Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
Hanya Butuh Kejujuran


__ADS_3

"Kalian berdua ngapain di sini?" tanya Adit, ia bukan orang yang berteriak sebelumnya. Yang berteriak sebelumnya adalah Rendi, mereka berdua tak sengaja melihat Hendrik menarik Adhea (Aqila) ke tempat itu dan mengikutinya.


Hendrik mendengus pelan dan menjauhkan wajahnya dari Adhea (Aqila).


"Jangan bilang lo mau ...." Adit menggantungkan kalimatnya, di pikirannya Hendrik akan berbuat seperti itu kepada Adhea (Aqila).


"Inget, Drik. Lo itu Ketua OSIS di sini, jangan ngelakuin kaya gitu," sambung Adit kembali sambil menatap Hendrik dan perempuan itu yang tidak di kenalnya, karena wajahnya di tutupi oleh tangannya sendiri.


"Istigfar ... itu anak orang, jangan main langsung aja," jelas Adit kembali, ia tidak memberi celah untuk Hendrik sedikitpun menjelaskannya.


"Udah ngomongnya?" tanya Hendrik dengan muka datar.


"Udahlah, gue cape ngomong terus," sahut Adit yang tampak keringat dingin terlihat di keningnya.


"Cewek itu siapa? Kok gue familiar ya sama dia?" batin Rendi menatap lekat Adhea (Aqila) yang sedang menangis.


"Mana mungkin gue lakuin gituan! Gue cuma mastiin aja, kalau dia–" Hendrik menghentikan perkataannya, sambil memikirkan apa alasan yang harus di berikannya, agar tidak salah faham.


"Kalau dia baik-baik aja, karena tadi dia di bully dan sebagai Ketua OSIS yang baik, perhatian dan ganteng kaya gue ini ... harus membela yang lemah," jelas Hendrik panjang lebar dan berlagak sombong.


"Cih! Ganteng dari mana? Dari Hongkong?" gerutu Adit menatap Hendrik tajam.


"Tadi lo bilang apa, Dit?" tanya Hendrik melihat Adit menyelidik.


"Ah. Nggak kok, gue cuma ... anu ... sekarang kan mau masuk nih, jadi gue harus pergi dulu, ayo Ren. Bye." Keduanya pergi meninggalkan Hendrik dan Adhea (Aqila) berdua.


Saat kesempatan itulah, Adhea (Aqila) melarikan diri dari Hendrik. Tapi alhasil, usahanya itu tidak berjalan dengan baik, Hendrik malah langsung mencengkram tangan Adhea (Aqila) dan membawanya pergi dari sana.


"Lepasin gue!" bentak Adhea (Aqila), bukannya di lepaskan malah cengkraman tangan Hendrik semakin kuat, dan Adhea (Aqila) tidak bisa melepaskannya.

__ADS_1


"Apa lo tuli atau gimana? Gue bilang lepasin gue!" teriak Adhea (Aqila) kembali sambil meringis kesakitan.


Hendrik menghentikan langkahnya dan menatap Adhea (Aqila) tajam dan berkata, "Gue gak akan lepasin lo sebelum lo ngaku kalau lo itu beneran Aqila, bukan Adhea," jelas Hendrik dan membawa Adhea (Aqila) ke rooftop.


"Lo sebenarnya kenapa sih! Udah gue bilang, kan? Gue bukan Aqila ... gue Adhea. Ngerti!" ucap Adhea (Aqila) dengan sekencang-kencangnya.


"Lo mau tau, kenapa gue ngelakuin ini sama lo? Karna gue sayang sama lo! Gue gak mau lo kenapa-napa dan gue gak mau lo menderita kaya gini, La!" jelas Hendrik sambil memegang kedua pundak Adhea (Aqila).


"Gue Adhea, bukan Aqila!" Adhea (Aqila) menepis kasar tangan Hendrik darinya.


"Sebenarnya, gue udah tau semua dan apa yang lo lakuin selama ini. Gue ikutin lo kemanapun lo pergi," kata Hendrik, nadanya rendah dari sebelumnya.


"Pada saat lo memilih pacaran sama Jio, dibanding harus di keluarkan dari sekolah itu ... gue kecewa banget sama lo. Tapi gue yakin, lo ngelakuin itu semua karena terpaksa." Hendrik mulai menceritakan apa yang selama ini dia lakukan.


"Gue tau, sebenarnya Rendi udah tau keberadaan lo ... tapi dia rahasiain ini cuma karena lo gak mau semua orang tau keberadaan lo sekarang. Tapi, La ... sebesar apapun lo rahasiain dari kita, rahasia itu akan terbongkar dengan sendirinya. Dan gue mau lo mending jujur dari sekarang, kalau sebenarnya lo itu Aqila, bukan Adhea," sambung Hendrik panjang lebar.


"Maafin gue, gue ngelakuin ini cuma gue gak mau terus larut dalam kesedihan gue." Aqila menangis sejadi-jadinya di pelukan Hendrik.


"Lo tau, kan? Apa yang harus lo lakuin sekarang?" tanya Hendrik yang melepaskan pelukannya.


"Iya, gue tau. Tapi beri gue waktu untuk cerita semuanya," jawab Aqila yang masih terisak.


"Gue akan selalu di samping lo." Hendrik kembali memeluk Aqila dengan erat.


🍁🍁🍁


Selesai istirahat, tidak ada tanda-tanda dari geng motor tersebut kembali ke sekolah itu. Waktu pun terus berjalan, pagi pun berganti menjadi siang ... dan sampai sekarang masih belum ada tanda-tanda kembalinya geng tersebut.


"Apa mereka gak akan kembali lagi ke sini?" gumam Siska khawatir.

__ADS_1


"Pulang bareng yu," ajak Fatih sambil tersenyum manis.


"Kalau sekarang gak bisa, maaf ya." Siska langsung berjalan menjauhi Fatih.


"Semakin kamu jauh dari aku, semakin aku penasaran sama kamu, Sis," kata Fatih menatap kecewa Siska.


"Kalau Fatih sampai tau soal kejadian itu, apa dia masih mau pacaran sama gue ya?" pikir Siska, sekarang pikirannya sedang kacau.


"Siska ...." terdengar bisikan halus di telinga Siska, dan membuat dirinya memikirkan hal-hal mistis. Siska langsung menoleh ke belakang, dan tidak ada siapapun di sana.


"Mungkin gue cuma lagi stres aja, jadi gue mikir hal-hal gitu." Siska positif tinking aja.


"Siska ...." Lagi-lagi terdengar suara di telinganya, Siska dengan perlahan membalikkan badannya dan langsung berteriak setelah melihat apa yang Aya di depannya.


"Aaaaaa ...!" Teriakkan Siska menggelegar di telinga Fatih.


"Ini gue!" teriak Fatih, Siska menghentikan teriakannya dan membuka perlahan matanya.


"Ih! Apaan si lo!" kesal Siska sambil memukul-mukul dada bidang Fatih.


Dengan refleks Fatih langsung menarik Siska dan memeluknya erat sambil berkata, "Kamu gak usah khawatir, aku terima kamu apa adanya kok," ucap Fatih yang mencoba menenangkan Siska.


Setelah mendengarkan perkataan pacarnya itu, cairan bening terjatuh begitu saja dan membasahi pipi Siska.


"Makasih," ujar Siska dan memeluk Fatih lebih erat.


MAAF SEKARANG JARANG UP LAGI, KARENA BANYAK YANG HARUS DI KERJAKAN DI KEHIDUPAN NYATA DAN SEBAGIAN PADA UDAH TAU, KAN?


MAAF JUGA KALAU ADA SALAH KATA, ATAU ALURNYA TIDAK SESUAI EKSPETASI KALIAN, TAPI AKU HARAP KALIAN SEMUA SUKA DENGAN CERITA INI 😊.

__ADS_1


__ADS_2