
"Lo harus ikut gue nanti malam. Oke," teriak Adit dari dalam mobil sambil melihat Aqila yang sudah keluar dari jendela mobil miliknya.
"Mau kemana? Qila gak mau," tolak Aqila mentah-mentah. Kedua tangannya di simpan di depan dadanya.
"Kalau gak mau, gue akan ...." Adit tidak melanjutkan perkataannya. Dari nadanya, dia seperti ingin mengancam Aqila.
"Mau apa? Mau culik Aqila, gitu?" sahut Aqila yang masih terpaku di tempatnya sambil menatap Adit sinis.
"Gue gak mau tau, pokonya harus ikut," kata Adit penuh penekanan.
"Pokonya Aqila ...." Belum sempat Aqila membalasnya, Adit sudah melajukan mobilnya pergi.
"Tunggu aja sampai besok, Qila gak akan mau jalan sama Adit," gumam Aqila sambil melihat mobil Adit menjauh darinya.
🍁🍁🍁
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Aqila masih dengan memakai pakaian jins dan kaos berwarna biru, sekali-kali mendengarkan musik sambil berbaring di atas ranjangnya.
"Aqila di bawah ada teman kamu," kata Asti dari balik pintu kamar Aqila.
"Aqila ...." Kali ini Asti teriak, mungkin suaranya terdengar sampai lantai dasar.
"Aqila kamu dengar gak?" Asti membuka pintu dan melihat Aqila sedang terbaring dengan handset di kedua telinganya.
Asti menghampiri Aqila dan mencabut salah satu handset dari telinga Aqila.
"Kamu ini ya," ucap Asti sambil menggelengkan kepalanya pelan melihat anak semata wayangnya itu.
"Eh, Mamah. Ada apa, Mah?" tanya Aqila dan langsung bangkit dari tidurnya.
"Dari tadi mamah manggil kamu, tapi kamunya nggak nyahut-nyahut. Di bawah ada teman kamu tuh. Udah siap-siap sana, bukan tidur terus," jelas Asti. "Mamah tunggu di bawah," sambung Asti dan berjalan meninggalkan kamar Aqila.
"Temen? Siapa?" gumam Aqila, Aqila langsung turun ke bawah untuk memastikan siapa yang datang. Dia segera berjalan menuju ruang tamu dan menemukan seorang cowok berpakaian rapi tengah duduk di sofa dengan di temani berbagai hidangan di depannya.
"Adit!" gumam Aqila kaget. Aqila mengernyitkan dahinya. 'Qila pikir dia gak akan datang."
Aqila sempat terpaku di tempat saat melihat teman yang di maksud mamahnya itu adalah Adit. Orang yang baru di kenalnya tadi pagi, sudah mengajaknya jalan. Dengan cepat Aqila menarik tangan Adit menuju depan rumahnya.
__ADS_1
"Qila kan udah bilang, kalau Qila gak mau jalan sama Adit, lagi pula kita baru aja kenal, Adit udah ajak jalan aja," kata Aqila mendengus pelan sambil menepuk dahinya pelan.
"Gue gak mau tau, lo harus ikut sama gue," tukas Adit memaksa. Karena Aqila tidak mau memperpanjang masalah ini, dia akhirnya meninggalkan Adit di luar dan berjalan menuju kamarnya untuk melanjutkan kegiatannya tadi.
"Gue gak akan pergi sebelum lo ikut sama gue, La," kata Adit sambil mendongakkan kepalanya ke arah jendela kamar Aqila.
Sudah hampir 2 jam Adit menunggu Aqila di depan pintu rumah Aqila. Aqila sesekali melihat dari jendelanya, menatap ke arah Adit yang sedang berdiri sambil bersandar di tembok.
Karena Aqila tidak tega melihat Adit. Dengan segera Aqila berjalan menuruni satu per satu anak tangga dan berlari ke luar rumah.
"Kenapa masih di sini? Kan Qila bilang, Qila gak mau jalan sama Adit," ucap Aqila sambil berdiri di sampingnya tanpa menoleh sedikitpun.
"Pokonya gue akan tunggu lo sampai lo mau," sahut Adit, dia membalikkan badannya dan sekarang berhadapan dengan Aqila.
Karena Aqila tidak punya ide agar tidak jalan bersama Adit, akhirnya dia terpaksa berjalan menuju mobil milik Adit.
"Kenapa bengong? Katanya mau jalan, ya udah ayo," kata Aqila yang sudah berada di samping mobil Adit.
"Eh! Iya." Tampak senyum mengembang di bibir Adit. Adit menyusul Aqila dan keduanya masuk ke dalam mobil.
Mobil Adit berhenti di sebuah club malam yang ramai dengan remaja-remaja seumurannya.
"Udah ayo!" Adit keluar terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Aqila.
Keduanya masuk berdampingan, terlihat semua orang sedang menikmati malamnya. Sebelumnya Aqila tidak pernah lihat apalagi mengunjungi club malam.
"Dit, lo bawa siapa lagi hari ini?" Tanya salah satu seorang cowok, mungkin itu teman Adit. Dari baunya, sudah tercium aroma alkohol.
"Kenalin ini teman gue, namanya Aqila," cowok itu mengulurkan tangannya di hadapan Aqila, Aqila membalas uluran tangan cowok itu.
Tanpa di sadari, tiba-tiba Aqila di tarik menuju pelukan cowok itu. Dengan segera Aqila mendorongnya dengan sekuat tenaga.
"Jangan coba pegang!" bentak Aqila, salah satu jarinya menunjuk ke arah cowok itu.
"It's okay, tapi biar gue anter keliling tempat ini dulu," sahut cowok itu sambil mencengkram tangan Aqila.
"Lepasin gak!" Aqila berusaha melepaskan cengkraman cowok itu, tapi malah semakin kuat.
__ADS_1
"Udahlah bro, jangan gangguin dia," Adit angkat bicara, dia kemudian mengajak Aqila menuju tempat duduk yang berada di pojok club itu.
"Lo tunggu di sini, gue mau ke sana sebentar." Adit berjalan ke tempat pemesanan minuman, dia memesan 2 botol minuman.
Setelah memesan minuman, Adit kembali ke tempat duduknya dan memberikan segelas minuman itu kepada Aqila.
"Apa gak ada jus atau air putih aja gitu?" tanya Aqila dengan polosnya. Maklum, dia sebelumnya belum pernah melihat apalagi mengunjungi *club malam bahkan mendengar juga pun baru sekarang.
"Di sini gak ada jus ataupun air putih. Adanya cuman ini, udah minum aja*." Adit menggeleng pelan melihat Aqila yang begitu polosnya, dia memberikan segelas minuman yang mengandung alkohol itu kepada Aqila. Aqila baru melihat bagaimana rupa minuman tersebut.
Aqila tampak ragu meminumnya, dia tidak Mau minum minuman sembarangan. Dia hanya melihat Adit yang tengah meminum minuman beralkohol itu.
"Kenapa diam? Minum aja, gak papa kok," ucap Adit yang sudah menghabiskan dua gelas.
Melihat Aqila yang masih terpaku diam, Adit akhirnya memberikan minuman itu ke mulut Aqila. Minuman itu membuat Aqila menjadi setengah tersadar.
Siapa yang menyangka, kalau Nadya dan Adhim juga berada di tempat yang sama. Entah ini kebetulan atau sudah di rencanakan.
Adit kemudian menarik tangan Aqila untuk di ajaknya menari bersama. Dengan kesadaran yang tidak sepenuhnya, Aqila menuruti perkataan Adit dan menari bersama.
Hari semakin gelap, Aqila sudah banyak minum. Sejak tadi, Aqila tidak melihat keberadaan Adit di sana. Terpaksa Aqila menunggu di club malam itu sendirian, tanpa ada seorangpun yang mengenalinya.
Saat Adhim tengah berkeliling tempat itu, dia melihat seorang cewe duduk sendirian sambil meminum beralkohol itu. Adhim menyipitkan matanya agar lebih jelas.
"Itu .... Aqila!" Adhim tidak menyangka kalau cewe yang dia kenal polos, ada di tempat yang seperti ini.
"Aqila. Lo ngapain di tempat ini? Tempat ini gak baik buat lo, La," kata Adhim sambil duduk berhadapan dengan Aqila.
"Adhim ... tadi Qila ke sini sama Adit," jelas Aqila lirih, sepertinya Aqila terlalu banyak minum. Sehingga kesadarannya hilang.
"Aqila! Gue akan bawa lo pulang." Adhim memapah Aqila keluar dari tempat itu dan mengantar Aqila pulang.
Dengan cepat Adhim melajukan motornya menyusuri jalan raya. Tak butuh waktu lama, Adhim dan Aqila sudah berada di depan gerbang rumah Aqila. Adhim memapahnya kembali menuju kamarnya, tidak ada siapa-siapa yang melihat mereka berdua.
Setelah sampai kamar Aqila, Adhim membaringkan Aqila dan melepas high heels yang di pakai Aqila.
"Maafin Qila, Qila gak bermaksud untuk ke tempat itu," ucapnya lirih. Tak berlangsung lama, Aqila sudah di alam bawah sadarnya.
__ADS_1
"Gue akan beri pelajaran tu orang, La. Gue janji," gumam Adhim sambil melihat Aqila lekat-lekat.