Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
Geng Motor


__ADS_3

"Itu ...." Adhim menggantung perkataannya dan raut wajahnya terlihat begitu panik.


"Kenapa dia muncul saat-saat kaya gini sih!" batin Adhim kesal sambil menoleh ke arah Adhea (Aqila) tajam.


"Gue kaya kenal suara itu, apa mungkin itu ...." Hendrik memikirkan kepada suara Aqila.


"Itu sepupu gue, dia emang suka teriak-teriak gak jelas. Kalau gitu, gue masuk dulu oke. Lagi pula, kalian harus sekolah, kan?" jelas Adhim beralasan, ia seperti sedang mengusir orang yang tidak ia kenal, padahal mereka temannya.


"Tapi, Dhim ...." cegah Rendi yang melangkah ke depan.


"Udah, nanti besok gue ceritain semuanya di sekolah. Mending kalian pergi dari sini, sebelum jam pelajaran di mulai. Bye." Adhim menutup pintu begitu saja. "Oh iya, dan thanks ya udah kemari," sambung Adhim, kemudian menutup rapat pintu rumahnya.


"Ya udah lan, yang penting dia gak kenapa-napa," kata Adit yang berpikir positif.


"Gue tau lo sembunyikan sesuatu dari kita, Dhim .... Dan rahasia itu akan terbongkar dalam waktu yang dekat." Hendrik masih ragu dengan sikap Adhim yang berubah ketika Adit bertanya.


"Udah ayo!" Adit menarik tangan Hendrik yang masih terpaku di tempat.


"Lo kenapa harus muncul saat situasi kaya gini sih?! Kalau mereka tau lo di sini, mereka bakal berpikiran macam-macam sama gue. Dan mengira lo adalah Aqila," bentak Adhim dan langsung menarik tangan Adhea (Aqila) ke kamarnya.


"Lo kasar banget sih jadi cowo! Gak ada lembutnya sama sekali gitu?!" gerutu Adhea (Aqila) yang sudah berada di kamar Adhim.


"Mulai besok lo sekolah di SMA Nusantara. Jangan nolak!" kata Adhim nadanya seperti ingin mengancam.


"Dan lo harus ikutin perkataan gue nanti. Oke. Oh ya, kalau lo udah selesai dandannya ikut gue ke luar. Cepet!" sambung Adhim dengan penuh pemaksaan. Lalu berjalan ke luar kamarnya.


"Untung gue masih sabar. Kalau nggak, udah gue cabik-cabik tu mukanya!" kesal Adhea (Aqila) melihat Adhim yang sudah tidak ada di hadapannya.


"Kalau gue sekolah di sana, gimana kalau semua orang tau kalau gue sebenarnya Aqila bukan Adhea," Adhea (Aqila) sempat berpikir sejenak.


"Temen-temen udah tau lagi kalau gue berubah drastis kaya gini. Padahal dari awal, gue pake bahasa lain aja dan penampilan gue gak kaya gini." Aqila menyesal karena rencananya tidak sesuai ekspektasi.


"Woy! Lama banget sih lo! Cepetan, keburu siang nih!" teriak Adhim dari lantai dasar.


"Berisik banget sih!" Aqila akhirnya berjalan sambil menghentakkan kakinya ke lantai sampai di depan Adhim.


"Udah ayo!" Adhim langsung berjalan cepat meninggalkan Adhea (Aqila) sendirian di rumah tamu.


"Dih! Malah di tinggalin!" gumam Adhea (Aqila) menatap Adhim kesal.


🍁🍁🍁

__ADS_1


"Tante maaf, Aqila kabur dan gan tau ke mana. Aku udah keliling komplek ini tapi tidak ketemu," jelas Jio yang sudah ngos-ngosan berlari mengelilingi seluruh komplek itu.


"Pah ... gimana ini. Anak kita ke mana? Hiks ... hiks ...." kata Asti yang tengah berada di pelukan suaminya.


"Mamah gak perlu khawatir, nanti papah sama Jio yang akan cari Aqila," ujar Saddam menenangkan istrinya itu.


"Pokonya Aqila harus ketemu, Pah," sahut Asti di tengah isakannya.


"Om, Tante. Jio mau pulang dulu, kalau butuh apa-apa tinggal telpon aku aja. Permisi," pamit Jio dan meninggalkan rumah itu.


"Kalau tau gini, gue gak akan kasih tau Aqila soal tunangan itu! Sial!" batin Jio yang kesal kepada dirinya sendiri.


Flashback


Belum sempat Jio membuka pintu kamarnya untuk melihat keadaan Aqila, handphone nya berdering, ia terpaksa menerima telpon dari ayahnya itu.


"Hallo? Ada apa, Pih?


tanya Jio dengan raut wajah bingung.


"Papih punya kabar gembira untuk kamu,


jawab ayahnya, senyum bahagia terukir di bibirnya.


tanya Jio penasaran.


"Kamu temuin Papih di cafee biasa, nanti Papah ceritain di sana. Oke,


jelas ayahnya dan langsung menutup telponnya.


"Tapi Aqila gimana?" gumam Jio yang mendongkakkan kepala melihat ke lantai atas.


"Kalau gue gak ke sana, bisa-bisa habis gue sama Papih. Ya udah lah, gue suruh aja bodyguard gue buat jagain Aqila," kata Jio dan langsung meninggalkan rumah besar itu.


Setelah sampai cafee yang biasanya di kunjungi keluarganya, Jio duduk di bangku yang sudah di pesan sebelumnya oleh ayahnya.


"Papih mau ngomong apaan sih?" tanya Jio dengan nada yang kurang mengenakan.


"Setelah selesai sekolah nanti, kamu akan tunangan sama orang yang kamu cinta selama ini," jelas Bayu kepada anaknya.


"Yang bener, Pih? Thanks ya Pih, udah mau bantuin aku buat tunangan sama Aqila," Jio tersenyum senang mendengar perkataan ayahnya itu.

__ADS_1


"Lo gak bisa berbuat apa-apa lagi, Aqila ... liat aja nanti, lo bakal jadi milik gue sepenuhnya. Dan ... Adhim, gue akan buat hidup lo menderita!" batin Jio senyum kemenangan mengembang di bibirnya.


Flashback end


____________________


Tit! Tit! Tit!


Segerombolan geng motor dengan cepatnya masuk ke area parkiran SMA Nusantara, membuat semua siswa yang menghalangi jalan motor itu menepi dan di buat kesal dengan mereka.


"Dasar gak tau diri!" teriak seorang perempuan yang terjatuh akibat menghindari motor itu.


Mengetahui ada yang berbicara seperti itu, ketua geng motor itu memberhentikan motor besarnya diikuti oleh pengendara motor lainnya.


Ketua geng itu turun dari motornya dan menghampiri perempuan yang berteriak itu.


"Siapa yang bilang gue gak tau diri, hah!" bentak ketua geng tersebut kesal.


"Gue, emang kenapa?!" tanya perempuan itu yang mencoba melawan ketua geng motor itu.


"Jaga ya ucapan lo! Kalau sampai lo berani lawan kita lagi ... lo akan tau akibatnya!" ancam ketua geng motor tersebut sambil mendorong tubuh perempuan itu.


"Kalian mau apa?" tanya perempuan itu dengan penuh keberanian.


"Guys, urusin tu cewe!" suruh ketua geng tersebut kepada anak buahnya.


Dengan siap siaga, anak buahnya langsung mengikat tangan dan kakinya, dan membawanya ke sebuah tempat di mana terdapat pohon besar dan di ikatnya tali tersebut di atas pohon.


"Apa lo masih berani lawan kita?" tanya ketua geng tersebut, terlihat dari balik helmnya dia tersenyum penuh kemenangan.


"Gue mohon, turunin gue dari sini. Gue janji gak akan berani lawan kalian lagi," sahut perempuan itu yang terlihat dari bawah, lengannya yang di ikat bercucuran darah.


"Coba aja turun sendiri. Dan buat kalian semuanya, kalau ada yang berani tolongin dia, kalian akan tau akibatnya!" Karena takut akan ancamannya, semua murid hanya mengangguk menuruti perkataan ketua geng yang bahkan tidak di ketahui namanya itu. Ketua geng tersebut meninggalkan tepat itu tanpa menurunkan perempuan itu.


"Siapa pun tolongin gue!" teriak perempuan itu yang meringis kesakitan.


Tiba-tiba Adit memotong talinya, dan perempuan itu di tangkap oleh Hendrik.


"Lo gak papa?" tanya Hendrik kepada perempuan itu.


"Tangan gue ...." perempuan itu menatap ke arah lengannya yang sudah banyak cairan merah.

__ADS_1


"Bawa dia ke UKS, cepet!" suruh Hendri kepada siswa yang berada di sana.


__ADS_2