Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
S-2. Hilang Ingatan


__ADS_3

"Makasih udah nyelamatin Adhim." Tiba-tiba Aqila memeluk Kiren sambil menangis, sontak membuat Kiren terkejut.


"I– iya sama-sama," jawab Kiren dan membalas pelukan Aqila.


"Apa dia belum sadar juga?" tanya Aqila dan melepaskan pelukannya.


"Udah, barusan aja dia sadar. Tapi kita masih nggak boleh masuk," jelas Fatih dan duduk kembali.


Tak lama kemudian Tiara keluar dari kamar tersebut dan ia ingin mempersilahkan yang lainnya untuk masuk. Tapi karena Aqila berada di sana, niatnya untuk mempersilahkan yang lain menjenguk Adhim di kubur dalam-dalam di hatinya.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Tiara ketus sambil menghapus sisa air matanya yang masih membekas di kedua pipinya.


"Aqila mohon, Tante. Kali ini aja, Aqila mau ketemu sama Adhim," ucap Aqila memohon pada Tiara.


"Nggak! Tante nggak ijinin kamu ketemu sama Adhim! Adhim masuk ke rumah sakit ini, semua gara-gara kamu sama tunangan kamu itu!" bentak Tiara dan menepis tangan Aqila yang memegang kedua tangannya.


"Mending sekarang kamu pergi sebelum saya panggil security di sini buat ngusir kamu!" usir Tiara sambil menunjuk ke arah pintu masuk rumah sakit ini.


"Mending kita pergi dari sini Aqila!" Fatih dan Hans menarik tubuh Aqila menuju pintu lift.


"Lepasin Aqila! Aqila mau ketemu sama Adhim! Lepasin!" bantah Aqila sambil mencoba melepaskan tangannya dari Hans dan Fatih.


Tiara dan Kiren langsung masuk ke ruangan tempat Adhim di rawat dan mengunci pintunya.


"Aqila dengerin gue! Gue tau lo mau banget ketemu sama Adhim. Tapi ini bukan waktu yang tepat! Lo bisa ketemu dia kalau Adhim kembali sekolah, bahkan setiap hari lo bisa liat Adhim! Lo harus sabar, La!" jelas Hans sambil memegang kedua pundak Aqila.


Aqila hanya mengangguk dan menangis tak berdaya.


"Mending kita pulang, gue yang anter. Tih, lo jaga di sini. Kalau ada apa-apa langsung telpon gue, oke," sambung Hans dan menggandeng tangan Aqila menuju pintu lift.


"Siap. Kalian hati-hati ya," sahut Fatih, Hans dan Aqila berjalan menjauhi Fatih.


Setelah sampai di depan rumah Aqila, ia masih tampak murung dan berjalan ke dalam rumahnya.


"Sebenarnya lo milih siapa, La? Adhim atau tunangan lo, Jio?" gumam Hans yang melihat aqila diam-diam dari dalam mobil.


"Kamu udah pulang?" ucap Asti yang sedang memasak makan siang untuknya dan Aqila sekaligus membuat kue untuk pesanan dan sebagai cemilan di rumahnya.

__ADS_1


"Udah, Mah," jawab Aqila pelan.


"Kamu habis nangis ya?" tanya Asti memastikan. Aqila tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menatap Ibu nya.


"Aku nggak papa kok. Aku juga nggak ke rumah sakit," ucap Aqila dan memilih berjalan dan duduk di sofa.


"Mama nggak nanya kamu dari mana, kenapa kamu bilang nggak pergi ke rumah sakit? Apa jangan-jangan kamu ke rumah sakit untuk jenguk Adhim?" tutur Asti yang membawa sepiring kue di tangannya.


"Mama udah bilang kan sama kamu. Lupain Adhim, kamu sekarang udah mau tunangan loh sama Jio. Kamu harus inget itu," jelas Asti dan memakan kue yang di bawanya tadi.


"Iya. Aku inget kok Mah, aku cuma mau jenguk Adhim buat liat kondisinya aja," jelas Aqila sambil mengikuti Ibu nya yang memakan kue.


🍁🍁🍁


"Adhim." seru Tiara dan berjalan bersama Kiren.


"Jadi nama gue Adhim? Kenapa mereka bisa tau nama gue?" batin Adhim sambil menatap keduanya bingung.


"Kalian siapa?" tanya Adhim membuka perbincangan.


"Ini Mamah, Adhim. Kenapa kamu gak kenal sama Ibu kamu sendiri?" tanya Tiara yang khawatir dengan kondisi Adhim.


"Dokter! Kenapa Anak saya tidak mengenal saya sendiri? Apa yang terjadi?"


"Akibat benturan yang ada di kepalanya, Anak Ibu mengalami amnesia anterograde. Ibu tenang saja, Anak Ibu pasti akan kembali ingatannya," jelas Dokter yang ingin memeriksa Adhim.


Amnesia anterograde. Pada kondisi ini, penderita akan sulit membentuk ingatan baru. Gangguan ini dapat bersifat sementara atau permanen.


Tiara akhirnya bisa bernapas lega untuk itu, tapi tentang amnesia yang Adhim alami sekarang. Ia masih khawatir dengan itu.


"Tapi saya tidak bisa mengatakan apakah ingatannya akan kembali dalam kurun waktu yang singkat atau tidak," tutur Dokter itu yang sudah memeriksa Adhim.


"Tapi kenapa, Dok?' tanya Kiren yang sama-sama khawatir.


"Orang yang mengalami amnesia ini bisa saja ingatannya kembali dalam kurun waktu satu hari, satu Minggu, atuh satu bulan, bahkan bertahun-tahun."


"Tapi saya sarankan ibu tidak memaksanya untuk mengingat hal-hal yang bisa membuatnya stres. Kalau itu terjadi, maka bisa saja amnesianya semakin parah dan menjadi amnesia permanen. Saya permisi dulu," sambungnya dan keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Tiara mengikuti Dokter itu dan berbincang kembali di luar ruangan.


"Maaf, Dok. Saya mau tanya, kenapa Anak saya masih mengingat nama Aqila, sedangkan dia tidak mengenal saya?"


"Mungkin Aqila adalah orang yang terus ada di pikirannya selama ini, jadi Adhim mengingatnya sampai sekarang," jawab Dokter tersebut dan pergi meninggalkan Tiara di depan ruangan itu.


"Kamu terus mikirin Aqila, sampai nggak kenal sama Mamah, Adhim ..." gumam Tiara sedih dan kembali masuk ke ruangan tersebut.


"Ikut, Tante." Tiara menarik tangan Kiren menjauh dari Adhim.


"Ada apa, Tan?" tanya Kiren.


"Kamu mau kan bantu Tante lagi?" tanya Tiara sedikit memohon.


"Apapun Tante," sahut Kiren dan tersenyum.


"Tante mau kamu nyamar jadi Aqila, ya. Tante mohon!" Tiara memegang kedua tangan Kiren sambil meneteskan air matanya.


"Tapi kenapa, Tante?"


"Pokonya kamu harus nyamar jadi Aqila, Tante mohon sama kamu. Kamu mau, kan?" tanya Asti memastikan.


"I– iya, Tante. Aku mau jadi Aqila," jawab Kiren ingatannya kembali ke cewek yang tadi memeluknya.


"Bukannya Aqila cewek yang tadi meluk gue ya? Ternyata dia Deket banget sama Adhim," pikir Kiren dan berjalan bersama Tiara menuju ranjang Adhim.


Saat Kiren dan Tiara hendak berjalan ke Anjang Adhim, Adhim hendak menyabut jarum yang ada di tangannya dan ingin melarikan diri.


Untung saja Tiara sempat melihatnya dan mencegah Adhim.


"Kamu mau kemana, Dhim?" tanya Tiara sambil memegang tangan kiri Adhim yang ingin mencabut jarum tersebut.


"Aku mau cari Aqila, Mah! Pasti dia ada di sini, kan?" sahut Adhim.


"Aqila ada di sini kok. Ini Aqila." Kiren berjalan ke hadapan Adhim sambil tersenyum.


"Ini Aqila?" tanya Adhim antusias.

__ADS_1


"Iya, ini gue Aqila," jawab Kiren yang memegang kedua tangan Adhim.


Adhim langsung memeluk Kiren erat. Sontak membuat Kiren tertegun.


__ADS_2