Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
Cemburu


__ADS_3

 Hari ini Aqila kembali sekolah, dia tidak bisa berhenti membayangkan Adhim. Cowok itu telah membuat hatinya terus ingin mendekati dan mendapatkannya.


 


"Kayak nya ada yang lagi seneng nih," goda Asti. Aqila menuruni tangga.


"Qila kan setiap hari emang kayak gini." Aqila nyengir. Aqila menyalami mama, papa dan neneknya.


"Kamu nggak sarapan dulu?" tanya Asti.


"Gak sempet, Mah," kata Aqila terburu-buru.


"Tapi ini masih pagi banget," ucap Asti.


"Ini buat Qila udah telat, Mah ...."


"Ya udah ... hati-hati di jalan," pesannya.


Aqila berjalan cepat menuju pintu depan. Suasana sekolah pagi ini masih sepi.


"Aqila lo mau ke mana?" tanya Hendrik yang tiba-tiba datang dari sisi kiri.


"Hendrik ngagetin Qila aja. Qila mau ke kelas Adhim," jawabnya polos.


"Mau apa ke kelas Adhim?" tanya Hendrik kepo.


"Mau nganterin sarapan ini, soalnya Qila waktu itu udah janji kalau Qila bakal nganterin sarapan setiap hari buat Adhim," jelasnya.


"Mendingan buat gue aja," katanya memaksa.


"Gak boleh ini buat Adhim," larang Aqila.


"Gue bercanda." Hendrik tertawa.


"Gak lucu," kata Aqila mendelik matanya.


"Gitu aja marah," ejek Hendrik.


"Qila juga bercanda." Aqila pun tertawa.


"Aqila sini." Hendrik menarik tangan Aqila untuk duduk.


"Apa?"


"Kenapa lo suka sama Adhim, dia udah beberapa kali nyakitin hati lo, tapi lo masih aja deketin dia." Hendrik bingung.


"Karena Aqila cinta sama Adhim," ucap Aqila mengenai perasaannya.


"Gue cuman kasihan sama lo terus di sakitin sama tu orang." Hendrik merasa kasihan pada Aqila.


"Qila gak papa kok tenang aja." Mencoba menenangkan Hendrik.


Adhim yang dari tadi mengamati mereka berdua langsung menghampiri mereka dan menarik tangan Aqila.

__ADS_1


"Adhim ... mau bawa Aqila ke mana?" tanya Aqila kaget. "Adhim tangan Aqila sakit," keluh nya.


"Udah diem bawel banget!" bentak Adhim, Aqila tidak bisa berbuat apa-apa.


Adhim membawa Aqila ke rooftop.


"Lo jangan deket-deket dia lagi ngerti!" kata Adhim menatap Aqila tajam.


"Kenapa? Hendrik ...."


"Gue bilang jangan deket-deket sama dia, ngerti gak sih lo!" bentak Adhim.


"I—iya," jawabnya gugup. Aqila menundukkan kepala.


"Adhim ... tangan Aqila sakit," ucapnya lirih. Adhim langsung melepaskan genggaman tangannya, Aqila menangis.


"Cengeng," ucapnya tak peduli.


"Kenapa Adhim bersikap kasar sama Qila?Kemarin malam Adhim nurutin permintaan Qila tapi sekarang Adhim bersikap seolah Aqila adalah musuh Adhim. Hiks ... hiks ...." Mencoba menjelaskan.


"Kalau lo gak suka ya udah jauhin gue. Simpel, kan?" Adhim meremehkan Aqila.


"Qila cuman mau ngasih kotak makan ini buat Adhim." Aqila menyodorkan kotak makan itu, Adhim menerimanya tapi dia langsung membuangnya.


"Ke— kenapa Adhim buang kotak makannya?" Aqila tidak tahan melihat sikap Adhim, dia berlari pergi dari rooftop meninggalkan Adhim sendirian di sana.


'Adhim jahat banget sama Qila,' kata nya dalam hati. Tiba-tiba dia menabrak Hendrik


"La, lo kenapa?" tanya Hendrik yang melihat Aqila menangis. Aqila tidak menjawab, dia langsung berlari menuju kelasnya.


Tanpa pikir panjang Hendrik menghampiri Adhim di rooftop.


"Woy," panggil Hendrik sambil berteriak.


Adhim menoleh sinis. "Lo apain Aqila? Sampai dia nangis kayak gitu?" tanya Hans kesal.


"Tanya aja sama orangnya." Adhim menghampiri Hendrik. "Bukannya lo suka sama dia?" Sudut bibir Adhim naik.


"Iya, gue suka sama Aqila emangnya kenapa? Lo cemburu, hah!" ejek Hendrik.


"Awas aja Lo!" Adhim menarik kerah baju Hendrik. Adhim hari ini tudak mau buat masalah sama Hendrik, akhirnya Adhim pergi meninggalkan Hendrik.


'Gue gak bakal nyerah gitu aja, Dhim,' batin Hendrik kesal. Lalu ia pun meninggalkan rooftop dan berjalan menuju kelasnya.


 


🍁🍁🍁


 


Aqila berlari menuju kelasnya, di sana sudah ada Siska yang sedang memainkan handphone nya. Saat dia mau ke kantin Siska menabrak Aqila yang tengah berlari sambil menangis itu. Siska kaget melihat sahabatnya menangis dan mencoba untuk menceritakan permasalahannya.


"La, lo kenapa nangis? Gue tau, pasti gara-gara Adhim lagi, kan? Tu orang ya, emang bener-bener gak punya hati apa?" katanya kesal. "Gue labrak aja dia biar tau rasa," sambungnya, emosinya sudah sampai ke ubun-ubun.

__ADS_1


"Siska jangan ...," larang Aqila menggelengkan kepalanya dan menahan tangan Siska. "Ini bukan salah Adhim kok ini salam Aqila," katanya lirih.


"Emang masalahnya apa?" tanya Siska, nadanya rendah dari sebelumnya.


"Jadi gini .... Tadi pagi Qila mau ngasih kotak makan ini ke Adhim, nah di situ Qila ketemu sama Hendrik dan akhirnya kami ngobrol. Aqila nggak tau kalau Adhim lagi merhatiin Qila sama Hendrik, pas Qila sama Hendrik lagi ketawa Adhim datang dan menarik tangan Qila. Terus di bawa ke rooftop, kata Adhim Qila gak boleh deket-deket sama Hendrik, gak tau kenapa. Qila nolak karna Hendrik udah baik sama Qila, di situ Adhim marah dan ngebentak Qila, kotak makan yang Qila kasihin juga Adhim buang. Qila di situ sedih dan langsung ninggalin Adhim sendirian di rooftop," ceritanya panjang lebar.


"Kalau gue pikir-pikir sih ya ... kenapa Adhim harus marah kalau lo deket sama Hendrik?" bingung Siska.


"Qila juga gak tau kenapa Adhim begitu kasar sama Qila. Padahal kemarin Qila sama Adhim jalan-jalan ke pasar malam," jawabnya dan menceritakan kembali kejadian semalam.


"Lo pergi ke pasar malam? Sama tu orang? Gak salah? Lo gak di apapain kan kemaren sama tu orang?" tanya Siska berulang kali.


"Qila jadi bingung harus jawab yang mana dulu," ucap Aqila. Dia berhenti menangis dan mengusap air mata yang dari tadi membasahi pipinya.


"Ya ... jawab semuanya."


"Iya .... Qila gak bohong. Malahan kemarin malam, Adhim baik banget sama Qila sampai di beliin kembang gula," katanya senang.


"Gue semakin penasaran sama sikap dia, apa sih yang dia mau?" tanya Siska kesal dan bingung.


Tiba-tiba Hendrik datang dan menghampiri mereka berdua.


"Aqila lo gak papa, kan?" tanya Hendrik khawatir.


"Gak kok, Qila gak papa."


"Emang ya tu orang brengsek," kata Hendrik kesal.


"Udah. Aqila lagi gak mau bahas itu lagi, udah ya." Aqila berjalan ke dalam kelasnya di susul oleh Siska di belakang. Hendrik yang melihat itu pun pergi juga dari sana.


 


🍁🍁🍁


 


"Kenapa gue tadi bersikap kasar ya sama Aqila? Apa gue cemburu melihat Hendrik sama Aqila berdua? Ah ... enggak mungkin, gue gak boleh cemburu sama dia," bisiknya pelan sambil mengacak-ngacak rambutnya.


"Dhim, lo kenapa bengong?" tanya Hans menepuk bahu Adhim.


"Gak," jawabnya singkat.


"Lo berantem lagi sama Aqila ya?" tebak Hans.


"Sok tau lo," gerutu Adhim.


"Gue cuman nebak aja." Hans membela diri


"Lo jangan terlalu banyak berantem ntar suka loh," ejek Fatih.


"Diem Lo! Lo sama aja kaya Hans," bentak Adhim.


"Santai kali," ucap Fatih.

__ADS_1


Bel masuk berbunyi semua murid masuk ke kelasnya masing-masing untuk mengikuti KBM (Kegiatan Belajar Mengajar).


Adhim tidak fokus belajar karena terus memikirkan Aqila, dia merasa bersalah atas tindakannya tadi pagi, dia berencana untuk bicara baik-baik dan menjelaskan kepada Aqila kalau dia merasa bersalah atas tindakan nya tadi pagi.


__ADS_2