
Bel istirahat berbunyi. Adhim langsung menuju kelas Aqila, rencananya dia ingin minta maaf atas tindakannya tadi pagi.
Β
"Sis, lo liat Aqila gak?" tanya adhim yang berada di depan pintu kelas Siska.
"Kapan seorang Adhim perhatian, hah!" sindir Siska, matanya mendelik dan sudut bibirnya naik.
"Gue serius. Di mana Aqila?" Adhim kembali bertanya.
"Gak tau," jawabnya ketus.
"Kasih tau dong pliisss ...." Hans memohon.
"Cari aja sendiri, kan punya kaki," balas Siska ketus.
Adhim langsung berjalan mencari keberadaan Aqila. Dia mencari ke kantin, perpustakaan dan seluruh sekolah tetapi tidak menemukannya. Akhirnya Adhim duduk di salah satu bangku yang berada di halaman belakang sekolah.
"Lo kemana sih?" bisik Adhim.
Adhim berjalan menuju kelasnya. Tapi dia berhenti ketika melihat Aqila dan Hendrik sedang duduk di bawah pohon yang cukup besar.
Β
πππ
Β
"La, lo di apain tadi pagi sama Adhim?" tanya Hendrik.
"Aqila gak di apapain kok, Hendrik tenang aja," balasnya.
"Oh ya. Nanti ada camping Lo ikut gak?" tanya Hendrik mengganti topik pembicaraan.
"Camping? Kok Qila baru tau mau ada camping. Emang camping nya di mana?" tanya Aqila kepo.
"Iya camping. Karena, belum di umumkan ke seluruh sekolah. Kalau gak salah ke Puncak," kata Hendrik.
"Pasti seru deh," kata Aqila senang.
Aqila menemukan Adhim sedang berdiri melihat mereka dengan mata tajam. Adhim yang tau kalau dia ketauan sedang mengamati mereka, langsung berjalan menuju kelasnya. Rencananya untuk meminta maaf kepada Aqila tidak jadi Adhim lakukan.
"Adβ" panggil Aqila tetapi Adhim terlebih dahulu pergi
Aqila langsung menyusul Adhim untuk menjelaskan kejadian tadi. Aqila tidak bisa menyusulnya karena Adhim berjalan dengan cepat, Aqila terpaksa berlari agar bisa mengejar Adhim.
"Adhim ... tunggu," teriak Aqila. "Adhim ... dengerin Aqila dulu," sambungnya.
Aqila berhasil menyusul Adhim dan mencegahnya agar Adhim berhenti berjalan.
"Apa?"tanya Adhim dingin.
"Hendrik cuman ngasih tau Qila kalau ...." Aqila coba menjelaskan tetapi Adhim langsung memotongnya.
"Gue dah tau," kata Adhim ketus.
"Kalau udah tau kenapa Adhim kelihatan kesal liat Qila sama Hendrik?" tanya Aqila ingin tau.
"Gue kesal? Buat apa gue kesal, lo bukan siapa-siapa gue, kan?" sindir Adhim.
"Tapi ...."
Adhim berjalan meninggalkan Aqila sendirian. Di tengah perjalanan, Adhim melihat sekerumunan orang sedang berkumpul di papan mading, Adhim langsung mendekati dan menerobos kerumunan untuk melihat informasi di mading.
Di mading di tulis..
"Bro lo ikut, kan?" tanya Hans yang tiba-tiba sudah berada di kerumunan itu.
"Hmm ...," balas Adhim
"Gue udah tau kalau lo mau ikut, iya gak Hans?" kata Fatih sok tau.
__ADS_1
"Sok tau lo," ejek Hans.
"Biarin," balas Fatih.
Adhim tidak menghiraukan mereka berdua dan langsung pergi dari kerumunan itu.
Β
πππ
Β
Aqila menundukkan kepala dan menuju ke kelasnya.
"La, lo kemana aja sih? Lo tau gak, nanti Sabtu kita camping, La," kata Siska senang.
"Iya Qila tau kok," jawab Aqila lemas.
"Lo kenapa?" tanya Siska bingung.
"Gak kok, Qila cuman cape aja," jawabnya bohong.
"Lo ikut gak camping itu?" Siska mencoba merubah wajah Aqila menjadi senyum lagi.
"Iya Qila bakal ikut kok," katanya kembali lemas.
"Lo kenapa sih?" tanya Siska kembali memastikan.
"Qila cuman cape aja," jawabnya sama.
Siska tidak mau mengganggu temannya itu, dia tau kalau jawaban Aqila tadi bohong.
Β
πππ
Semua siswa pulang termasuk Aqila, dia tampak murung hari ini.
Β
"La, nanti berangkat camping sebangku sama gue ya," ajak Siska
"Iya," balasnya singkat.
"Ya udah gue pulang dulua," kata Siska meninggalkan Aqila sendirian di parkiran.
Tiba-tiba ada yang menarik tangan Aqila, sontak membuatnya kaget. Ternyata yang menarik tangan Aqila adalah Adhim.
"Lo pulang sama gue," kata Adhim seperti memaksa.
"Iβiya tapi." Aqila gugup.
"Udah gak usah banyak omong," larang Adhim.
Adhim menyalakan motornya dan pergi dari sana.
"Adhim ini bukan jalan ke rumah Qila. Adhim mau bawa Qila ke mana?"t anya Aqila bingung. Adhim tidak menjawab.
Adhim memberhentikan motornya di taman. Dan langsung mengajak Aqila duduk di salah satu bangku taman itu.
Hening ....
"La. Gue ...," kata Adhim lembut.
"Adhim mau bilang apa sama Aqila?" kata Aqila dingin. Baru sekarang Aqila berkata dingin kepada Adhim.
"Gue ... gue minta maaf soal hari ini," ucap Adhim yang memegang tangan Aqila. Aqila melepaskan genggaman tangan Adhim dan tidak menjawab.
"Gue tau Lo marah. Tindakan tadi, gue terbawa emosi," jelasnya singkat.
"Kalau boleh jujur, Qila gak bisa marah sama Adhim. Karena Qila suka sama Adhim," katanya polos.
'Ni orang lugu banget, dia ceritain semua tentang dirinya dengan polosnya,' kata Adhim, sebelah kanan sudut bibirnya naik.
__ADS_1
"Adhim udah suka sama Qila gak?" tanya Aqila nyengir.
"Gak lah," jawabnya ketus.
"Udah lah jangan bahas lagi, kita pulang aja." Adhim mengantar Aqila pulang sampai ke rumahnya.
"Adhim ikut camping ke Puncak gak?"t anya Aqila kepo.
"Iya," balasnya singkat.
Sesampainya di rumah Aqila ....
"Makasih udah nganterin Qila," ucap Aqila sambil senyum.
"Iya," jawabnya singkat.
"Eh nak Adhim," sapa Asti.
"Tante ...," jawabnya sopan.
"Pas banget Adhim ada di sini, Tante baru selesai bikin kue, ayo mampir dulu," ajak Asti.
"Gak usah Tan, aku pulang aja takut mamah nyariin."
"Udah gak papa nanti Tante kasih tau mamah kamu, kalau kamu ada di sini," cegah Asti.
"Iya, Tan."
Adhim menyimpan motor nya di halaman rumah Aqila dan mengunci leher untuk berjaga-jaga. Adhim masuk ke rumah Aqila, ditemani Asti dan Aqila.
"Kalian duduk aja, Tante mau ke belakang dulu," pesan Asti kepada mereka berdua.
"Qila ke kamar mau ganti baju," ucap Aqila kepada Adhim. Adhim menganggukkan kepalanya.
Aqila membuka jendela kamarnya dan melihat langit yang biru.
"Tuhan ... kalau Adhim jodoh Qila, maka satukanlah hati kami. Kalau Adhim jodoh orang lain, maka jadikan Qila orang lain itu," bisik Aqila, seketika air matanya menetes.
"Qila semakin yakin untuk ngedapetin hati Adhim," ucapnya semangat.
Aqila menghapus air matanya dan langsung mengganti bajunya dengan kaus panjang berwarna biru dan jins panjang dengan rambut diikat.
"Maaf Aqila lama ya," ucap Aqila kepada Adhim.
"Siapa juga yang nungguin lo," sindir Adhim yang sedang memainkan handphone nya. Aqila memanyunkan bibir dan duduk.
"Ini Tante bawa jus sama kue, silakan di coba," katanya.
Adhim dan Aqila mengambil kue yang di buat Asti.
"Gimana enak gak kue nya?" tanya Asti kepada Adhim dan Aqila.
"Enak Tante," kata Adhim kagum.
"Kue buatan mamah emang selalu the best deh," puji Aqila memberikan 2 jempol.
"Kamu bisa aja. Ya udah di lanjutin makannya mamah mau ke belakang lagi ya, habisin," pesan Asti.
"iya," jawabnya serempak.
"Adhim suka ya kue nya, Qila bisa kok bikin ini. Nanti Qila bawain buat Adhim," kata Aqila dengan PD nya.
"Gak usah," jawabnya ketus. "Gue pulang aja, udah sore," sambung Adhim yang melihat jam di tangannya.
"Iβiya," balasnya gugup.
Adhim keluar dan menyalakan motornya pergi dari rumah Aqila.
"Loh, Adhim udah pulang?" tanya Asti yang tidak melihat Adhim duduk di ruang tamu dengan Aqila.
"Udah, Mah," jawab Aqila dan langsung masuk membereskan piring dan gelas yang ada di ruang tamu.
βCinta itu tidak bisa dijelaskan seberapa besarnya, orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, samudra bahkan langit. Namun tidak ada seorang pun yang bisa menakar seberapa besar cintanya dengan logika.β
__ADS_1