
"Kalau gitu, aku berangkat dulu, Mah. Assalamu'alaikum." Adhim mencium punggung tangan Tiara, begitupun dengan Adhea (Aqila). Keduanya berjalan ke luar rumah.
"Eh. Lo mau ngapain?" tanya Adhim yang melihat Adhea (Aqila) ingin naik ke atas motor miliknya.
"Ya mau naik lah. Menurut lo gue mau ngapain?" jawab Adhea (Aqila) ketus dan langsung naik ke motor Adhim.
"Lo naik taxi aja. Ini uangnya, gue lagi males sama lo, jadi turun, oke!" ujar Adhim sambil memberikan selembar uang berwarna biru.
"Kalau gue gak mau?" tanya Aqila menatap Adhim sinis.
"Ya udah ... gue akan turunin lo di tengah jalan," ancam Adhim, membuat Adhea (Aqila) terdiam.
"Ih! Awas aja lo!" pekik Aqila dalam hati, ia memilih turun dan menunggu taxi datang melewati tempat itu.
Senyum kemenangan terukir di bibir Adhim. Tanpa mempedulikan Adhea (Aqila), Adhim melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata menuju sekolahnya.
"Nyesel gue nyamar sebagai Adhea. Lebih baik gue jadi gue sendiri aja, biar gue bisa sepuasnya balas dendam sama tu orang!" gerutu Aqila sambil melihat tajam ke arah motor Adhim yang lama-kelamaan menghilang dari pandangannya.
Setelah menunggu beberapa menit di depan rumah Adhim, tidak ada satupun taxi atau kendaraan yang melewati area sana.
"Eh? Kenapa kamu kasih di sini? Adhim ke mana?" tanya Tiara heran melihat Adhea (Aqila) berdiri di depan rumahnya.
"Anu Tante .... Adhim ninggalin Adhea dan katanya naik taxi aja, ya udah Adhea nungguin taxi di sini," jelas Adhea (Aqila) tersenyum paksa.
Tiara di buat tertawa setelah mendengar penjelasan Adhea (Aqila). "Ya udah, kamu ikut Tante aja. Ayo naik," suruh Tiara dan Adhea (Aqila) hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobil milik Tiara.
"Sebenarnya Adhim udah ngerjain kamu," kata Tiara memecah keheningan diantara mereka.
"Maksud Tante?" Adhea (Aqila) masih di buat bingung dengan perkataan Tiara yang tidak to the point aja.
"Maksud Tante ... mau kamu nungguin taxi sampai kapanpun di sana, gak bakal ada yang lewat. Namanya juga komplek, di sana gak ada tadi yangewat," jelas Tiara yang sedang menahan tawanya.
"Apa! Gue di kerjain lagi sama tu orang! Awas aja lo, Dhim. Kita liat aja nanti, siapa yang akan tertawa," batin Adhea (Aqila), ia mempunyai rencana untuk mengatasi satu orang yang menyebalkan ini.
🍁🍁🍁
Setelah sampai di sekolah, suasana yang di rasakan Adhim tampak berbeda.
__ADS_1
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Adhim masih terheran-heran melihat ke sekitar semua orang tampak gelisah.
"Woy! Kenapa bengong? Pasti lagi mikirin Aqila, kan?" kata Hans melihat Adhim menyelidik.
"Gue sempet lupa. Kalau Adhea akan jadi murid di sekolah ini. Gue harus ngapain nih?" Adhim baru ingat kalau Adhea (Aqila) akan sekolah di sini.
"Kemarin, pas gue gak sekolah, apa yang gue lewatin?" tanya Adhim penasaran.
"Kemarin ada geng yang datang ke sini ...." Hans mulai menjelaskan kronologis kejadiannya.
"Mereka menyiksa salah satu siswa di sini dan yang gue tau ... geng itu ada hubungannya sama Siska. Tapi gue gak tau bener mereka ada hubungan apa, tapi yang jelas mereka bakal balik ke sini lagi," jelas Hans panjang lebar.
"Satu lagi, nama ketua geng itu Ki ... Ki ... Ki apa ya? Gue lupa, pokonya inisialnya dari Ki," sambung Hans. Adhim hanya terdiam dan mengingat sesuatu akan hal ini.
"Nama dia Kiren?" tanya Adhim memastikan.
"Nah itu ... namanya Kiren. Kok lo tau nama dia?" tanya Hans bingung.
Flashback
"Gue beliin apa ya buat Mamah?" Adhim berjalan melihat-lihat toko yang ia lewati.
Belum sempat Adhim masuk, ia melihat cewe sendirian yang sedang di ganggu oleh dua orang cowo. Adhim dengan sigapnya berlari dan langsung memukul kedua laki-laki brengsek tersebut.
"Lo gak papa?" tanya Adhim kepada cewe itu, cewe itu hanya mengangguk dan tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan.
"Ada pahlawan rupanya," kata salah satu laki-laki itu menatap Adhim tajam.
"Woy! Kalian laki-laki brengsek! Coba-cobanya gangguin adik gue. Liat aja kalian!" teriak salah satu cewe yang umurnya setara dengan Adhim.
Cewe itu bukannya berterima kasih kepada Adhim, ia malah memukul Adhim tanpa ia tau kalau sebenarnya Adhim hanya ingin membantu adiknya.
"Stop! Dia bukan orang jahat, dia mau bantuin aku tadi," cegah adiknya menghalangi Adhim dari pukulan kakaknya itu.
"Jadi ... gue minta maaf ya," kata cewe tersebut sambil membantu Adhim berdiri.
"Muka gue udah babak belur tau!" kata Adhim kesal.
__ADS_1
"Ya maaf, gue gak tau kalau lo mau bantuin adhik gue. Oh iya, nama gue Kiren." Kiren mengulurkan tangannya dan Adhim membalasnya.
"Nama gue Adhim. Gue masih punya urusan, gue ke sana dulu, bye." Adhim berjalan menuju toko yang sebelumnya ingin dia kunjungi.
"Gimana, sebagai rasa minta maaf gue. Gue traktir lo makan?" tawar Kiren, Adhim tidak mempedulikan perkataan Kiren, ia tetap memilih berjalan masuk ke toko tersebut.
"Dih! Malah pergi aja, ya udah. Ayo, Dek," gumam Kiren dan menarik tangan adiknya pergi dari tempat itu.
Flashback end
"Gue cuma nebak aja. Hans, gue punya urusan mendadak, gue harus pergi." Tanpa berkata apapun pagi, Adhim meninggalkan Hans begitu saja.
"Nasib jomblo emang selalu sendiri, huufftt." Hans sedih dengan nasibnya yang belum mempunyai pasangan sambil mendengus kasar.
"Gue harus lebih berjuang demi dapetin bebep Cika," kata Hans menyemangati dirinya sendiri.
____________________
"Tu cewe kenapa belum dateng ya?" gumam Adhim bingung, ia tidak melihat Adhea (Aqila) berjalan di area parkiran.
Akhirnya Adhim memilih pergi dari parkiran menuju kelasnya yang berada di lantai atas.
"Dhim," panggil salah satu siswa yang berada di koridor kelas. Adhim menghampiri siswa tersebut.
"Apa bener ... Aqila kembali ke sekolah ini lagi?" tanya siswa tersebut.
"Lo liat di mana?" tanya Adhim penasaran.
"Gue sih gak liat, temen gue yang liat Aqila sama nyokap lo berjalan ke ruang kepala sekolah," jelas siswa tersebut. Adhim langsung berlari ke ruang kepala sekolah yang berada di lantai dasar.
Saat sedang berlari, terdengar suara bisikan di telinga Adhim soal Aqila dari mulut semua orang yang berada di koridor kelas.
"Adhim!" teriak Siska, Adhim berhenti berlari dan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Siska.
"Apa lo udah tau kalau Aqila tinggal di mana?" tanya Siska, Adhim hanya diam sambil melihat ke bawah.
"Jawab! Apa lo sebenarnya udah rahasiain dari kita soal ini?" tanya Siska sekali lagi dengan suara lantang. Adhim tetap diam tidak bisa berkata apa-apa.
__ADS_1
"Sepertinya, Siska salah paham sama gue," batin Adhim.