
"Aku akan membalas dendam ayah. Bagaimanapun caranya," gumam Adit, air matanya seketika menetes melihat seorang wanita paruh baya sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit.
🍁🍁🍁
Keesokan harinya ....
Pagi ini langit tidak seperti biasanya, seakan alam sedang merasakan apa yang dirasakan Aqila saat dia mengingat kejadian kemarin.
Kebetulan ayahnya sedang ada di rumah. Pagi ini, dia berangkat ke sekolah bersama dengan ayahnya.
Entah kenapa hari ini Aqila sangat tidak bersemangat pergi ke sekolah, mengingat kejadian kemarin malam dan hari terakhirnya berada di sekolah ini, membuat Aqila frustasi. Dia tidak menceritakan masalahnya kepada kedua orang tuanya karena tidak mau membuatnya khawatir dan berpikir, 'Aku orang tua yang tidak berguna.'
Ingin rasanya berteriak sekencang mungkin, itu pikirnya.
"Hai Aqila," sapa seseorang dari arah belakang.
Aqila menoleh dan menghentikan jalannya. Dia melihat Adit yang sedang tersenyum manis di depannya.
"Adit mau apa lagi?" tanya Aqila ketus.
"Maaf soal kemarin malam. Aku sebenarnya ...." Belum sempat Adit menyelesaikan bicaranya, dari arah samping.
Bug ....
Adhim mendaratkan tangannya tepat ke arah sudut bibir Adit sampai Adit terjatuh.
"Lo apa-apaan sih!" Adit segera berdiri dan menatap Adhim tajam.
"Lo yang apa-apaan. Lo ninggalin Aqila sendiri di tempat itu, lo laki-laki macam apa sih, Dit!" Dari matanya, Adhim menatap penuh kebencian.
"Gue kemarin ada urusan mendadak, jadi gue gak sempat untuk bawa Aqila pulang. Gue juga udah bilang sama dia kalau gue ada urusan. Karena Aqila hilang kesadaran, mungkin dia tidak mengingatnya," jelas Adit, dia mencoba tetap tenang dan tidak terbawa emosi.
"Bukan berarti lo tinggalin di gitu aja. Sebagai laki-laki lo harus jentel," sahut Adhim sambil menarik kerah baju seragam Adit.
"Udah ... udah," Aqila angkat bicara dan melepaskan tangan Adhim dari Adit.
__ADS_1
"Kita pergi aja dari sini." Tanpa menghiraukan Adit, Aqila dengan cepat menarik tangan Adhim menuju koridor kelas.
"Awas aja lo, Dhim," gumam Adit dan pergi dari tempat itu.
"Eh lo liat postingan itu gak? Ternyata dari sikapnya yang lugu dan polos, ternyata dia cewe gitu ya," kata salah satu Siska yang berada di koridor kelas. Suara itu terdengar jelas di telinga Adhim dan Aqila yang sedang berjalan.
"Iya gue juga liat. Udah murahan, genit lagi," sahut siswa lainnya sambil melihat Aqila jijik.
"Kalian kenapa liat Aqila kaya gitu?" tanya Adhim menatap kedua siswa cewe itu tajam.
"Apa lo gak tau? Vidio dia lagi di club malam udah tersebar ke seluruh sekolah," jelas siswa itu sambil melipat tangannya di depan dada.
"Vidio? Maksud kalian apa?" tanya Aqila menatap keduanya bingung.
"Lo liat aja sendiri." Siswa satunya menyerahkan ponselnya kepada Aqila. Aqila melihat di layar ponsel tersebut, dirinya sedang minum minuman beralkohol.
"Aqila ...," gumam Adhim sambil melihat ke arahnya.
"Qila bener gak tau soal ini," ucap Aqila lirih, air matanya sudah membendung di pelupuk matanya.
"Lepasin!" Nadya tiba-tiba mendorong Aqila kasar dari pelukan Adhim. Sontak membuat Aqila terjatuh.
"Apa sih lo?" tanya Adhim heran.
"Aku gak mau kamu deket-deket Aqila lagi," sahut Nadya, dengan cepat dia memeluk Adhim dengan erat.
"Woy! Lo kasar banget sama Aqila," kata Rendi berteriak dan langsung menghampiri Aqila.
"Dhim, lo sebaiknya jagain Nadya supaya dia gak jahatin Aqila lagi." Baru satu langkah Adhim menuju Rendi dan Aqila, Rendi sudah mencegahnya sambil berkata, "Dan satu lagi, sekarang lo gak usah deket-deket sama Aqila lagi. Gue gak mau Aqila kenapa-napa hanya gara-gara deket sama lo, ngerti!" Kemudian Rendi menarik tangan Aqila pergi dari tempat itu.
"Adhim, kita ke kantin yu," ajak Nadya yang masih memegang tangan Adhim.
"Lo aja, gue harus pergi ke kelas," ucapnya ketus sambil berjalan menuju kelasnya yang tidak jauh dari tempat itu.
"Selanjutnya, akan terjadi perang besar," gumam Nadya, menatap Adhim dari kejauhan. Sudut bibirnya menaik.
__ADS_1
🍁🍁🍁
"Kepada saudari Aqila Anatasya dari kelas X IPA 4, di tunggu kehadirannya di ruang kepala sekolah," kata salah satu guru sambil menggunakan pengeras suara yang berada di ruang guru, suaranya terdengar ke seluruh sekolah.
Setelah mendengar itu, Aqila langsung berjalan menuju ruang kepala sekolah, di ikuti oleh teman yang lainnya.
"Guys, Aqila di panggil tuh. Kita liat aja yu," ucap Nadya ke semua siswa yang berada di koridor kelas.
Siswa yang berada di koridor kelasnya masing-masing, berlarian menuju ruang kepala sekolah.
"Ngapain kalian semua di sini?" tanya Hendrik sang calon ketua OSIS kepada semua siswa.
"Terserah kita mau apa, bukan urusan lo juga, kan?" sahut Nadya yang berada di barisan paling depan di bandingkan dengan para siswa lainnya.
"Ini jelas urusan gue. Gue sebagai calon ketua OSIS di sini harus negur kalian semua, atas kesalahan yang kalian perbuat," jawab Hendrik dengan lantangnya.
"Aqila buat masalah seberan itu, kenapa lo gak negur dia? Lagi pula baru jadi calon, kan? Belum jadi ketua aja udah sok belagu. Udah lah jangan larang kita, kita gak bakal pergi dari sini sebelum Aqila keluar," gerutu Nadya sambil menetap sinis Hendrik.
Tak lama kemudian, Aqila keluar dari ruang kepala sekolah dengan wajah sedih.
"La, lo kenapa?" tanya Hendrik dan langsung menghampirinya.
Qila tidak menjawabnya, dia hanya diam terpaku sambil mengingat percakapannya tadi dengan kepala sekolah.
Flashback
"Saya dengar dan lihat langsung dari siswa lain, bahwa vidio kamu yang berada di club malam sudah tersebar di seluruh sekolah ini, masalah yang kamu buat sebelumnya belum selesai, kamu sudah buat masalah lainnya. Saya kira kamu itu anak baik-baik, tapi ternyata saya salah. Saya sudah tentukan kalau kamu di DO dari sekolah ini. Jujur, sebenarnya saya sangat berat untuk mengeluarkan kamu dari sini karena ibu kamu adalah teman dekat saya dulu. Tapi demi menjaga nama baik sekolah ini. Terpaksa, Kamu akan saya DO," jelas Pak Fahri dengan rasa kecewa.
"Saya minta maaf, saya benar-benar tidak tau soal semua masalah yang saya buat, Pak," ucap Aqila sambil menundukkan kepalanya.
"Apa kedua orang tua kamu sudah tau soal ini?" tanya Pak Fahri memastikan.
"Belum Pak," jawab Aqila seadanya.
"Saya gak tau apa yang nanti akan terjadi, kalau kedua orang tua kamu tau masalah ini," ucap Pak Fahri, dia tidak menyangka bahwa anak teman dekatnya yang ia kenal sangat polos dan lugu itu membuat kesalahan sebesar ini.
__ADS_1
Setelah mereka berbincang bincang, Aqila pun keluar dengan perasaan campur aduk. Aqila berpikir kalau dia tidak berguna menjadi seorang anak.