
"Bentar gue ada telpon nih." Nadya berdiri dan menjauh dari kedua temannya.
"Udah gue duga kalau mereka pelakunya," gumam Adhim.
Tanpa berpikir panjang Adhim langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan ke arah Nency dan Sarah. Baru beberapa langkah Adhim berjalan, Aqila langsung menarik tangan Adhim.
"Jangan gegabah. Siapa tau mereka bukan pelakunya, kita tunggu aja di sini. Kalau mereka benar pelakunya, nanti baru kasih tau yang lain. Gimana?" usul Aqila.
"Kenapa gak sekarang aja? Kita kan udah ada bukti kalau mereka pelakunya, La." Adhim melepas tangan Aqila dan memegang kedua pundak Aqila.
"Udah kamu di sini aja, oke," sambung Adhim dan langsung menghampiri Nency dan Sarah.
"Tapi—" Cegah Aqila, tapi tidak di pedulikan oleh Adhim.
"Telpon dari siapa, Nad?" tanya Sarah penasaran.
Ketika Adhim melihat Nadya hampir melihatnya, Adhim dengan cepat kembali ke tempat persembunyiannya.
"Ada apa?" Aqila kaget dengan Adhim yang tiba-tiba berdiri di depannya.
"Hampir aja Nadya liat aku," tukas Adhim dan melanjutkan penyelidikannya.
"Biasa," balas Nadya seadanya. Dari wajahnya Nadya tampak cemas, entah apa yang sedang di cemaskan Nadya. Nadya terus melihat ke sana ke mari dan berbisik, "Sar. Adhim sama Aqila ada di sini, jadi lo jangan sampai keceplosan, oke. Kasih tau Nency."
"Tau dari siapa lo kalau Adhim sama Aqila di sini?" tanya Sarah terheran-heran.
"Udah kasih tau aja Nency soal ini, cepet!".
"Oke, Nad," balas Sarah, dia langsung berbisik kepada Nency.
"Kenapa mereka bisik-bisik gitu?" tanya Aqila kepada Adhim bingung.
"Gue juga gak tau, tapi kita liat aja nanti," tukas Adhim sambil menyelidiki gerak-gerik mereka.
Setelah Nadya tau keberadaan Adhim dan Aqila, perannya sebagai tokoh lama di mulai.
"Tapi gue kasian juga sama dia, kita sering jahatin dia. Gue jadi merasa bersalah," jelas Nadya dengan rasa bersalahnya.
"Kenapa Lo malah kasian sama dia, Nad? Bukannya Lo benci banget sama Aqila?" tanya Nency bingung.
"Lo jahat banget sih. Kasian tau Aqila. Kita minta maaf aja gimana?" Sarah angkat bicara.
__ADS_1
"Boleh juga tuh," sahut Nadya cepat sambil tersenyum.
"Kalian aja, gue sih gak mau," tukas Nency, melipat kedua tangannya di dada.
"Gimana kalau lo di perlakukan sebaliknya? Apa lo mau gitu. Hah!" Nadya mulai kesal dengan sikap Nency.
"Ya udah. Iya, gue mau," ucap Nency terpaksa.
"Ya udah yu, kita cabut aja dari sini," kata Nadya dan ketiganya keluar dari cafe tersebut.
"Udah Aqila bilang, Kan. Kalau kak Nadya, kak Sarah dan kak Nency itu gak bersalah. Buktinya mereka mau minta maaf ke Aqila," jelas Aqila, keduanya keluar dari tempat persembunyiannya.
"Nggak, aku gak percaya. Pasti ada yang ngasih tau mereka, kalau kita di sini." Adhim tetap mencurigai Nadya dan kedua temannya itu.
"Tapi Adhim—" Belum selesai Aqila berbicara Adhim langsung menyergahnya.
"Kenapa si lo selalu belain mereka terus? Padahal mereka udah sering jahatin lo, La! Kalau mereka benar pelakunya apa Lo bakal maafin mereka? Hah! Jawab, La!" bentak Adhim. Sontak membuat orang yang berada di cafe itu menoleh ke arah mereka.
"Kenapa Adhim bentak Aqila?" tanyanya lirih. Air matanya seketika menetes, karena tidak pernah ada yang membentaknya sekalipun keluarganya. Aqila menundukkan kepala karena tidak sanggup melihat Adhim yang berada tepat di depan wajahnya.
"Ak— aku gak bermaksud un—" Belum sempat Adhim berbicara, Aqila sudah berlari ke luar cafe tersebut.
"Aqila maafin aku ... "ucap Adhim pelan.
"Aqila cuman gak mau berburuk sangka sama orang lain. Kenapa Adhim bentak Aqila? Hiks ... hiks ... " sahut Aqila yang masih menangis.
"Aku gak bermaksud gitu ... maafin aku ya. Aku bicara seperti itu tadi karena aku sa—" Adhim langsung menghentikan perkataannya.
"Apa?" tanya Aqila sambil mendongakkan kepalanya dan menghapus air matanya.
"Nggak jadi," ucap Adhim sambil memperlihatkan gigi putihnya itu.
"Di maafin gak nih?" tanya Adhim sambil menggoda Aqila.
"Iya di maafin kok," sahut Aqila sambil tersenyum.
"Nah gitu dong senyum. Kalau senyum kan lebih cantik," goda Adhim sambil menghapus air mata yang masih tersisa di pipi Aqila.
"Udah ah. Kita ke sekolah aja yuk," ajak Aqila, Adhim mengangguk dan melajukan motornya pergi dari cafe itu.
Tak perlu waktu lama, hanya waktu lima menit saja, untuk sampai ke sekolah SMA Nusantara.
__ADS_1
"Kamu jangan khawatir. Aku janji akan nemuin pelakunya," jelas Adhim dengan yakinnya.
Aqila tersenyum dan berkata, "Iya makasih untuk semuanya."
Ketika sedang berjalan melewati koridor kelas, ada yang memanggil Aqila dari belakang. Ternyata itu Siska dan yang lainnya.
"Ada apa?" tanya Aqila terheran-heran.
"Tadi kita lihat, si Nadya itu sama kedua temannya pergi ke cafe deket sekolah. Kalian ketemu sama dia?" tanya Siska penasaran.
"Tadi kita sempat curiga sama mereka, tapi ketika kita selidiki lebih dalam. Ternyata mereka gak bersalah, malah mereka tadi mau minta maaf sama Aqila," jelas Aqila dengan rincinya.
"Oh ya? Tapi gue masih gak yakin kalau si Nadya itu gak bersalah," Siska masih tetap mencurigai Nadya.
"Iya tuh bener kita juga gak percaya," kata yang lainnya bergantian.
"Rendi sama Hendrik kemana?" tanya Aqila yang baru sadar kalau Rendi dan Hendrik tidak ada di antara mereka.
"Rendi, tadi katanya ada urusan. Tapi gak tau deh. Kalau Hendrik, dia tadi di panggil ke ruang guru. Kayaknya ngebahas soal pemilihan ketua OSIS nanti deh," jelas Siska.
"Ya udah kita mau ke kelas dulu ya. Bye," pamit Adhim kepada semuanya.
"Iya. kita juga masuk kelas yuk," Belum sempat Siska menjawabnya, Aqila langsung menarik tangan Siska masuk ke dalam kelas.
🍁🍁🍁
"Untung aja kamu ngasih tau aku. Kalau Adhim sama Aqila ada di cafe tadi. Kalau nggak ... gak tau deh gimana nasib aku nantinya," kata Nadya yang berada di pelukan seorang laki-laki.
"Iya lah. Aku tuh gak mau kalau kesayangan aku ini keluar dari sekolah ini, " balas laki-laki tersebut sambil mencubit pelan pipi Nadya.
"Gimana kalau nanti aku ketahuan, kalau sebenarnya aku yang nyebarin berita hoaks itu?" Nadya mulai cemas memikirkan itu.
"Tenang aja, soal itu nanti aku yang urus. Oke," sahut laki-laki tersebut sambil memeluk Nadya lebih erat.
"Makasih ya sayang kamu memang yang terbaik," ucap Nadya, melepaskan pelukannya dan langsung mencium pipi laki-laki itu.
"Ya udah aku balik ke kelas ya. Takutnya ada yang curiga. Bye, Sayang." Laki-laki tersebut berjalan meninggalkan Nadya sendirian di sana.
Mau tau kelanjutannya? Tunggu di chapter selanjutnya. Jangan lupa juga like, komen, beri saran dan vote juga. 🤗
Terima kasih untuk para Readers udah membaca dan setia di novel ini. 🙏😍😊
__ADS_1