gasnya memotong jalan yang tengah ramai dengan kendaraan.
Titt! Titt!
__ADS_1
Adhim terus mengklakson kendaraan yang menghalanginya jalan mobilnya.
"Gue akan ke sana secepatnya!" ucap Adhim yang menambah kecepatan mobilnya.
"Aqila..." seru Asti yang membuka pintu ruangan tersebut dan menghampiri anaknya yang masih duduk menatap dirinya di cermin.
"Mamah!" ucap Aqila lirih sambil memegang tangan Asti yang tengah memegang pundaknya.
"Kamu yakin dengan keputusan ini?" tanya Asti memastikan. Aqila hanya mengangguk yakin dan tersenyum paksa.
"Iya, Mah! Aku yakin dengan apa yang aku lakukan saat ini!" sahut Aqila yang menoleh ke arah cemrin menatap dirinya yang sudah di rias secantik mungkin.
"Mamah, hanya bisa menuruti kemauan kamu saja. Tapi, bagaimana dengan Adhim? Apa dia udah tau tentang ini?" tanya Asti dan duduk di depan Aqila.
"Belum, Mah!" jawab Aqila dan menunduk sedih.
"Ya sudah, kita ke depan. Keluarga Jio sudah menunggu di depan." ajak Asti, keduanya berjalan menuju ruang tamu.
Saat memasuki ruang tamu, tatapan Jio tak lepas dari Aqila sedikitpun. Hatinya begitu tergakum melihat kecantikan calon istrinya itu, begitupun dengan ayah dan ibu Jio.
Tak menunggu waktu yang lama.. acara pun di mulai.
"Aqila!" teriak Adhim di depan rumah Aqila. Tapi, beberapa bodyguard menghalangi jalan Adhim sehingga ia tak bisa masuk.
"Di depan ada apaan sih!" gumam Kiren yang tak sengaja mendengar perdebatan di sana. Ia pun meminta izin kepada ayah dan ibunya untuk pergi keluar dan memastikannya.
"Adhim!" ucap Kiren kaget. Ia langsung berlari dan menghentikan para bodyguard ayahnya itu untuk mengusir Adhim dari sini.
"Adhim. Kamu gak papa, kan?" tanya Kiren mencemaskannya.
"Kenapa lo di sini? Ada urusan apa lo sama Aqila? Oh, apa lo mau bohongin gue lagi, dan ngaku sebagai Aqila?! Itu gak akan mempan sama gue sekarang!" jelas Adhim yang menepis tangan Kiren darinya.
"Adhim..." gumam Kiren sedih. "Aku emang bukan Aqila! Tapi, aku beneran cinta sama kamu melebihi Aqila!" ucapnya lantang, air matanya satu per satu berjatuhan.
"Gue gak peduli! Gue mau ketemu sama Aqila sekarang juga!" Adhim tetap pada pendiriannya yang ingin bertemu dengan Aqila.
"Kamu mau ketemu sama Aqila? Sedangkan Aqila sekarang udah milik cowok lain?!" tanya Kiren yang membuat Adhim seketika terdiam.
Keluarga yang tengah berbincang itu terganggu oleh perdebatan Kiren dan Adhim. Akhirnya mereka keluar untuk melihatnya.
"Kiren ada apa ini?" tanya ayahnya menghampiri Kiren.
"Kamu liat, kan sekarang? Aqila udah jadi tunangan Kakak aku!" Kiren menunjuk ke arah Aqila dan Jio yang tengah bergandengan tangan.
"Aqila!" gumam Adhim.. dirinya tak tau harus apa lagi sekarang saat melihat langsung orang yang dicintainya bertunangan dengan orang lain.
"Maafin Aqila. Tapi, ini udah jadi keputusan Aqila. Jadi, Adhim mending pergi sekarang!" jelas Aqila yang mendahului meninggalkan semuanya dan masuk ke dalam.
Semuanya pun mengikuti Aqila masuk dan meninggalkan Adhim sendirian.
Beberapa bulan kemudian. Kini, Adhim yang berusaha untuk tidak terus terpuruk.. memilih untuk tinggal di London dan berkuliah di sana. Di sana ia tak tinggal sendirian, kebetulan Hans dan Fatih mereka berdua berkuliah di kampus yang sama.
...^^^**TAMAT!!^^^...
__ADS_1
Makasih udah baca sampai akhir.. maaf juga kalau endingnya gak jelas hehe**..