
"Bi, biar aku bantu," ucap Aqila dan langsung merebut pisau yang di pegang Bi Nur.
"Nggak usah, Non. Biar bibi aja. Non tunggu aja di meja makan," cegahnya dan merebut kembali pisau itu.
"Kalau bibi tetap gak mau, aku gak mau makan!" ancam Aqila, padahal itu hanya alasannya untuk bisa membantu Bi Nur memasak.
"Non ini, sudah baik, cantik, pinter masak lagi. Jarang-jarang ada anak muda kayak Non Aqila ini," puji Bi Nur menatap Aqila kagum.
"Bibi kenapa liatin aku kaya gitu?" tanya Aqila yang merasa sedang di awasi.
"Non pacarnya Tuan, ya?" tanya Bi Nur memastikan.
"Bukan, saya cuman temen sekelasnya. Kenapa Bibi berpikiran seperti itu?" tanya Aqila balik sambil menatap Bi Nur heran.
"Soalnya, baru pertama kali ini, Tuan membawa perempuan masuk ke rumah ini," jelas Bi Nur. Aqila terkekeh sendiri mendengar perkataan Bi Nur.
"Non beruntung kenal sama Tuan, dia sebenarnya baik, orangnya juga asik kalau di ajak bicara. Tapi, karena Tuan kurang kasih sayang dari orangtuanya, sikapnya menjadi dingin dan orangnya tidak terbuka. Tapi, dia pernah cerita sama Bibi soal Non Aqila," sambung Bi Nur.
"Dia cerita apa aja, Bi?" tanya Aqila, sikap keponya mulai muncul.
"Banyak. Waktu keluarga ini pindah ke sini, tuan muda cerita sama Bibi, kalau dia ketemu sama perempuan cantik, baik lugu lagi. Dulu, tuan hanya berniat pindah ke sekolah SMA Nusantara untuk menemui non Nadya. Non Nadya dulu adalah pacar tuan muda, karena keadaan memisahkan mereka, terpaksa non Nadya harus pindah ke Indonesia untuk melanjutkan pendidikannya. Tapi, setelah beberapa tahun, non Nadya tidak ada kabar sama sekali. Akhirnya tuan muda memutuskan untuk pindah ke Indonesia, untuk menemui non Nadya. Saat tuan muda menemuinya, dia tidak menganggap tuan adalah pacarnya, bibi juga tidak tau apa alasan non Nadya melakukan itu. Tuan yang sekarang, bukan tuan yang dulu. Tuan sudah berubah menjadi lebih peduli terhadap sesama dan mencoba mengikhlaskan. Tuan juga pernah cerita sama Bibi, kalau dia suka sama Nok Aqila, dan berkat Non Aqila, tuan jadi berubah menjadi lebih baik," jelas Bi Nur panjang lebar. Bi Nur sudah lama bekerja di keluarga Henandra, sehingga dia tau semua yang di alami keluarga itu.
🍁🍁🍁
Dengan perasaan yang masih bersalah. Adhim memilih mengeluarkan semua kekesalannya pergi ke tempat gym yang berada tidak jauh dari SMA Nusantara.
Karena suasana di sana sedang sepi, dia bisa sepuasnya mengeluarkan amarah yang sudah menyelimuti pikirannya itu.
Tanpa menggunakan Hand Wrap, kain panjang yang dililitkan di tangannya. Adhim langsung memukul salah satu samsak dengan sekuat tenaga.
"Aaarrgg ...! Gue akan ngelakuin apapun, agar lo percaya sama gue, Aqila!" ucapnya di tengah memukul samsak.
__ADS_1
Adhim tidak berhenti memukul benda yang berukuran panjang 150 cm dan lebar 30 cm itu dengan tangan kosong, sehingga membuat kedua tangannya memerah dan tubuhnya mengeluarkan banyak keringat.
Tapi menurutnya, itu bukan apa-apa di bandingkan dengan rasa sakit yang di rasakan Aqila, orang yang di sukainya itu.
____________________
"Assalamu'alaikum," salam Siska dan Fatih kompak.
"Wa'alaikumussalam," jawab seseorang dari balik pintu.
"Kalian pasti teman Adhim, kan?" tanya wanita yang masih terlihat muda.
"Iya, Tante," balas Siska sambil tersenyum. "Apa Adhim ada di rumah?" sambungnya.
"Adhim? Kayaknya masih di sekolah, apa kalian tidak bertemu Adhim di sekolah?" tanya Tiara balik, dia khawatir kalau Adhim bolos sekolah.
"Ada kok Tante, cuman tadi kebetulan pulang lebih awal. Jadi kami ke sini, kirain Adhim udah pulang," jelas Siska beralasan. Salah satu tangannya menyenggol Fatih.
"Kalau begitu, tunggu di dalam aja," suruh Tiara.
"Nggak usah Tante. Kami pamit pulang aja. Assalamu'alaikum." Keduanya melangkah pergi dari rumah Adhim.
"Gimana ini? Adhim nggak ada di rumah, Aqila juga gak tau di mana," ucap Siska semakin khawatir.
"Kita cari aja di rumah Aqila, kalau gak ada juga, kita balik ke sekolah lagi. Siapa tau mereka udah di sana, kan?" usul Fatih. Siska mengangguk saja karena sekarang dia tidak bisa berpikir jernih.
____________________
"Sayang, gimana kabar mamah kamu? Apa masih nggak sadar juga?" tanya Nadya memastikan.
"Masih tetap sama, dia belum sadar juga," jawab Adit dengan wajah sedih.
__ADS_1
"Maaf ya, aku nggak bisa ngejenguk mamah kamu. Soalnya ada urusan yang harus aku kerjain. Gak papa, kan?" tanya Nadya, dia tau kelamahan Adit yaitu Adit terlalu menyayangi dirinya.
"Iya gak papa, kamu bisa jenguk kapan aja," sahut Adit, Nadya sudah berada di dekapannya.
🍁🍁🍁
Tidak menunggu waktu lama, makanan sudah terhidang di meja makan, tinggal memilih apa yang akan di makan.
"Kita makan cuman berdua, kenapa makanan sebanyak ini? Ini terlalu berlebihan!" Mata Aqila membulat melihat makanan yang di anggapnya banyak tertata rapih di atas meja.
"Udah jangan banyak ngomong! Lo mau apa aja di sini ada semuanya. Kalau gak habis, tinggal kasih ke tetangga sebelah," jelas Rendi sambil mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauk.
"Orang kaya mah bebas," gumam Aqila.
"Apa?!" tanya Rendi yang mendengar suara keluar dari mulut Aqila.
"Hah?! Ah, nggak papa."
Keduanya makan bersama, rasa canggung mulai menyelimuti keduanya.
"Apa Rendi selalu sendiri kaya gini?" tanya Aqila sambil memutar bola matanya ke sekeliling rumah besar itu. Tidak ada siapapun di sana, kecuali para pelayan dan membantu yang sedang membereskan rumah.
"Gue udah biasa hidup sendiri. Dari dulu, nyokap sama mokap gue sibuk kerja, gak pernah sekalipun punya waktu sama gue. Mereka sering pulang tengah malam dan pagi buta berangkat, kalau gak kerja, pasti alasannya cape. Gitu seterusnya. Kadang, mereka pergi ke luar kota bahkan ke luar negri karena urusan pekerjaan. Lo beruntung punya orangtua yang perhatian sama lo. Sedangkan gue, gue gak seberuntung lo. Gue selalu berpikir, kalau gue seperti anak yang ditelantarkan orangtua gue sendiri," jelas Rendi sambil mengingat massa lalunya.
Aqila sangat mengerti apa yang di rasakan Rendi sekarang. Ternyata masih banyak anak yang ingin berada di tempat Aqila saat ini, termasuk Rendi. Begitu pikirnya
"Rendi jangan berpikiran begitu. Mungkin, kedua orangtua Rendi ngelakuin ini buat massa depan Rendi," ujar Aqila mencoba tidak salah faham.
"Lo gak akan pernah tau kalau rasanya nggak di anggap orang tua sendiri. Buktinya, sampai sekarang gue merasa gak penting di hidup mereka," sahut Rendi tetap pada pendiriannya.
Setelah mendengar semua penjelasan dari Rendi, Aqila terus mengkhawatirkannya. Bahkan dia lupa dengan semua masalah yang menimpanya hari ini.
__ADS_1