Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
Tunangan!


__ADS_3

"Ya emang ke rumah pacar sendiri nggak boleh?" tanya Jio cemberut.


"Ya bukan gitu .... Tapi, kenapa lo tau gue pindah ke sini? Padahal kan, gue gak ngasih tau lo apa-apa," jelas Aqila sambil menatap Jio heran.


"Kemanapun kamu pergi, aku tau. Bahkan ke ujung dunia ini," gombal Jio sambil memegang pipi Aqila.


"Ih ...! Kalau nggak karna ni cowo ngancem gue, gue ogah pacaran sama dia," batin Aqila menggidik membayangkan masa depannya bersama Jio.


"Kamu gak sekolah?" tanya Aqila yang berjalan menjauh dari Jio.


"Males, lagi pula ... pacar gue gak sekolah. Jadi, buat apa gue sekolah kalau pacar gue aja gak ada di sekolah," jawab Jio dengan polosnya.


"Ni orang, emang bener-bener ya!" gerutu Aqila kembali. "Sabar, La. Sabar ...." sambung Aqila sambil mengelus dadanya.


"Oh iya, gue ada berita bagus buat kita," kata Jio tiba-tiba, ia berjalan mendekati Aqila sambil memegang kedua pundak Aqila.


"Apa?" tanya Aqila bingung sambil membalikkan badannya menghadap Jio.


"Setelah lulus sekolah, kita langsung tunangan," sahut Jio dengan bersemangatnya.


"Apa?! Tunangan!" kata Aqila kaget dengan wajah yang masih menebak-nebak.


"Iya, tunangan. Karena orang tua kita jodohin kita berdua," jelas Jio dengan singkat.


"Gue harus ngomong sama mamah soal semua ini." Aqila langsung berlari ke lantai dasar dan menemui mamahnya.


"Mah! Pah!" teriak Aqila, karena mendengar suara itu keduanya dengan cepat menghampiri Aqila.


"Apa Papah sama Mamah jodohin aku sama Jio?" tanya Aqila kesal.


"Maksud kamu apa sayang? Jodohin apa?" tanya Asti yang memegang pundak Aqila.


Aqila menepis tangan Asti dan berkata kembali, "Nggak! Mamah sama papah jujur, apa aku di jodohin?"


"Jawab, Mah, Pah!"


"Iya! Papah jodohin kamu sama rekan kerja Papah. Tapi Aqila ... ini semua demi kebaikan mau juga," jelas Saddam meyakinkan Aqila.


"Kenapa Papah lakuin ini? Papah tau kan, aku gak mau di jodohin. Aku mau nikah sama orang yang aku suka, kata Aqila dengan lantangnya, Aqila begitu kecewa dengan kedua orangtuanya, ia berjalan mundur dan berlari ke luar rumah.


"Aqila! Pah, gimana ini?!" tanya Asti khawatir.


"Biar saya yang kejar Aqila, Tan." Jio dengan cepatnya menyusul Aqila ke luar.


🍁🍁🍁

__ADS_1


"Aqila!" teriak Adhim dan langsung bangkit dari tidurnya.


"Gue harus ke rumah Aqila sekarang juga!" gumam Adhim yang tengah ingin melepaskan jarum impus yang ada di tangannya.


Adhim mengambil jaket dan kuncinya yang berada di atas meja dan pergi ke luar ruang perawatan.


"Dhim, lo mau ke mana?" tanya Nadya mencegahnya.


"Kenapa lo ada di sini?" tanya Adhim ketus, ia memilih untuk meninggalkan Nadya daripada harus berurusan dengannya lagi.


"Gue mohon, dengerin gue." Nadya memegang tangan Adhim. Tapi Adhim menepisnya dan tetap memilih meninggalkan rumah sakit ini.


"Denger ... gue udah jijik liat muka lo! Ngerti! Jadi jangan pernah muncul di hadapan gue lagi," bentak Adhim dan berjalan menjauhi Nadya.


"Ih! Kenapa Adhim gitu banget sih sama gue!" gerutu Nadya kesal.


Adhim berjalan perlahan menuju motor besarnya dan pergi mencari rumah Aqila.


Tiiittt ...!


Hampir saja Adhim menabrak seseorang.


"Maaf-maaf, gue gak sengaja. Apa lo baik-baik aja?" Adhim menghampiri cewe itu dan langsung membantunya bangun. Padahal motor Adhim tidak mengenainya, ya ... tapi mungkin dia kaget dan langsung menghindar dan tak sengaja terjatuh.


"Gak papa. Lain kali hati-hati," cewe itu berdiri sambil mengibas rambutnya yang menghalangi wajahnya.


"Adhim ...." Aqila menerima pelukan itu, dari dalam lubuk hatinya paling kecil, sebenarnya Aqila sangat senang Adhim memeluknya. Tapi, Aqila mengingat kembali Adhim yang sudah menyia-nyiakan cintanya.


"Lepasin gue!" Aqila mendorong kasar tubuh Adhim, sama seperti yang dia lakukan kemarin di sekolah lamanya.


"Ini bisa jadi kesempatan gue," batin Aqila, sepertinya dia memiliki rencana yang bagus.


"Gue bukan Aqila!" ucap Aqila dengan lantangnya.


"Tapi lo beneran Aqila, wajah lo mirip banget sama dia," sahut Adhim menatap Aqila terheran-heran mengapa Aqila mengatakan hal itu.


"Bener ... nama gue bukan Aqila. Nama gue Adhea," jelas Adhea alias Aqila meyakinkan Adhim.


"Kok wajah lo mirip banget sama Aqila?" tanya Adhim bingung.


"Setau gue ya ... ada tujuh orang yang bermuka mirip di dunia ini," jawab Aqila. "Jadi, sekarang mending lo buruan bawa pergi gue dari sini. Gue lagi di kejar sama preman itu. Cepet!" sambung Adhea dan menarik tangan Adhim ke motornya.


"Ya udah, kita ke mana?" tanya Adhim yang masih bingung.


"Ke mana aja terserah lo! Atau nggak ke rumah lo aja," teriak Adhea, Adhim melajukan motornya dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya.

__ADS_1


____________________


"Drik!" teriak Adit, Hendrik menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


"Apa?" tanya Hendrik dengan muka datar.


"Gue denger dari siswa lain kalau Adhim masuk ke rumah sakit, apa dia baik-baik aja?" tanya Adit penasaran.


"Tumben lo nanyain Adhim?" sindir Hendrik sambil mendelik kan mata.


"Apa lo masih curiga sama gue? Tenang aja gue gak sekongkol sama Nadya lagi, sekarang gue sadar. Cinta gue sama Nadya bertepuk sebelah tangan," jelas Adit sedih yang mengingat-ingat kenangan nya bersama Nadya dulu.


"Akhirnya lo sadar juga. Gue juga belajar dari seseorang, bahwa cinta itu tidak harus memiliki," sahut Hendrik yang tersenyum sendiri.


"Lo punya mantan? Siapa?" tanya Adit kepo.


"Lo ternyata kepo juga." Hendrik terkekeh mendengar pertanyaan Adit. "Tapi ... pokonya ada seseorang." sambung hendirk.


"Woy! Serius amat ngobrolnya," kata Rendy mengagetkan keduanya.


"Gue denger denger Adhim masuk ke rumah sakit ya?" tanya Rendi memastikan rumor itu benar.


"Iya."


"Bentar, gue mau angkat telpon dulu." Hendrik mengangkat telpon dari Dokter Sani.


Tak berapa lama kemudian, Hendrik langsung berlari menuju parkiran.


"Si Hendrik kenapa tuh? Mending kita ikutin dia yuk." Karena Adit dan Rendi penasaran, keduanya mengikuti Hendrik berlari menuju parkiran.


Semua murid yang berada di koridor kelas memberikan jalan untuk ketiganya berlarian.


"Drik! Woy! Ada apa?" teriak Adit yang tengah berlari di belakangnya.


"Adhim kabur dari rumah sakit!" jawab Hendrik dengan berteriak. Membuat siswa yang di dekatnya mendengar jelas perkataan Hendrik.


"Ini akan jadi berita besar nih, kita harus sebarin berita ini di grup kelas. Siapa tau aja, gue jadi populer nyebarin berita ini," ucap salah satu siswa kepada temannya.


"Jangan terlalu g'r lo! Tapi, lo ada benernya juga. Kita harus sebarin semua ini." siswa lainnya ikut menyebarkannya di handphone masing-masing, sehingga membuat keributan di grup kelas sekolah ini.


"Yang bener lo?" tanya Rendi ragu.


"Kapan sih gue bohong," jawab Hendrik dan langsung membuka pintu mobilnya.


"Eh ... eh! Kita nebeng di mobil lo aja, gue lagi males bawa mobil nih," jelas Adit yang sedang mengetuk jendela pintu Hendrik.

__ADS_1


"Ya udah, kalian berdua cepet masuk!" keduanya masuk, Hendrik langsung melajukan mobilnya kencang.


__ADS_2