
Aqila hanya bisa tertegun melihat Nadya yang meminta maaf kepadanya secara langsung, bahkan di hadapan banyak orang.
"Lo jangan mau maafin cewe licik ini, La!" ucap Siska kesal.
"Gue emang nggak pantes buat lo maafin, tapi gue bener-bener nyesel udah ngelakuin itu sama lo, La!" tutur Nadya yang meneteskan air matanya. Membuat Aqila iba dengannya.
"Kak Nadya kayaknya tulus banget minta maaf sama aku," Aqila membatin.
"Ada apaan tuh rame benget kayanya, kita kepoin yuk!" ajak Hans yang langsung menghampiri sekumpulan siswa tersebut dan menerobos di depan.
"Eh, ini ada apaan sih?" tanya Hans kepada salah satu siswa.
"Itu loh, lo masih inget gak sama Nadya? Dia minta maaf sama Aqila," jawab siswa tersebut. Hans yang mendengar itu segara menerobos masuk dan menemukan Nadya, Aqila dan Siska yang sedang di kelilingi banyak siswa.
"Nadya ngapain lo di sini lagi?!" tanya Hans dengan nada bentakan.
"Gu– gue cuma–" Nadya menghentikan ucapannya setelah melihat keberadaan Adhim di sana.
"Adhim, maafin gue!" kata Nadya yang memegang kedua tangan Adhim.
"Siapa sih ni cewek! Pegang tangan Adhim lagi!" batin Kiren kesal dan menatap Nadya diam-diam.
Adhim hanya diam sambil menatap Nadya heran dan membiarkan Nadya memegang tangannya.
"Lo mau maafin gue, kan?" tanya Nadya sekali lagi, ia sungguh berharap kalau Adhim akan memaafkannya.
Terdengar suara bisikan yang mengganggu pendengaran Adhim dan Nadya. Karena suasana menjadi tegang, akhirnya Hans membubarkan semua siswa yang berada di sana.
"Lo siapa?" tanya Adhim yang masih menatap Nadya heran.
"Ini gue, Nadya! Yang dulu pernah suka sama lo!" jawab Nadya sambil melapangkan tangan Adhim.
"Nadya? Rasanya gue pernah denger nama itu, tapi gak tau di mana," sahut Adhim, tangannya di letakkan di dagu sambil memikirkan nama tersebut.
"Lo gak mungkin lupa sama gue, Dhim!"
"Gue bener-bener gak kenal sama lo! Gue gak inget semuanya! Gue gak tau!" pekik Adhim sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit.
"Adhim!" gumam Kiren khawatir dengan keadaan Adhim.
"Mending lo bawa Adhim ke UKS," usul Fatih kepada Kiren. Akhirnya Kiren memapah Adhim menuju ruang UKS yang tak jauh dari sana.
"Sebenarnya Adhim mengalami amnesia, Nad," kata Hans to the point. Nadya seketika terpaku di tempat.
"Kalian pasti bercanda, kan? Kalian pasti nge-prank gue, kan? Di mana kameranya? Cepet kasih tau gue!" sahut Nadya tidak percaya.
"Lo kali yang nge-prank kita! Pake minta maaf segala!" batin Siska, rasanya ia ingin mengusir Nadya dari sini.
__ADS_1
"Kita nggak nge-prank lo, kita serius! Adhim amnesia sekarang, dan sebaiknya lo pergi dari sini sebelum kita yang ngusir lo!" ancam Fatih menatap Nadya sinis.
"Iya tuh, mendingan lo pergi dari sini. Aqila juga gak bakalan maafin kesahan lo yang dulu!" sahut Siska yang memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Gue minta maaf kalau kedatangan gue bikin kalian gak nyaman. Gue tau, gue emang gak pantes dapet maaf dari Aqila. Gue janji gak bakal muncul di kehidupan kalian lagi!" jelas Nadya dan berjalan lesu menuju parkiran.
"Tunggu!" pekik Aqila. Seketika Nadya membalikkan badannya dan menatap Aqila.
"Sebelum Kak Nadya minta maaf juga, Aqila tetap maafin Kak Nadya kok," sambung Aqila sambil tersenyum ramah. Nadya berlari dan memeluk Aqila erat.
"Makasih udah maafin gue, La! Gue janji, gue gak akan ganggu hubungan lo sama Adhim lagi!" Nadya melepaskan pelukannya sambil mengusap air matanya.
"Itu gak perlu," jawab Aqila tersenyum paksa.
"Tapi kenapa?"
"Nanti juga Kak Nadya tau. Oh iya, Kak Nadya ke sini sama siapa? Kalau sendirian, bisa di anter sama Hans," tanya Aqila mengalihkan topik.
"Kok jadi gue sih?!" batin Hans yang menatap Aqila heran.
"Gue bawa mobil kok." Nadya kemudian berjalan menuju parkiran, ia tidak sengaja melihat Kiren dan Adhim di luar UKS sedang berbincang.
"Bukannya itu cewe yang tadi ya? Kenapa mereka akrab banget? Adhim gak biasanya cepet akrab kaya gitu sama orang," gumam Nadya yang pura-pura tidak melihat keduanya.
Nadya tidak terlalu mempedulikannya dan berjalan menuju mobilnya.
Bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaringnya, semua kelas mengakhiri pembelajarannya dan berhamburan ke luar.
Tampak semua kelas sudah kosong, hanya Aqila saja yang berada di kelasnya sendiri. Entah apa yang sedang di lakukan Aqila kali ini, tapi ia terus melakukan kegiatannya itu. Setelah selesai, Aqila segera membereskan peralatannya dan berlari ke luar kelas.
Bruk!
Tiba-tiba Aqila terjatuh, sampai kertas yang di pegangnya semua berantakan di lantai.
"Kalau jalan tuh pake kaki! Liat pake mata!" ucap Adhim ketus sambil melihat ke arah Aqila sinis.
"Ma– maaf!" sahut Aqila yang segera membereskan semua kertas yang berserakan di lantai.
Adhim dengan sengaja menginjak beberapa kertas tersebut sampai sobek dan berlalu meninggalkan Aqila sambil menyeringai.
Dengan perasaan kecewa, Aqila mengambil kertas yang sobek dan kotor itu menuju perpustakaan. Entah kenapa perasaan Adhim menjadi tidak enak atas kelakuannya, ia pun mengikuti Aqila diam-diam dari belakang.
Aqila melihat benda yang melingkar di tangan kanan nya sambil bergumam, "Semoga masih sempat!" Aqila mempercepat langkahnya menuju perpustakaan yang masih buka.
"Kenapa dia ke sana?" batin Adhim yang masih mengikuti Aqila dari belakang.
Saat masuk ke perpustakaan, Adhim melihat tidak ada seorang pun di sana hanya ada penjaga perpustakaan.
__ADS_1
"Dia kemana?" gumam Adhim yang mulai mencari keberadaan Aqila.
Adhim pun duduk di salah satu bangku dan tak sengaja melihat Aqila sedang duduk di pojok perpustakaan itu. Adhim terus memperhatikan Aqila yang sedang menulis, tapi entah menulis apa. Sampai satu jam Adhim menunggu, Aqila belum juga selesai.
Adhim berniat ingin menghampirinya, tapi Aqila lebih dulu berjalan menuju Adhim.
"Dia ke sini! Gimana sekarang? Gue harus ngomong apa nih?" batin Adhim yang tak tau harus apa, akhirnya ia menutup wajahnya dengan buku yang sengaja ia bawa tadi.
"Lo ngapain di sini?" tanya Aqila yang duduk di hadapan Adhim dan menyimpan kertas di atas meja.
Adhim hanya diam, tidak menjawabnya. Semakin Aqila menatap heran ke arahnya.
"Lo ngomong sama gue?!" tanya Adhim dengan muka datar. Buku yang tadi ia pegang, di simpannya di atas meja.
"Terus sama siapa lagi selain lo?" tanya Aqila balik. Karena Adhim tidak menyautnya, Aqila memilih untuk pergi dari sana dan berjalan keluar. Adhim kembali mengikutinya dari belakang, tapi kali ini Aqila mengetahui kalau Adhim sedang mengikutinya.
"Kenapa lo ikut gue ke sini?" tanya Aqila yang mensejajarkan langkahnya dengan Adhim.
"Gue gak ngikutin lo kok, gue juga kebetulan mau ke ruang guru. Jadi jangan ke-gr-an deh!" jawab Adhim yang mendahului langkahnya.
"Assalamualaikum." Adhim dan Aqila masuk ke ruang guru, Aqila meletakkan kertas tersebut di meja salah satu guru dan kembali menghampiri Adhim yang sedang berdiri tidak berbuat apa-apa.
"Nah, lo ke sini mau ngapain?" tanya Aqila yang hendak berjalan ke luar.
"Gue mau ke sini juga bukan urusan lo, kan?"
"Eh tunggu!" seru seorang guru, Aqila menoleh dan menghampiri guru tersebut. Sedangkan Adhim sudah berada di luar menunggu Aqila.
"Kamu kelas XII, kan?" tanya guru itu memastikan. Aqila menganggukkan kepalanya.
"Ibu mau minta tolong sama kamu, buat bawa kotak yang berwarna kuning. Kamu bisa, kan?"
"Iya, Bu bisa."
"Kalau gitu ini kuncinya. Oh iya, kamu hati-hati bawanya soalnya itu berkas yang sangat penting." pesannya sambil memberikan kunci gudang kepada Aqila.
"Dia mau kemana?" batin Adhim yang melihat Aqila berjalan menuju ke arah sebaliknya. Karena Adhim kepo, akhirnya ia mengikuti Aqila sampai ke gudang.
"Ternyata cuma ke sini!" gumam Adhim lalu berjalan menjauh dari gudang tersebut.
Aaaaa!!!
Terdengar teriakan dari arah gudang. Adhim pun langsung berlari menuju gudang melihat apakah Aqila baik-baik saja.
Apa yang sebenarnya terjadi di dalam gudang tersebut? Apakah Aqila kenapa-napa?
Masih penasaran dengan kelanjutannya? Jangan lupa klik dulu fav yang ada di bawah ini, tinggalkan like, rate 5, dan juga vote dari kalian semua.
__ADS_1
Kalau ada kata yang typo mohon di maafkan🙏, sampai ketemu di episode selanjutnya 🤗.