
"Apa gue terima aja penawaran Nadya?" batin Adhim, dia tidak bisa berpikir apapun lagi
selain menerima Nadya sebagai pacarnya.
"Oke, gue terima tawaran lo," ucap Adhim terpaksa, hanya itu satu-satunya mencari keberadaan Aqila. itu pikirnya.
"Beneran?" tanya Nadya sangat antusias sekaligus tidak menyangka kalau hari ini Adhim akan resmi jadi pacarnya.
"Kenapa lo terima sih? Lo kan tau gimana karakter Nadya," bisik Hans dan langsung melihat ke sembarang arah.
"Gue gak punya pilihan lain," balas Adhim yang berbisik juga.
"Terserah lo deh. Mending gue cari bebep Cika dari pada di sini gak jelas," gumam Hans dan pergi meninggalkan Adhim bersama ketiga cewe itu.
"Eh, lo mau ke mana?" teriak Adhim yang melihat Hans pergi begitu saja tanpa mengajaknya.
"Kemana aja, yang penting nggak ketemu sama tu tiga cewe," sahut Hans yang tidak menoleh ke belakang sedikitpun dan kedua tangannya yang berada di belakang kepalanya.
"Emang kita apaan!" gerutu Sarah kesal, kedua tangannya dilipatkan di depan dada.
🍁🍁🍁
"Kita harus bicarakan semuanya ke Adit," usul Siska yang sedang berjalan berdua bersama Fatih.
"Tapi, apa dia akan percaya?" tanya Fatih ragu.
"Dia pasti percaya, kita yakinin dia kalau perkataan kita semua fakta," ujar Siska meyakini pacarnya itu.
"Ya udah, kita cari dia sekarang. Kalau rencana ini gagal, kehidupan Adhim, Adit dan Aqila pasti tidak akan selesai juga," jelas Fatih bersemangat, keduanya mencari ke seluruh sekolah tapi tidak menemukannya juga.
"Gimana ini? Gue sama sekali gak nemuin dia di mana-mana," gumam Siska, napasnya sudah terengah-engah.
__ADS_1
Akhirnya dia memilih istirahat terlebih dahulu di kursi ujung parkiran.
"Adit!" teriak Siska dari kursi itu saat melihat Adit berjalan menuju mobilnya.
"Adit!" Siska kembali berteriak sambil melambaikan kedua tangannya, tetapi Adit masih tidak mendengarnya dan tetap berjalan menuju mobilnya.
"Kaya ada yang manggil gue," gumam Adit dan memutarkan bola matanya melihat ke sekeliling tidak menemukan seseorang di sana.
"Mungkin perasaan gue aja ya," pikir Adit dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
"Tu orang budeg apa pura-pura gak denger sih? Jadi gue yang cape teriak terus-terusan," gumam Siska kesal, tak lama kemudian Siska melihat mobil Adit berjalan keluar sekolah.
"Dia kemana? Gue harus ikutin dia, siapa tau dapet informasi lebih banyak." Dengan cepat, Siska berlari keluar sekolah dan menunggu taksi di sana.
"Ih! Kok gak ada sih taksinya? Keburu jauh tu mobil," ucap Siska panik. Tak lama kemudian ada satu taksi yang berhenti tepat di depannya.
Belum sempat Siska membuka pintu taksi itu, ada mobil mewah yang masuk ke sekolahnya. Sebelumnya Siska belum pernah melihat mobil dan orang yang ada di dalamnya, sehingga dia menatapnya heran.
"Cepet kejar mobil itu, Pak," suruh Siska kepada sopir taksi itu.
"Baik," jawabnya ramah. Dengan kecepatan di atas rata-rata, taksi itu melaju dengan kencang dan berhasil menyusul mobil Adit.
"Berhenti di sini, Pak." Sopir itu memberhentikan mobilnya tepat di depan cafe xx yang cukup ramai di kunjungi banyak orang.
"Adit ngapain ke sana?" ucap Siska terheran-heran. Tanpa berpikir panjang, Siska keluar dan mengikuti Adit masuk ke cafe tersebut.
Siska masuk ke cafe tersebut dan duduk di salah satu kursi yang menurutnya cocok untuk menguping pembicaraan mereka.
"Permisi, mba mau pesan apa?" tanya seorang pelayang cafe tersebut tiba-tiba.
"Minuman yang paling enak di sini," ucap Siska tanpa menoleh ke arah pelayanan itu. Tak lama menunggu, minuman dengan aroma yang khas sudah di simpan pelayan itu di depan Siska.
__ADS_1
"Gak salah gue milih minuman, ini enak banget, sumpah," puji Siska yang tengah menyeruput minuman itu.
"Cewe itu siapa? Kenapa akrab banget sama Adit?" gumam Siska yang semakin penasaran.
"Gue gak bisa denger pembicaraan mereka lagi, apa gue lebih deket aja ya?" ucap Siska dan memilih bangku yang lebih dekat dengan keduanya.
Belum sempat Siska berpindah tempat, Adit mendekatinya.
"Dia ke sini?! Aduh gimana ni," kata Siska panik, akhirnya dia menutup mukanya dengan daftar menu yang ada dihadapannya.
Siska bernapas lega, saat dia melihat Adit pergi bukan ke arahnya, melainkan ke luar cafe tersebut.
Siska langsung berjalan mengikuti Adit ke luar cafe tersebut. Tanpa sengaja, dia menabrak seseorang.
"Kalau jalan tu liat-liat," ucap seorang laki-laki itu kesal.
"Maaf-maaf, gue gak sengaja." Siska tidak lagi menghiraukan laki-laki itu dan memilih pergi dari sana secepatnya.
"Aneh tu cewe," gerutu laki-laki tersebut melihat Siska yang gerak-geriknya mencurigakan.
Sesampainya di parkiran cafe tersebut, Siska membulatkan matanya saat melihat mobil yang cukup pamiliar baginya.
"Bukannya ini mobil yang tadi ke sekolah ya? Ngapain mobil ini ada di sini?" ucap Siska yang pikirannya semakin penuh dengan tanda tanya.
"Orang yang gue tabrak, gue kaya pernah liat dia, dimana ya?" Siska memutar ingatannya ke suatu tempat di mana dia pernah bertemu orang itu.
"Gue inget! Jadi, dia yang punya mobil ini? Tapi, ngapain dia ke sini?" beberapa pertanyaan itu terus menghantui Siska, akhirnya Siska mengintip dari kaca jendela besar cafe tersebut agar rasa penasarannya tidak menumpuk dan memutar bola matanya untuk mencari keberadaan laki-laki tersebut.
Tak perlu satu menit, Siska menemukan laki-laki itu sedang berbincang dengan orang yang sama yang Adit temui tadi.
"Sebenarnya siapa sih mereka?" gumam Siska yang pikirannya sudah di penuhi banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa di jawabnya secara langsung.
__ADS_1
Akhirnya Siska memilih untuk kembali ke sekolah dan mengabari Fatih semua yang ia alami ini.